UTS ku On Time
- Maret 31, 2018
- by
Jika ada yang
salah dengan tingkah laku ku..
Bukan karena
islam yang mengajarkan
Namun karena
aku hanyalah manusia yang tak luput dari kekhilafan
Jika ada yang
salah dalam perkataan ku..
Bukan islam
yang mencontohkan
Namun karena
aku yang belum dapat mengendalikan
Islam sudah
sempurna, namun pemahaman ku tentangnya yang belum sempurna
(Hamba Allah)
Senin, 27 April 2015
Hari
ini adalah hari ujian tafsir Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) ku yang ke
lima. Aku terbangun pada saat jam dinding menunjukkan pukul 03.26 dini hari.
Aku teringat bahwa ini adalah hari senin, hari di mana umat muslim disunahkan
untuk berpuasa. Telah ku niatkan puasa hari ini sejak tadi malam. Membiasakan
diri untuk menjalankan
sunah Rasulullah telah diajarkan orang tua ku sejak aku
kecil. Abah dan mama hampir tak pernah meninggalkan sunah Rasulullah yang satu
ini.
Ku
singkap selimut tebal yang membungkus tubuh ku, lalu ku langkahkan kaki untuk
pergi ke kamar mandi walaupun hanya untuk sekedar cuci muka dahulu. Saat menuju
kamar mandi, ku lihat Fiska, tetangga sebelah ku membawa beras untuk dimasak.
Kami baru akan memasak nasi karena semalam ketiduran.
Sesampainya
aku di kamar mandi, yang ku dapatkan air mengalir sangat kecil. Ini
adalah pertanda bahwa air di tandon kosong. Aku kembali ke kamar untuk memakai
jilbab, lalu menyalakan pompa air yang berada di lantai satu. Pompa tersebut
memiliki ruangan tersendiri. Luasnya kira-kira 10x10 m2, ruangan itu terletak
di pojok kanan bawah, tepat di depan tangga belakang menuju jemuran. Dalam
ruang pompa itu pula, biasanya sandal sitaan kami disimpan. Ya, biasanya setiap hari jumat ada razia sandal yang ditinggalkan
pemiliknya di luar dan tidak dimasukkan ke dalam loker sandal.
Selesai
menyalakan air, aku ke kamar mandi untuk berwudu. Setelah berwudhu, aku mendirikan
salat tahajud 2 rakaat dan salat hajat 2 rakaat. Walaupun dengan jumlah rakaat
yang masih sedikit, aku selalu mencoba untuk merutinkan salat malam ini.
Selesai salat, aku pergi ke kamar sebelah, yaitu kamarnya Fiska untuk sahur
bersama, dan kebetulan juga ia telah menyelesaikan salat malamnya.
Kami
sahur dengan ikan mujair yang diberikan senior kami tadi malam sewaktu rapat
laporan pertanggung jawaban acara besar kami yaitu D’Sun (Dari
Santri Untuk Negri). Perlu diketahui bahwa acara ini adalah acaraDies
Nataliesorganisasi kami, yang anggotanya adalah para mahasantri nusantara.
Selesai
sahur, aku tak langsung mandi. Karena aku pernah membaca sebuah artikel online
yang isinya adalah 10 larangan setelah makan. Salah satunya adalah mandi. Yang
aku ingat dari akibatnya adalah akan membekukan isi perut dan bisa
mengakibatkan perut buncit. Sambil menunggu waktu subuh, Fiska pergi mandi dan
aku membaca materi yang akan diujikan hari ini sambil mengulang hafalan ayat
yang akan diujikan pula.
Tak
lama setelah azan subuh berkumandang, dan Fiska juga telah selesai dari ritual
mandinya. Kami pun menyiapkan diri untuk salat subuh berjamaah. Selesai salat
subuh berjamaah, aku memutuskan untuk mandi dan Alhamdulillah ada
kamar mandi yang kosong. Selesai membersihkan diri dengan mandi, aku
bersiap-siap untuk pergi intensif.
Tak
lama setelah itu, aku memanggil Rapikah untuk pergi intensif bersama karena
kami satu kelas. Sesampainya di kelas, aku kaget karena tak seorang pun berada
di sana. Aku kaget karena ini tak seperti biasanya. Ya, aku memang berangkat
lebih awal pagi ini karena akan diadakannya ujian tengah semester. Biasanya aku
dan Rapikah datang terlambat. Aku sempat berpikir bahwa kelas ku digabung
dengan kelas lain. Tapi, apa yang aku pikirkan terjawab oleh datangnya
teman-teman ku yang lain dan mereka langsung mengambil posisi duduk terenak di
dalam kelas.
Lima
menit kemudian, dosen datang membawa soal. Dosen ku adalah salah satu lulusan
Kairo juga. Beliau memiliki kemampuan bahasa Arab dan Inggris yang luar biasa.
Yang aku salutkan dari dosen ku yang satu ini adalah beliau mampu mengimbangi
kemampuan bebbahasa Arab dan Inggrisnya. Beliau memiliki sebuah tempat untuk
kursus belajar Bahasa Arab dan Inggris.
Setelah
semua soal terbagi, aku mulai mengerjakan soal satu persatu. Soal yang
diberikan banyak sekali. Ada sekitar sepuluh lembar dan itu semua memakai
bahasa Arab. Tak ada bahasa Indonesia satu huruf pun. Soal yang pertama ku
kerjakan adalah qiraah. Qiraah yang pertama, pernah ku
dapatkan isinya saat aku duduk di kelas 2 madrasah tsanawiyah di
pondok dulu.
Paragraf
tersebut bercerita tentang seorang penggembala domba. Usianya sekitar sepuluh
sampai lima belas tahun. Penggembala tersebut adalah orang yang jail dan iseng.
Suatu hari, saat sedang menggembalakan dombanya, ia tiba-tiba berteriak,
“serigala.. serigala !!!”. Para penduduk pun keluar sambil membawa tongkat
untuk membantu sang penggembala tersebut. Namun, yang didapatkan penduduk
adalah penggembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu dan
membuat panik penduduk sekitar. Para penduduk pulang dengan perasaan marah dan
tidak akan menolong pemuda itu lagi. Di hari berikutnya, serigala benar-benar
datang untuk menyerang domba-domba penggembala. Penggembala muda itu berteriak
ke sana kemari untuk meminta bantuan. Namun, tak ada satupun penduduk desa yang
datang. Hal ini dikarenakan para penduduk sudah tak percaya lagi kepada pemuda
tersebut. Penggembala muda itu menyesal karena telah mempermainkan penduduk
seperti kemarin. Ia berjanji untuk tidak mengulang perbuatan tersebut di
hari-hari berikutnya. Namun apalah daya, kepercayaan penduduk sudah hilang dan
disia-siakan begitu saja oleh sang pemuda.
Dari
cerita ini dapat diambil pelajaran bahwa kepercayaan itu bagaikan sebuah
kertas. Apabila kepercayaan tersebut dirusak, maka bentuknya tak akan kembali
seperti semula. Begitupula dengan kertas. Apabila ia diremas, maka bentuknya
tak akan kembali seperti semula. Disini dapat aku beri kesimpulan bahwa apabila
telah dipercaya, maka genggam kepercayaan itu dan jangan sampai
menyia-nyiakannya. Karena ia tak akan dua kali.
Untuk
cerita itu sendiri terdapat 10 soal. Soal-soal berikutnya masih dalam
bentuk qiraah. Dan terdapat tiga makalah qiraah dalam
bentuk cerita yang berbeda. Jika dijumlahkan untuk soal qiraah sendiri
terdapat 40 soal. Selanjutnya soal tarkib yang berjumlah 45
soal, rattib 2 soal, al kitabah 3
soal. Jadi jumlah soal yang kami kerjakan pagi ini ada sekitar 100
soal. Aku sendiri belum sempat mengerjakan satu soal dari al kitabah.
Al kitabah adalah soal mengarang paragraf dari gambar atau clue yang diberikan. Sedangkan rattib adalah
menyusun beberapa kata atau kalimat sehingga membentuk paragraf atau
kalimat yang baik dan benar. Tarkib adalah soal
yang berisi tentang pelajaran nahu dan sharf. Lalu qiraah adalah
cerita-cerita, makalah, atau potongan dari artikel atau makalah dan ada
beberapa soal yang harus dijawab yang berkaitan dengan bacaan tersebut.
Selesai
mengumpulkan lembar soal dan jawaban, Pak Abdullah Syarif (dosen yang ku maksud
dalam tulisan ini) menutup pertemuan kami pagi itu. Setelah itu aku melarikan
diri menuju kelas selanjutnya yang akan aku masuki. Kelas ku masih berada di
lantai dua gedung A fakultas Dakwah dan Komunikasi. Kelas yang akan
aku tuju tepat berada dibelakang tangga besar yang terletak tepat ditengah-tengah
gedung A. Sebelum sampai ke kelas, aku melihat beberapa orang berkumpul di
depan kelas yang akan aku masuki. Semakin dekat jarak ku dengan sekumpulan
orang itu, aku semakin menyadari bahwa yang sedang berkumpul di sana adalah
teman ku sendiri, dan seorang dosen yang sangat ku kagumi pengetahuan dan
kebijaksanannya. Beliau adalah Ustadz Ainul Yaqien Lc. Beliau juga merupakan
jebolan dari Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. Beliau sendiri adalah asisten
dari dosen hebat kami yaitu Prof. Mohammad Ali Aziz, M.Ag.
Bertemu
dengan kedua orang hebat tersebut sangat membantu dan memotivasi kami khususnya
aku sendiri dalam menjalani perkuliahan dan kehidupan ku. Dengan wawasannya
yang seluas alam semesta itu, ustad Ainul Yaqien sering membagi pengalaman dan
pengetahuan yang beliau dapatkan. Beliau sangat bersemangat sekali jika kami
sudah membahas tentang kepribadian Rasulullah, dakwah beliau, dan semua tentang
Rasulullah lainnya. Pertama kali melihatnya, kami mengira bahwa beliau sudah
menikah. Namun ternyata beliau masih sangat muda dan belum menikah. Asisten
dosen yang lahir tahun 1992 ini mengambil jurusan tafsir hadits di Kairo.
Beliau bercerita banyak tentang Mesir, Kairo, Al-Azhar, dan banyak hal lainnya
yang belum pernah kami ketahui sebelumnya. Salah satunya adalah sistem
perkuliahan yang sangat jauh berbeda dengan sistem-sistem yang ada di
Indonesia.
Setelah
beliau masuk ke kelas, kami langsung duduk rapi, lalu memanjatkan doa kepada
Sang Maha Kuasa atas segala urusan dan kelancaran kegiatan perkuliahan kami
khususnya pada ujian kami pagi ini. Entah mengapa pagi ini aku lebih merasa
percaya diri dari sebelum-sebelumnya. Pagi ini lebih ku pasrahkan saja semuanya
kepada Allah swt.
Hari Sabtu kemarin, aku
menghadiri kelas tambahan dari ustad Ainul yaqien yang diadakan disampin
auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya. Yang hadir tidak sampai 20 orang karena
masing-masing disibukkan oleh kegiatan organisasi kami juga yaitu
CSS mengabdi yang dilaksanakan di kota Jombang, Jawa Timur.
Ustadz
Ainul Yaqien meminta kepada kami perwakilan dari yang pergi ke Jombang kemarin,
untuk menceritakan apa saja yang dilakukan di sana. Karena beliau membuka
perkuliahan tadi dengan bahasa Arab, bal hasil, teman yang akan bercerita nanti
harus bercerita dengan bahasa Arab juga. Tak butuh waktu lama untuk menunggu
siapa yang akan bercerita, akhirnya kosma kami, Rahmat Faisal Nasution maju ke
depan untuk bercerita. Faisal memang memiliki sesuatu yang dapat membuat kami
tertarik untuk mendengar apa saja yang ia ceritakan.
Walaupun
ia bercerita dengan bahasa Arab, namun ia dan juga kami sangat menikmatinya.
Sesekali ia menyelipkan humor dalam ceritanya. Tapi dapat dikatakan tak hanya
sesekali, ia bahkan membuat semuanya terasa lucu. Seperti yang ia ceritakan
bahwa ada salah seorang dari senior kami yang pingsan pada saat melaksanakan
senam salat. Padahal itu baru masuk gerakan pertama. Tapi ini juga bisa
dikarenakan sang instruktur yang memberi hitungan 8 di setiap gerakannya.
Padahal, biasanya kami hanya sampai pada hitungan ke-5.
Selesai
Faisal bercerita, ustad Ainul Yaqien meminta seorang lagi namun untuk kali ini
perwakilan dari yang putri. Sofiatul Jannah pun maju untuk memenuhi permintaan
tersebut. Dalam hati aku tak yakin jika mbak Sofi akan bercerita seperi apa
yang akan diceritakan oleh Faisal. Dan ternyata hal itu benar. “Tak ada yang
berbeda cerita kami dari cerita Faisal” kata Sofi dalam bahasa Arab yang masih
kental akan dialek maduranya.
Tak
lama setelah itu, ujian pun dimulai. Namun ujian kali ini berbeda dengan
ujian-ujian sebelumnya. Ujian kali ini kami hanya akan diberi 20 soal. Bukan
karena apa-apa, tapi memang karena materi yang tidak banyak seperti sebelumnya.
Lalu, Prof. Ali masuk ke kelas saat soal memasuki nomor ke-11. Beliau terlihat
rapi seperti biasanya. Namun kali ini beliau memakai kemeja putih dengan corak
garis ungu vertikal. Tak ketinggalan, di tangan beliau selalu ada kertas
ataupun buku. Kedatangan beliau tak mengganggu konsentrasi kami. Justru kami
merasa lebih bersemangat.
Soal
terakhir pun sudah di jawab. “Ustadz, untuk kali ini ujiannya dikoreksi
sendiri-sendiri saja” ucap prof. Ali. Setelah semuanya selesai dikoreksi dan
nilai telah dimasukkan ke dalam absensi, prof. Ali membagikan kami sesuatu.
Walaupun hanya selembar kertas, isinya sangat membantu. Dalam kertas itu, prof.
Ali menuliskan beberapa tips agar bisa menulis banyak. Kuncinya adalah,
tidak melupakan 5W 1H. What, who, where, when, why, dan how.
Tak
hanya itu, prof. Ali selalu membuat kalimat-kalimat sederhana yang berhasil
membuat kami sangat termotivasi dan tidak menyesali apa yang telah terjadi.
Contohnya saja sewaktu selesai ujian tadi. Melihat beberapa kawan yang nilainya
menurun, prof. Ali selalu mengingatkan kami bahwa yang dilihat Allah bukanlah
hasil, tetapi usahanya. Tugas ku sebagai mahasiswa hanyalah berdoa, belajar,
berdoa, belajar. Itu saja. Lantas, mengapa semuanya terasa sangat sulit? Yang
dapat ku tangkap adalah karena beban-beban yang seperti tak ingin hilang dari
kepala. Bisa saja kita buat semuanya menjadi indah dan mudah, caranya adalah jangan
dijadikan beban, tapi jangan juga dianggap santai. Yang namanya kewajiban
tetaplah kewajiban.
Beberapa
saat kemudian, kawan ku yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah mengajukan
pertanyaan “prof. mendisiplinkan diri juga merakan kunci dari kesuksesan kan
prof.? Lalu bagaimana jika saya menunda salat saya karena telah disiplin dalam
belajar? Lalu apakah saya boleh tidak makan pada saat belajar, karena jika saya
makan, dan saya merasakan kekenyangan, maka saya akan
mengantuk prof.?”
Dengan
wibawa yang luar biasa beliau menjawab pertanyaan teman ku tadi “ya jelas tidak
boleh kalau kamu menunda waktu solat” lalu dengan ekspresi menahan tawa beliau
menjawab pertanyaan kedua “lebih baik kamu hidup, tapi nggak pinter” jawab
beliau yang tadinya menahan tawa, kini tertawa lepas. Ya, pertanyaan kedua dari
teman ku yang satu itu memang mengundang tawa, tapi kami menahannya.
Iva
namanya. Gadis dari sebuah desa di daerah Kudus, Jawa Tengah. Awal aku
melihatnya, aku telah melihat auranya yang cerewet alias banyak tanya. Namun
pertanyaan yang diajukannya, terkadang menciptakan tawa kami pada saat di
kelas. Yang aku lihat, ia masih seperti anak kecil. Postur tubuhnya juga
mendukung pernyataan ku. Meskipun ia terkadang terlihat seperti anak kecil, hal
itu tidak membuat dirinya manja. Ia memiliki seorang adik yang memaksanya
membuang jauh-jauh kemanjaan itu.
Pelajaran
hari ini berhasil membuat ku membuat memo dua halaman untuk diri ku sendiri.
Kemana-mana harus bawa kertas sama pulpen. Itu yang dapat ku simpulkan dari
cerita prof. Ali saat beliau bercerita mengenai keberangkatan beliau ke
Singapura. Pada saat sampai di Singapura, beliau menanyakan nama salah seorang
penduduk setempat. Untuk apa? Untuk beliau tulis nanti. “Hari ini saya bertemu
dengan Kim Jang ... ”. Wah Bener juga ya. Hati kecil ku
mengiyakan.
“Jangan
pernah sekalipun kamu menyesali hasil. Itu haram”. Wah wah kenapa bisa
seperti itu? Setelah ku pikirkan lagi, ternyata memang benar. Untuk apa
menyesali hasil? Toh, sudah lewat juga. Tidak menyesal bukan berarti
tak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Justru menyesal itu harus kita ganti
dengan janji bahwa untuk kesempatan selanjutnya tidak akan pernah mengulangi
dan jatuh di kesalahan yang sama lagi. Tak cukup jika hanya berjanji saja. Untuk
apa berjanji jika tidak ditepati. Bukankah janji diciptakan untuk ditepati.
Janji adalah utang bukan?
Sebagai
mahasiswa, apalagi seperti ku yang merantau ke tanah Jawa ini, tugasnya
hanyalah belajar, berdoa, belajar, berdoa, itu saja. Belajar dan berdoa serta
berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk orang tua, keluarga, ustad,
ustadzah, dan teman-teman di Balikpapan. Aku sadar tanggung jawab ku sangat
besar. Begitu banyak beban yang ku pikul di bahu ku.
Ah,
berbicara tentang beban aku menjadi teringat lagi cerita prof. Ali sewaktu
berada di sebuah sekolah dasar di Singapura. Beliau memberi tahu salah seorang
pengajar di sekolah itu bahwa jangan pernah menyalahkan apa yang ditulis oleh
anak. Hanya kalimat sederhana bukan? Tapi makna dan hasil yang di dapat tak
sederhana. Hasilnya murid-murid di sekolah tersebut saja bisa menulis. (menulis
yang ku artikan di sini bukanlah menulis dengan menggunakan pena atau pensil.
Bahkan ada wali murid yang memposting tulisan anaknya di media sosial, dan mengatakan
bahwa postingan tersebut adalah hasil dari anaknya. Lalu prof. Ali menambahkan
kepada kami “anak SD saja bisa menulis. Mengapa kalian tidak?” tanya beliau.
Kami sadar, lalu kami menjawab “karena mereka tak punya beban ustad”. “Benar
sekali. Jadilah anak SD yang tidak mempunyai beban”. Lalu aku menambahkan ke
dalam diriku sendiri “jangan merasa kalau kamu punya beban, rasakan saja kamu
harus bertanggung jawab”.
Bagi
ku beban dan tanggung jawab adalah beda. Jika mendengarkan kata beban saja,
hati ku langsung terasa penuh, dan kepala ku langsung berat. Namun apabila aku
menyebutnya sebagai tanggung jawab, maka aku akan merasa seperti orang yang
harus menyelesaikan pekerjaan itu.
Kebanyakan
orang membenci hari senin. Tapi aku tidak. Kenapa? Karena di hari senin aku
akan bertemu orang-orang hebat, aku klan bertemu kembali dengan teman-teman ku
yang nan-nano itu. Walaupun di hari senin akan ujian, aku tetap harus
bersemangat. Karena aku akan mendapatkan motivasi-motivasi dan banyak pelajaran
yang belum aku ketahui sebelumnya. Di mata kuliah prof. Ali ini, aku selalu tak
bisa berhenti tersenyum saat beliau berbicara. Malahan terkadang aku menitikkan
air mata entah karena haru atau karena aku menyesali banyak waktu yang ku buang
sia-sia.
Terkadang
beliau menyisipkan humor di setiap pelajaran yang beliau sampaikan. Salah
satunya, beliau bercerita pada saat beliau akan pulang ke rumah yang ternyata
keterusan sampai Banyuwangi. “ini adalah yang namanya dikasi lebih tapi gak
mau”. Kata beliau. Beliau mengantuk. Beliau juga mengakui bahwa beliau
adalah tipe orang yang suka mengantuk. Jika cepat mengantuk adalah salah satu
penghalang kita untuk menulis, mengapa tak kita coba saja untuk membuang dan
menghilangkan rasa kantuk dan suka mengantuk itu jauh-jauh. Prof. Ali saja
bisa, mengapa kita tidak?. Kita memakan bahan pokok yang sama, kita memiliki
kesempatan yang sama dalam setiap harinya yaitu 24 jam sehari. Lalu menunggu
apalagi untuk menulis. Para penulis besar pun juga begitu. Mereka juga diberi
kesempatan hidup 24 jam sehari. Mereka mampu menulis buku-buku Best
seluler bahkan buku itu difilmkan. Seperti Asma Nadia, Aguk Irawan,
Hanum Salsabila Rais, dan beberapa penulis hebat lainnya yang tak bisa ku
sebutkan satu persatu.
Terlalu
banyak hal yang aku kagumi dari sosok Prof. Mohammad Ali Aziz, M.Ag ini. Saking
sayangnya beliau kepada mahasiswa-mahasiswanya. Beliau mendatangkan orang yang
memang ahli di bidangnya. Seperti kemarin, beliau mendatangkan kru dari TVRI
untuk mahasiswa jurusan Komisi Penyiaran Islam. Begitupula dengan kami, beliau
akan mendatangkan kami guru besar dari Mesir. Ya Allah, demi apa beliau
rela melakukan hal itu jika bukan karena beliau ingin menjadikan kami orang
yang hebat. Kabulkanlah keinginannya Ya Allah. Sungguh kami tak ingin
mengecewakan beliau. Dan berilah beliau balasan, sebaik-baiknya balasan. Amin.
Karena
beliau tak bisa berlama-lama di kelas kami, akhirnya beliau pun mengundurkan
diri. Kemudian pelajaran dilanjtkan oleh ustad Ainul Yaqien. Kami membahas
tentang ayat yang diujikan tadi. Jika yang diujikan tadi hanya satu tafsir,
maka sejarang kami membahasnya tiga tafsir.
التربية أولها التكليف ثم جاءت التأليف
Kami
membahas tentang ayat yang melarang adanya kekerasan dalam beragama. Yaitu
surah Al-Baqarah ayat 256. Indahnya agama islam pun dirasakan oleh salah
seorang Sarjana Arab Kristen yang menulis buku Sejarah Arab. Ia
mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat yang patut menjadi anutan umat manusia.
Entah
mengapa kami tersambung ke arah pembicaraan tentang poligami. Ustad Ainul
Yaqien sendiri mengatakan bahwa poligami bukan merupakan solusi yang
disunnahkan. Namun Sunnah yang menjadi solusi. Sunnah yang di maksud di sini
bukan Lay sunah yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila ditingalkan
tidak apa-apa. Namun sunah yang dimaksud di sini adalah sunah yaitu perbuatan
yang dilakukan nabi. Nabi berpoligami pun bukan tanpa sebab. Bukan karena nafsu
atau apa. Dapat kita lihat sendiri dari istri-istri Nabi. Nabi berpoligami
bukan karena nafsu kan? Namun apa yang terjadi dewasa ini sangat berbeda jauh
dari yang dimaksudkan Nabi. Bahkan di Jakarta, tepatnya di daerah Rawamangun,
akan diadakan mu’tamar poligami. Jadi, orang-orang yang berpoligami akan
diundang dan datang ke sana. Entah apa maksud dan tujuan dari kegiatan
tersebut. Apakah mau silaturahmi atau apa. Aku sendiri pun kaget mendengar jika
akan diadakan mu’tamar poligami.
Tak
lama kemudian, azan zuhur pun berkumandang. Kami telah dipanggil Allah untuk
segera beribasdah menunaikan salat zuhur. Ustad Ainul Yaqien pun menutup
pelajaran kami siang itu. Setelah keluar kelas, aku memutuskan untuk pergi ke
gang dosen. Tapi bukan untuk membeli makanan, karena Insya Allah aku
berpuasa hari ini. Aku pergi ke sana untuk memfotokopi materi yang akan
diujikan di pekan berikutnya.
Sepulang
dari gang dosen, aku kembali ke pesmi. Aku langsung menunaikan salay zuhur,
lalu menyegerakan diri untuk menulis, menulis, dan menulis. Karena aku merasa
bahwa setiap kejadian itu penting. Dan cara untuk mengabadikan tulisan itu
adalah degan cara menulisnya. Tak peduli seberapa pening kepalaku, seberapa
lapar perutku, aku tetap menulis. Ku paksakan diri ku untuk absen dulu untuk
tidur siang hari ini (padahal juga biasanya gak setiap hari tidur siang).
Hingga datangnya waktu Ashar. Aku berhenti untuk menunaikan salat Ashar.
Setelah itu aku diajak Fiska untuk membeli makanan untuk berbuka nanti. Oke,
aku akan melanjutkan tulisan ku nanti.
Namun,
di tengah jalan menuju gang dosen, aku melihat sekumpulan orang sedang duduk di
depan fakultas ushuluddin yang letaknya tepat di depan jalan dari pesmi. Aku
tersadar bahwa hari ini adalah hari senin, hari dimana aku harus melaksanakan
kewajiban ku untuk latihan paduan suara seperti biasanya. Aku juga baru
teringat bahwa aku mendapat sms dari koordinator suara ku, yaitu mbak Reni.
Aku
tertarik dengan UKM Paduan Suara UINSA sejak pertama kali aku melihat
penampilan mereka pada saat upacara hari kemerdekaan 17 Agustus tahun lalu. Itu
adalah saat dimana aku pertama kalinya mengikuti upacara kemerdekaan di tanah
Jawa. Suara mereka sangat halus sekali. Seperti paduan suara yang aku lihat di
televisi. Saat mulai memasuki perkuliahan, tepatnya pada saat orientasi kampus
yang jika di kampus ku sendiri bernama OSCAAR (Orientasi Cinta Akadademik dan
Almamater), mbak-mbak dan mas-mas dari UKM Paduan Suara mempromosikan UKMnya.
Karena pada saat itu, setiap UKM memiliki kesempatan untuk mempromosikan UKMnya
masing-masing.
Kurang
lebih dua Minggu setelahnya baru aku berani untuk mendaftarkan diri unjuk ikut
audisi. Ya, khusus untuk UKM Paduan Suara calon anggota baru harus diseleksi.
Audisi dilaksanakan dua hari. Dan aku memilih untuk ikut audisi di hari kedua.
Karena audisinya sampai jam 9 malam, aku memilih untuk audisi selepas salat
isya. Sebelum audisi, aku di briefing dulu oleh senior di sana. Aku tak
sendiri. Ada Naima, Murni, Nadia, dan Iva. Namun, yang audisi pada malam itu
hanya aku, Naima, dan Nadia. Setelah audisi, kami menunggu giliran untuk
dipanggil dan maju untuk bernyanyi di depan para juri. Oh iya, aku
lupa jika aku juga memiliki senior dari CSS MoRA di UKM Paduan Suara ini.
Namanya mas Hilmy. Mas Hilmy dari angkatan 2011.
Dengan
detak jantung yang beraturan aku menunggu giliran yang ternyata adalah aku yang
pertama tampil. Karena pada saat itu, audisi memang sudah sepi. Aku memakai
pakaian yang rapi karena pada saat audisi ini,penampilan juga dinilai. Dengan
anggun aku naik ke atas panggung dan mulai bernyanyi. Sebelum bernyanyi, setiap
peserta juga harus bisa memegang nada solfigio (Do Re Mi). Lalu lagu wajibnya
adalah Indonesia Raya dan satu lagu bebas. Pada saat itu untuk lagu bebas, aku
menyanyikan lagu dari Balikpapan yang juga sering di nyanyikan untuk perlombaan
paduan suara.
Setelah
selesai bernyanyi, aku turun dari panggung dan menuju ruang aku akan di
wawancara. Ya, dalam wawancara itu setiap orang akan ditanya mengenai
komitmennya di UKM ini. Karena UKM ini bukanlah UKM sembarang UKM. UKM ini
dibina, dibimbing dan dilatih langsung oleh dosen yaitu Pak Amin Lubis. Sebelum
itu, pasti ada basa-basi. Entah ditanya nama, asal, kenapa ingin bergabung,
dll. Aku sendiri diwawancara oleh senior yang bertubuh gempal, sayang sekali
sampai saat ini aku tak mengetahui nama mereka. Selesai dari wawancara aku
menunggu Naima, dan Nadia untuk pulang bersama. Di depan, aku bertemu dengan
senior ku yang berasal dari CSS MoRA juga. Mengapa kami, khususnya aku senang
bila bertemu dengan anggota CSS MoRA di luar organisasi CSS MORA itu sendiri?
Karena kami di sini sudah seperti keluarga. Mungkin ini faktor sama-sama
merantau, dan jauh dari kampung halaman, orang tua, juga keluarga. Kami
mengobrol bersama sambil menunggu, senior ku juga memberi beberapa pesan
diantaranya bahwa kami harus betah jika nantinya diterima untuk bergabung
dengan UKM ini. karena pengalaman dari kakak-kakak 2012 dan 2013, banyak yang
tidak kuat dan tidak tahan. Karena UKM ini sendiri sangat disiplin. Tak butuh
waktu lama untuk menunggu mereka berdua. Mengingat sebelum jam 9 malam kami
harus sudah berada di asrama, akhirnya kami memutuskan untuk pamit dan pulang.
Hari
pengumuman lolos audisi pun tiba, bagi yang diterima akan mendapatkan smes. Aku
sendiri mendapatkan smes pada malam hari, sedangkan Naima dan Murni sudah
mendapatkan smes sejak siang. Aku mulai putus asa. Tapi aku tak akan putus asa
dari Rahmat Allah yang luasnya tak dapat dihitung itu. Aku sangat paham sekali
bahwa Allah pasti sangat paham maksud ku untuk bergabung dengan UKM Paduan
Suara itu. Allah memang akan memberi di saat yang tepat. Aku mendapatkan smes itu
pada malam harinya. Yang aku pahami dari maksud Allah memberi ku smes di malam
hari adalah agar aku terus tak berputus asa, dan untuk mengagungkan kuasa dan
keesaan Allah.
Tahu
bahwa aku diterima untuk bergabung di UKM ini, aku menjadi teringat pada salah
seorang teman ku di kelas intensif yang merendahkan ku dan meremehkan potensi
yang ada pada diriku. Entah ia hanya bercanda atau bagaimana. Yang jelas hati
saya sempat sakit pada saat itu. Aku yakinkan saja semuanya kepada Allah. Allah
tau kok mana yang baik dan tidak. Dan diterimanya aku di sini, Allah akan
memberinya pelajaran bahwa jangan pernah meremehkan seseorang entah orang itu
akan sadar atau tidak.
Mengingat
bahwa aku akan terpanggil di paduan suara pada hari senin dan rabu, sepulang
dari gang dosen aku langsung berangkat ke ushuluddin untuk latihan. Biasanya
latihan akan berakhir pada waktu magrib dan akan dilanjutkan lagi setelah
magrib sampai selesai. Tapi aku dan teman-teman yang juga tinggal di asrama,
sering mohon izin untuk pulang duluan.
Malam
itu kami latihan untuk penampilan di BKKBN. Instansi tersebut mengundang kami
setiap tahunnya. Namun, kami tetap latihan, karena practice makes
perfect. Acaranya adalah hari selasa. Sayang sekali aku sepertinya tak
dapat ikut tampil, karena siang harinya aku memiliki jadwal presentasi. Lelah
memang, tapi nanti hasilnya akan kami sendiri yang merasakannya.
Kamis, 30 April 2015
Pagi
ini ku terbangun pada jam 5 subuh. Astaghfirullah. Aku bangun
jam segitu bukan tanpa sebab. Sejak kemarin aku merasakan sesuatu yang tidak
enak di tubuh ku. Sebelum tidur ku paksakan untuk minum obat walaupun hanya
obat warung. Setelah minum obat aku ditelpon oleh kakak ku hingga ku tertidur
dan meninggalkan telepon tersebut saking ngantuk, lelah, dan beratnya hidung
dan kepala ku.
Ku
putuskan untuk mandi agar badan ku sedikit segar pagi ini, aku memutuskan untuk
mandi dulu juga karena kau akan solat berjamaah dengan teman sekamar ku yang
sedang mandi juga. Dan pada saat itu juga ada kamar mandi yang kosong.
Selesai
mandi, aku solat bersama dengan mbak Riska (teman sekamar yang ku maksud).
Setelah itu aku berpakaian untuk siap-siap pergi ke kampus. Jika dibandingkan
dengan hari kemarin, aku lebih bergegas untuk hari ini. Bahkan kemarin, jam
segini aku baru mandi. Setelah siap semua, aku menunggu Rafiqah, seperti biasa
kami pergi bersama. Tapi kali ini, sepertinya Rafiqah lebih lama dari biasanya.
Pada saat menuruni tangga, aku bertemu Febi. Kami juga sekelas. Tak menunggu
lama, ku putuskan untuk jalan pelan-pelan bersama Febi. Di tengah perjalanan,
tepat di depan fakultas Tarbiyah, yang jaraknya hanya tinggal 5 meter dari
fakultas kami yaitu fakultas Dakwah, Febi bertanya “mbak Nisa pilih opsi apa?”.
Pertanyaan itu tak langsung ku jawab. Malahan ia ku tanya balik “Lah Febi pilih
apa? Pondok ya?”. Sengaja langsung ku tebak jawabannya. Karena aku tahu dia
akan lebih memilih untuk tinggal di pondok.
Febi
adalah salah seorang teman ku yang berasal dari Bojonegoro. Tingkahnya yang
anut nan menggemaskan ditambah postur tubuhnya yang kecil-kecil cabe rawit
sering kali membuat aku dan teman-teman sangat gemas kepadanya. Perempuan yang
lahir tahun 1997 ini tamadun anak yang pintar. Entah apa yang dia makan,
sehingga ia bisa sepintar itu. Jika ditelusuri, ia sangat suka dengan pelajaran
berhitung.
Pernah
di suatu malam, saat aku belanja tafsir Al-Munir di masjid kampus ku, Masjid
Ulul Albab namanya bersama Fikri, Fiska, dan Nanang. Saat itu Febi datang
bersama Sofi. Di samping kami ada seorang mahasiswa yang meminjam pulpen kepada
Nanang dan ternyata mahasiswa itu jurusan Pendidikan Matematika. Nah, pada saat
Febi dan Sofi datang, kerjaanya yang meminjam pulpen tadi tergeletak ditinggal
oleh pemiliknya. “mbak Nisa, aku kerjain Ini aja ya?” ucapnya sambil tertawa.
Setelah Febi bilang seperti itu, tak lama Nanang berkata “Febi itu sa, suka
memang dia sama Matematika”. Walah pantesan aja. Tapi dia juga mahir di semua
pelajaran. Ah aku kagum padanya. Tapi Febi itu sangat pendiam sekali. Jika tak
ditanya, maka jarang ia akan berbicara. Tak seperti diriku yang ribut ini.
Hehehe
Sepertinya
Febi sudah paham akan jawaban ku. Apa aku termasuk yang susah ditebak? Aku tak
semisterius itu. Mungkin itu pertama kalinya Febi menanyakan hal yang bisa
dikatakan pribadi kepada ku. Tak terasa kami sudah mulai memasuki fakultas
Dakwah dan Komunikasi. Fakultas ini tepat berada di pojok belakang peta kampus
UIN Sunan Ampel Surabaya. Jadi kami harus menempuh jarak yang cukup jauh setiap
harinya jika ingin pergi kuliah. Meenurut teman-teman yang pernah memasuki
seluruh gedung-gedung fakultas yang ada di kampus ini, fakultas dakwah
merupakan fakultas yang masih lumayan besar jika dibandingkan dengan fakultas
psikologi dan ilmu kesehatan.
Kelas
ku berada di lantai tiga. Ya, fakultas dakwah sendiri terdiri dari dua gedung
dan masing-masing gedung terdiri dari tiga lantai. Sesampainya aku di lantai
tiga, aku bertemu dengan Rifa’i. Aku ingat bahwa aku masih memiliki tanggungan
untuk merevisi makalah hadits. Dan yang harus divisi adalah bagian Rifa’i. Aku
kira dia telah menyelesaikannya, tapi malahan pagi ini dia baru akan meminta
file. Aku kasi laptop ke dia. Lalu ku beri tahu mana saja yang harus direvisi.
Tak lama kemudian, laki-laki bertubuh mungil itu pun kembali ke kelasnya. Dia
berkata bahwa, pagi ini dosen yang mengajarnya tak dapat hadir. Oleh karena itu
ia baru mau mengerjakan.
Sesampainya
aku di kelas, aku mencari tempat duduk bersama Rafikah. Setelah dirasa nyaman,
dosen yang mengajariku intensif Bahasa Inggris pun datang. Materi hari ini akan
diisi dengan membahas soal-soal yang kami kerjakan kemarin. Aku pasrah
sepasrah-pasrahnya pasrah. Jujur, soal kemarin ritul aku tak serius membaca dan
mengerjakannya. Entah mengapa, apa mungkin karena aku tidak begitu konsentrasi
sewaktu membahs materi atau karena apa. Soal dibahas satu persatu. Dan setiap
mahasiswa yang hadir pun diberi kesempatan untuk membaca dan menjawab soal
menurut urutan absennya. Aku yakin jika banyak kesalahan di lembar jawab ku.
Karena ku akui saja, aku tak mengerjakannya sungguh-sungguh kemarin. Dan hari
In aku sadar, aku malu, bahwa aku tak memiliki apa-apa. Seharusnya aku harus
bisa sadar dari kemarin-kemarin. Mungkin Allah memang menyadarkannya di saat
yang tepat.
Lembar
jawab ku diperiksa oleh Teguh, itu yang membuat ku malu. Aku malu pada Allah,
aku malu pada diri ku sendiri, dan aku malu kepada Teguh, juga Rafikah. Aku
malu. Malu sekali. Ingin rasanya aku meminta agar masa-masa
penjelasan itu diulang kembali. Namun apa daya aku hanya manusia. Lagipula,
waktu memang tak akan pernah bisa diulang. Saat diberi tahu oleh Teguh bahwa
banyak jawaban yang salah dari lembar jawab ku, aku masih mengusahakan diri
untuk mengembangkan senyum ku, dan bertindak seolah tak peduli. Padahal dalam
hati, ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin dan menangis sejadi-jadinya.
Tapi aku coba melawan dan mengganti itu semua dengan senyuman.
Sebelum
menutup pertama hari ini, pak dosen memberi kabar bahwa Minggu depan akan
diselenggarakan Ujian Tengah Semester untuk mata kuliah intensif Bahasa Inggris
ini. karena untuk intensif Bahasa Arab sendiri sudah dilaksanakan pada hari
senin kemarin dan sudah dikoreksi dan dibahas oleh kami sendiri juga pada hari
selasa. Kabar UTS ini, semakin memompa semangat ku untuk belajar.
Aku tahu bahwa aku tak akan mungkin meminta pak dosen untuk menerangkannya
kembali. Aku berpikir keras, kira-kira siapa yang akan aku mintai bantuannya
untuk mengajari ku pelajaran ini. oh iya, aku kan bisa meminta bantuan mbak
Fitri. Mbak Fitri adalah dewan pengurus mahasantri di asrama yang aku tinggali
untuk satu tahun ini.
Asrama
ini hanya ditempati dan diisi oleh mahasiswa baru. Kecuali pengurus dan
ustadzahnya. Ustadzah nya kebanyakan dari lulusan pasca sarjana atau yang
sedang menempuh pendidikan di pasca sarjana. Ada salah seorang dari ustadzah
yang dari lulusan Al-Azhar, Kairo-Mesir. Beliau adalah Ustadzah Nike. Ustadzah
berparas cantik ini berasal dari kota apel, Malang. Beliau ustadzah yang
bertanggung jawab untuk anggota kamar di lantai tiga. Sangat tenang
pembawaan beliau ini. Subhanallah banget dah.
Mbak
Fitri, yang aku tahu dan aku kenali dari mbak Fitri adalah, ia yang sangat
fasih sekali berbicara dengan bahasa Inggris. Divisi yang ia pegang saja divisi
bahasa dan intelektual. Sudah sangat jelas bahwa mbak Fitri bukanlah orang
sembarangan. Dewan-dewan mahasantri yang tinggal di asrama ini memang tak asal
pilih. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar bisa menjadi dewan
mahasantri di asrama ini. Aku akui memang mereka patut diacungi jempol untuk
keintelektualan mereka.
Namun
satu yang aku agak sesali dari pengurus di sini. Menurut ku mereka kurang ramah.
Mengapa ku katakan begitu? Aku sering bertemu dengan mereka di tengah jalan,
namun untuk senyum saja sepertinya susah untuk mereka lakukan. Entah karena
jabatan atau karena agar para anggota asrama tetap hormat kepada mereka. Ya,
untuk aku sendiri, pasti aku bisa membedakan, dimana kita serius dan kita
bercanda. Masa untuk hal sederhana seperti senyum dan menyapa itu saja sulit.
Aku sering kali mencoba untuk tersenyum dan menyapa mereka. Namun, terkadang
entah karena mereka melihat tapi diacuhkan, atau memang mereka tak kenal dengan
ku. Ya, aku hanya ingin berpositif saja bahwa mereka mungkin tidak mengenal ku.
Pulang
dari kelas intensif, aku langsung menuju kelas dimana akan ku lanjutkan
perkuliahan hari ini. Tapi sebelum keluar kelas, aku sempat melihat Rifa’i
meminta sesuatu kepada ku. Isyarat nya aku paham bahwa ia akan meninta sesuatu
tapi aku butuh waktu untuk memahami apa yang ia minta. Setelah memberikan
isyarat yang dapat ku pahami, aku pun paham apa yang ia minta. Ia meminta
flashdisk yang kau bawa kemarin, tapi aku tak membawanya hari ini. sesampainya
aku di kelas, Rifa’i mendatangi ku dan menjelaskan bahwa Ike yang dicarinya tak
ada dilaptop, tetapi di flashdisk yang dia minta itu. Butuh waktu agak lama
untukku mengingat flashdisk siapa yang kau bawa pada saat itu. Aku berpikir
keras untuk mengingatnya. Ada gantungan love nya warna hitam.
Oh ya, itu flashdisk Norma. Aku ingat bahwa semalam Norma baru tidur jam
setengah lima pagi. Pasttilah ia tidak ikut intensif pagi ini.
Aku
pun memutuskan untuk pulang ke asrama untuk meminjam flashdisk Norma. Di
parkiran asrama, aku bertemu dengan Dinda dan Murni yang baru akan pergi ke
kampus. Sesampainya aku di kamar Norma, aku menyampaikan maksud kedatangan ku.
“Flashdisknya di Dinda mbak Chan”. “waduh, okelah Ma, aku duluan yaa” jawab ku.
Aku mencoba berjalan cepat mencoba untuk menyusul Dinda dan Murni. Kenapa aku
meilih untuk berjalan cepat? Karena jika aku lari nanti, aku takut akan pikiran
orang-orang yang melihat ku. Seorang mahasiswi cantik dengan gamis dan
jilbabnya yang menjuntai berlari kencang di dalam kampus. Kan terkesan tidak
anggun. Hehe
Akhirnya
aku bisa menyusul Dinda, saat sampai di kelas (itu bukan menyusul Nis namanya).
Aku meminta flashdisk yang ku maksud dan mencoba untuk mengecek apakah data ku
asih tersimpan atau tidak. Dengan irama hati yang tak beraturan aku buka file
dalam flashdisk itu dan ternyata sepertinya keberuntungan belum berpihak. Data
ku hilang. Tapi jujur, aku tak merasakan marah sedikitpun. Entah mengapa.
Mungkin hati ku lebih belajar untuk menerima sekarang ini. Toh, aku juga masih
bisa mengetiknya ulang bersama Murni.
Aku
yang mengetik, Murni yang membacakan. Aku senang mengetik. Dari zaman sekolah
dasar, aku memang menyukai pelajaran mengetik, tapi aku senangnya jika dibacakan.
Karena itu akan cepat selesai. Tak butuh waktu lama untuk mengetiknya. Karena
makalah kami pun hanya terdiri uang lebih tujuh lembar.
Lalu
pelajaran dilanjutkan dengan pembagian kelompok diskusi. Aku mendapatkan
kelompok pertama. Jika saja makalah yang sedang ku garap ini telah selesai
sepenuhnya, aku mau saja presentasi. Tapi makalahnya belum selesai. Akhirnya
Algi yang akan mewakili kelompok kami untuk presentasi.
Karena
hadits yang akan di bahas jumlahnya ada lima, dan jika akan dibahas bersama satu
persatu akan memakan waktu yang lama, maka kami memutuskan, pembahasan hadits
tersebut dilakukan perorangan. Satu hadits akan dibahas dua orang. Dan aku
kepagian hadits ketiga bersama Algi. Mungkin ada sekitar 10 menit kami
berdiskusi, lalu kami menggabungkan hasil dari diskusi Lai. Lalu hasilnya akan
dibuatkan Power poin dan dipresentasikan.
Sambil
menunggu selesainya diskusi dari kelompok lain, Algi latihan apa yang akan ia
bicarakan nanti. Setelah semuanya selesai, tibalah saatnya Algi maju ke depan
sebagai presenter pertama. Ia memakai metode menjelaskan isi hadits berlebih
dahulu kemudian menjelaskan kaitannya dengan bimbingan konseling.
Berbeda
dengan sistem presenter pertama, presenter-presenter setelahnya ada yang hanya
menjelaskan keterkaitan hadits tersebut dengan konseling. Akhirnya diskusi pun
selesai juga. Dari diskusi ini ada sebuah pertanyaan yang lucu yang diajukan
oleh Sofi. “Bagaimana jika ternyata istri muda meminta bantuan kepada calon
istri muda, kalor sudah pada tahu kan bantalan berabe nanti?” pertanyaan yang
sempat membingungkan presenter ini pun akhirnya bisa terjawab, dan di akhir
pertemuan hari ini, Bu Ragwan sempat menambahkan sedikit tentang jawaban dari
pertanyaan Sofi, bahwa kasus tersebut bisa saja terjadi, namun jarang.
Rencana
hari kemarin dari Pak Rudi, bahwa jam beliau akan di ganti pada hari ini. dan
giliran presentasi pada Minggu ini adalah kelompok ku. Tetapi, tak lama setelah
ditutupnya pertemuan bu Ragwan pada hari ini, Faisal sebagai koma kami
memberitahukan bahwa pak Rudi tidak dapat masuk hari ini. sempat ada penyesalan
dalam diri, namun aku tetap berpositif bahwa Allah menyuruhku untuk belajar
lagi.
Allah
memang Maha Baik. Presentasi ku ditunda mungkin karena Allah ingin aku
presentasi dengan keadaan yang fit. Jujur saja, hari ini aku masih sesekali
bersin dan harus mengeluarkan lendirnya. Untungnya aku tak begitu merasa pusing
seperti kemarin. Akhirnya ku putuskan saja untuk pulang kembali ke
asrama. Tetapi seperti biasa, sebelum pulang, aku harus membeli
makanan untuk mensyukuri nikmat Allah atas laparnya perut ini, dan jangan
sampai mendzolimi perut karena tidak diisi.
Di
tengah perjalanan, tepatnya di depan gedung B fakultas Dakwah, aku bertemu
dengan Mas Ahsan. Walaupun baru bertemu di Surabaya ini, tapi ia sudah ku
anggap seperti kakak sendiri. Aku tak sendiri, Mas Ahsan dekat dengan ku,
Fiska, juga Dinda. Awal kedekatan kami adalah pada saat matrikulasi di GreenSa
Inn hotel di daerah Sidoarjo. Matrikulasi adalah kegiatan orientasi calon
mahasantri beasiswa seperti aku ini. Jadi, mas Ahsan adalah salah satu panitia
dari matrikulasi tersebut. Awalnya, ia memiliki rasa kepada Fiska, karena aku
dan Dinda juga dekat dengan Fiska, maka jadilah mas Ahsan dekat dengan kami
juga.
Tapi
akhir-akhir ini Fiska tak seberapa dekat lagi dengannya. Malahan, mas Ahsan
lebih dekat dengan ku dan Dinda. Mungkin sebabnya tak dapat ku ceritakan di
sini. Dalam pertemuan tak sengaja di depan gedung B itu, kami sempat mengobrol
sebentar. Karena kami lama tak melihatnya. Nenek nya meninggal kemarin, jadi ia
harus pulang ke Probolinggo untuk beberapa waktu. Mengapa mas Ahsan ku katakan
sudah seperti kakak sendiri? Kami saling berbagi cerita, bahkan cerita pribadi
yang tak orang lain ketahui. Tak hanya kami, mas Ahsan pun pernah
bercerita penyebab kegalau-annya. Kami juga sering pergi untuk
mengisi perut bersama. Aku yang biasanya malu makan di depan orang lain,
menjadi biasa. “kalau masih ada malu diantara kita, itu bukan friend namanya”
katanya di suatu siang di hadapan aku dan Dinda saat kami pergi makan bersama.
Untuk
masalah perempuan pun, mas Ahsan juga meminta pendapat dari aku dan Dinda. Jadi
ceritanya seperti ini, ia pernah ditinggal oleh seorang perempuan karena
perempuan tersebut lebih meilih orang lain ketimbang dirinya. Padahal jika
dilihat secara jelas saja, mas Ahsan itu tak kalah ganteng dengan lelaki yang
dipilih perempuan itu. Sebelum dekat perempuan itu, ia juga pernah dekat dengan
seorang perempuan angkatannya. Tetapi sayang sekali. Sepertinya cinta mereka
tak direstui oleh orang tua mas Ahsan. Padahal, perempuan itulah yang pertama
dikenalkan kepada orang tua mas Ahsan. Mas Ahsan bukan termasuk orang yang
gak neko-neko. Ia tak suka bercanda atau main-main terhadap
sesuatu. Termasuk hal memilih perempuan yang akan mendampinginya.
Jika ia telah menyukai seseorang ia akan berterus terang bahwa ia akan serius
dan tak main-main.
Inilah
yang sangat aku sukai pada diri mas Ahsan. Semua orang pasti butuh hiburan dan
ada saja tingkahnya untuk menghibur orang lain. Betapa seriusnya mas Ahsan pun
ia juga sesekali bercanda. Aku juga sering bertukar info asi kepadanya. Bahkan
ia yang lebih sering memberi informasi kepada ku tentang banyak hal. Entak
sepak bola, teknologi, musik, film, dan lain-lain. Hobi ku memang sedikit
berbeda dari para perempuan kebanyakan. Jika yang lain lebih suka menonton
drama Korea, aku lebih senang menonton film action. Jika yang
lain tak acuh dengan bola, maka aku sebaliknya. Walaupun tak seberapa
memperhatikan, aku peduli dengan klub kesayangan ku, Manchester United dan Real
Madrid. Aku selalu mengupdate informasi setelah mereka bertanding. Aku tak
selalu bisa menonton pertandingannya. Selain karena waktunya yang tengah malam,
aku juga tak memiliki kawan untuk menonton bersama. Tak seru kan
jika menonton bola sendiri. Lagi pula aku harus masuk kuliah keesokan harinya.
Aku kan juga harus peduli dengan kesehatan dan perkuliahan ku. Hehe
“Mas, ngopinya antar-ntar
aja ya. Kami lagi banyak tugas nih” kata ku sebelum meninggalkan mas Ahsan.
“Iya Cha, aku juga mau ke
Kediri ini ”. “Lah kapan mas, ngapain di sana?” tanya Dinda kemudian.
“Ada yang harus tak kerjain
di sana” jawab mas Ahsan.
“Oke oke. Ya udah mas kami
duluan ya. Laper. hehe” kata ku sambil meninggalkannya.
“Assalamu’alaikum”
lanjut ku.
Ya, begitulah kami. Sebuah
persahabatan yang memang di takdirkan Allah karena jujur, aku tak pernah
memiliki kakak tingkat yang seperti ini sebelumnya.
Sesampainya
di gang Dosen, kami selalu bingung mau makan apa. Selalu seperti itu setiap
harinya. Mungkin kami masih labil. (instagram.com). karena tempat terdekat dari
gang dosen banyak pembelinya, maka kami memutuskan untuk pergi ke warung biru.
Di sana kami bertemu dengan Munir dan Nanang. Aku baru ingat bahwa warung biru
itu juga warung favorit mereka. Sebenarnya aku tak terlalu suka. Aku belum menemukan
makanan yang benar-benar pas dan cocok dengan lidah blaster ku.
Kenapa ku katakan blaster? Aku sendiri berasal dari kota Balikpapan yang
walaupun dalam darah ku masih mengalir kental darah Jawa. Karena Balikpapan
kota pendatang, maka bisa dikatakan sua suku yang ada di Indonesia bisa
dijumpai di sana. Mulai dari Jawa, Bugis, Melayu, Madura, Sunda, dan lain-lain.
Maka, makanan yang ada pun bermacam-macam sudah rasanya.
Tapi
ku akui memang bahwa cita rasa makanan yang ada di Balikpapan tak ada duanya.
Semurah apa pun makanan yang ada di Jawa, pasti rasanya tak seenak yang ada di
Balikpapan. Aku memang sangat bersemangat sekali jika sudah berbicara tentang
makanan. Karena aku sendiri adalah pecinta makanan seperti mas ku, mas Uwa. Mas
Uwa adalah kembara mas Uwi, ia sendiri sebelum menikah saja sudah bertubuh
gempal. Ia tidak gendut, perawakannya yang tinggi-besar seperti ku tak
membuatnya gendut. Tapi jelas lebih tinggi dan lebih besar ia daripada aku.
Kegemaran mas ku yang hobinya makan itu menular kepada ku. Tapi tetap saja
porsi makan ku tak sebanyak porsinya. Kami sering berkelana di
malam hari bahkan pada tengah malam pun kami akan berkelana membeli makanan
jika kami merasakan lapar di tengah malam. Tentu saja dengan sepengetahuan dan
seizin mama ku. Walaupun ia telah beristri, aku tetap memilih untuk ikut
dengannya saat membeli makanan. Bukan aku egois, hanya saja di keluarga ku
tinggal aku yang belum menikah. Bisa dibayangkan betapa sepinya bukan?. Untung
saja mbak ipar ku adalah orang yang perhatian dan pengertian. Mama ku juga tak
melarang ku untuk ikut.
Ada
sebuah toko terkenal yang menjual martabak manis (di Balikpapan, kami
menyebutnya terang bulan) isi jagung manis. Bisa dibayagkan betapa lezatnya
makanan itu.
“Nis, pernah makan terang
bulan jagung blm?” tanya mas ku di suatu malam.
“Belum mas. Kayaknya enak
deh. Jangan biang mas Uwa pernah beli?” jawab ku.
“Enak Nis, mas Uwa belum
pernah beli sih. Kemarin dikasi temen. Enak banget”
“Ya udah kapan-kapan kita
beli ya?”
“Oke. Tapi tunggu mas Uwa
gajian ya ”.
“Hahha. Oke oke mas. Nisa
juga gak lagi pengen-pengen banget kok”
Selalu
seperti itu, jika kami ingin mencoba makanan baru, pasti harus selalu menunggu
mas ku gajian. Sebenarnya bisa saja mama ku memberi aku dan mas ku Aung untuk
membelinya. Tetapi aku kan sadar diri.
Keluarga
ku sangat memegang teguh kesopanan. Contohnya saja aku menyebut diri ku dengan
nama ku jika aku sedang berbicara dengan keluarga ku. Kami sangat jarang sekali
memakai aku-kamu. Bahkan tak pernah. Mas dan mbak ku juga seperti itu jika
mereka berbicara dengan ku.
“Nisa, nanti anterin mbak
May pulang ya”
“Nis, tolong ambilin
jemurannya mas Uwa sama Mba Sury ya”.
Bahkan mama dan
abah ku pun juga seperti itu.
“Tolong pijetin abah dulu
nis”
“Ndok, nanti siang ke pasar
ya bantun mama”
Sopan
sekali kan? Begitulah keluarga ku. Aku sangat bahagia, bangga dan sangat
bersyukur sekali dilahirkan dan dihadirkan di tengah-tengah keluarga ini. Kami
memang bukan orang kaya secara finansial. Tapi kami merasa kaya karena kami
bersyukur.
Keluarga
ku bisa dikatakan sebagai keluarga yang cukup gamis dengan keluarga-keluarga
lainnya yang ada di lingkungan ku. Aku dilahirkan oleh seorang wanita
bersuamikan seorang pria lulusan pesantren di Jawa. Ya, abah ku sempat mondok.
Ah, bercerita tentang pondok, mengingatkan ku tentang cerita ku di pondok dulu.
Aku pernah membuat sebuah cerita pendek mengenai kehidupan ku di pondok dulu.
Ini dia cerita yang berhasil ku buat. Walaupun tak seberapa bagus, setidaknya
aku sudah mencoba untuk menulis.
Pondok ku, Ibu ku
Aku
adalah seorang santriwati di sebuah pondok modern di sebuah kota di wilayah
timur pulau Kalimantan. Sebut saja kota itu kota Balikpapan. Bersekolah di
lingkungan pondok adalah sebuah ketidaksengajaan dalam hidup ku. Ya, pondok
adalah pilihan terakhir dimana akan ku lanjutkan pendidikan ku setelah lulus
dari sekolah dasar. Pilihan tersebut muncul ketika mama ku ingat impian ku,
bahwa aku ingin bersekolah di pondok juga pada saat mas kembar ku disekolahkan
di pondok.
“Nisa
dulu waktu kecil pengen sekolah di pondok kan?” tanya mama kepada ku sore itu.
Entah ilham apa yang ku dapatkan, seketika itu pula aku seperti dibawa ke zaman
6 tahun lalu di depan asrama putra pondok mas ku. Tempat dimana aku mengatakan
impian itu. Impian yang terucap, keluar, mengalir begitu saja tanpa memikiran
hal ini dan itu. “eh iya juga ya” hati kecil ku mengiyakan pertanyaan mama ku.
“Ya udah, Nisa lanjut di pondok aja ya kayak mas Uwa”. Lisan ku tak mampu
menjawab, namun hati ku menyetujui. Aku pasrah.
Jika
ingin bersekolah di SMP atau sekolah umum lainnya tes masuknya adalah dengan
membawa nilai hasil ujian. Berbeda dengan pondok, di sini aku harus tes ini dan
itu. Yang paling aku ingat, aku adalah pendaftar terakhir yang diuji malam
hari. Ujiannya adalah ujian lisan. Tak hanya itu, aku juga diminta untuk
mempraktekkan beberapa ibadah seperti berwudhu, tayamum, dan lain sebagainya.
Di sini aku bersyukur karena aku dilahirkan dalam keluarga yang dapat dikatakan
cukup agamis. Setidaknya tahun ini aku bisa melanjutkan pendidikan ku di
jenjang menengah pertama, karena masih ada kemungkinan bahwa aku akan diterima
di pondok ini.
Hidup
tak bersama orang tua di usia yang masih dapat dikatakan belia adalah hal yang
tak pernah aku pikirkan sebelumnya, walaupun jarak dari rumah ke pondok yang
aku tinggali hanya sekitar 4 km. Sejatinya aku adalah anak yang manja. Mungkin
itu juga karena faktor bahwa aku adalah anak bungsu di keluarga ku. Ya, aku
adalah anak bungsu dari ke-6 saudara ku. Saudara ku sangatlah unik. Aku
memiliki empat kakak kembar dan semuanya adalah laki-laki. Diantara mereka,
hanya dua yang disekolahkan di pondok. Dan mereka berdua lahir tepat sebelum
ku. Dengan melihat perkembangan mas ku yang disekolahkan di pondok berkembang
dan tumbuh dengan baik, jadilah aku penerus mereka untuk
disekolahkan di pondok juga.
Hari
pertama tinggal di pondok sangat terasa sekali perbedaannya. Aku yang dulu tak
pernah merapikan lemari pun kini harus bisa merapikan lemari ku sendiri. Hal
itu juga berlaku untuk cuci baju. Ya, aku harus mencuci baju ku sendiri di
sini. Karena siapa lagi yang akan mencucikan baju ku kalau bukan pemiliknya
sendiri. Pondok ku memang menyediakan jasa laundry, dan mama ku juga
mengizinkan saja jika aku ingin menggunakan jasa tersebut. Tapi aku lebih
memilih untuk tidak menggunakannya. Karena aku tahu maksud dan tujuan mama dan
abah mengirimkan ku di tempat ini. Mereka ingin aku mandiri walaupun tanpa
persiapan mental sebelumnya. Aku sendiri pun sebenarnya belum siap untuk
disekolahkan di pondok ini. Namun jika tidak sekarang, kapan lagi. Dan jika
tidak dipaksakan, mau dengan cara yang seperti apalagi.
Rasa
tidak betah itu pasti. Tapi itu hanya berlaku di hari-hari pertama ku
bersekolah. Aku memiliki banyak teman dan uniknya mereka tak hanya berasal dari
Balikpapan saja. Namun ada juga mereka yang berasal dari luar daerah
Balikpapan. Hal ini yang memotivasi ku untuk tetap bertahan. Mereka
saja bisa, kenapa aku tidak. Seperti itulah kira-kira ungkapan ku dulu
untuk menguatkan diri.
Pondok
ku terdiri dari tiga lantai, dan kamar anak baru berada di lantai satu.
Entahlah ini sudah menjadi kebiasaan atau apa. Jika di kamar senior kehabisan
air minum, maka senior pun tak segan untuk melemparkan jerigennya
dari lantai dua untuk minta diisi oleh junior yang lewat pada saat itu. “Dek, athlubu
sa’adah ya. Syukron ”. Ini yang tak aku suka dari pondok
ini. Minta tolong seenaknya saja. Berterima kasih pun tidak. Mereka tak pernah
tahu apa yang akan kita lakukan ketika keluar kamar. Terlebih jika sedang
dipanggil ustadzah atau pengurus. Mereka gak akan pernah tahu. Pada saat masih
menjadi anak baru aku jarang sekali keluar kamar untuk menghindar dari
kedzoliman ini.
Selain
menghindar dari kedzoliman itu, aku juga ingin mengurangi frekuensi ku untuk
masuk ke mahkamah pengurus bagian penggerak bahasa. Ya, pondok ku adalah pondok
yang mewajibkan santri dan santriwatinya untuk berbicara dengan menggunakan
bahasa Arab dan Inggris. Pengurus memiliki tingkatan pelanggaran.
Pelanggaran terberat untuk bagian penggerak bahasa ini adalah memakai jilbab mulawwan. Jilbab mulawwan adalah
jilbab yang jika dilihat di bawah sinar matahari langsung akan sangat
menyilaukan mata dan memusingkan kepala. Alias jilbab warna-warni dengan
tingkat kecerahan di atas rata-rata. Pelanggaran itu diberikan jika santriwati
telah masuk mahkamah penggerak bahasa sebanyak tujuh kali dalam satu periode.
Aku
sendiri pernah masuk mahkamah tiga kali. Aku tidak nakal, dan tidak juga
pendiam. Prestasi ku pun biasa-biasa saja di tiga tahun pertama ku bersekolah
di pondok. Ada sebuah kejadian yang membuat nama ku tiba-tiba tenar di telinga
ustadzah pengabdian. Kejadian ini pun merupakan sebuah kesalahpahaman yang
berhasil membuat ku gelisah hingga dua tahun setelah kejadian tersebut. Ini
adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga yang aku dapatkan di pondok.
Sejak
saat itu, aku lebih rajin dan giat dalam belajar. Hasilnya, aku berhasil
menjadi juara kelas di tahun pertama aliyah ku. Dan di tahun itu pula Tuhan
menguji ku dengan membuntukan apendiks ku.
Malam
itu aku merasakan sakit sekali di bagian perut. Mama pun datang untuk
menjengukku. Setelah di rasa membaik, mama pulang. Tak lama telah mama pulang
ke rumah, keadaan malah menjadi sebaliknya. Di malam yang sepi itu, aku sukses
memuntahkan seluruh isi perut ku. Pengurus OPPM yang mendapatkan jadwal jaga
malam pun berbondong pergi ke kamar ku untuk mengetahui lebih jelas keadaan ku.
Setelah dicekcoki beberapa pertanyaan, pengurus bagian kesehatan pun
menghubungi ustadzah pengasuhan untuk meminta beliau agar aku bisa
ditindaklanjuti di rumah sakit terdekat. Untungnya pondok ku
terletak tak jauh dari rumah sakit. Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
Kanudjoso Djatiwibowo namanya.
Sesampainya
aku di rumah sakit, yang aku ingat adalah tangan ku langsung di infus. Mungkin
karena keadaan ku yang sangat lemas sekali. Aku masih saja memuntahkan isi
perut ku untuk kesenian kalinya. Akhirnya aku mulai kelelahan dan tidur di
rumah kait. Setelah dirasa membaik, kami kembali ke pondok. Saat itu tepat
pukul 4 dini hari. Dan tak mungkin kami menghubungi ustadz Musta’in lagi untuk
mengantarkan kami pulang kembali ke pondok (beliau yang mengantarkan kami ke
rumah sakit, tapi kami lanjung ditinggal, dan beliau meminta dihubungi jika
telaah selesai). Akhirnya salah seorang dokter yang turut menangani ku tadi menawarkan
kami untuk diantar dengan mobilnya. Dan ternyata dokter tersebut adalah salah
satu santri kiai kami juga. Kiai (pimpinan pondok)ku adalah guru gaji dorter
tersebut. Pak dokter pernah mengaji bersama dengan kiai ku, Ustadz Abdurrahman
Hasan. Maka diantarlah kami ke pondok dengan menggunakan mobil dokter yang baik
hati itu. Hal ini memberi ku pelajaran, betapa tahrimnya beliau kepada guru
beliau. Padahal dengan kami pun dokter itu tak kenal, karena sesama murid dari
kiai yang sama, maka ia dengan senang hati mengantarkan kami pulang. Aku
sendiri pulang dengan keadaan antara sadar dan tidak sadar. Akhirnya aku pun
sampai di pondok dengan selamat. Alhamduillah.
Hari
itu adalah tanggal di mana aku dilahirkan. Di tanggal cantik itu (12 Mei 2012)
aku diberikan kado terindah oleh Tuhan yang tak akan pernah aku lupakan.
Beberapa teman ku datang ke kamar ku untuk memberi ku ucapan dan menjengukku.
Di situ aku merasa sedih dan senang. Aku sedih karena rasa sakit yang masih aku
rasakan, walaupun sebenarnya aku tahu aku tak boleh bersedih. Aku harus merasa
senang dan bersyukur atas rasa sakit yang aku derita ini. karena aku tahu,
dengan cara inilah Allah menyayangiku. Aku merasa bahagia karena masih ada
teman ku yang peduli pada ku. Karena rasa sakit ini tak kunjung reda, setelah
selesai solat magrib mama ku datang ke pondok ku. Yang aku ingat, mama ku
sempat memasak dan membawakan aku dan teman-teman ku makanan untuk dimakan
bersama atas syukuran masihnya aku diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup
hingga 15 tahun ini. Sepertinya mama ku mengira bahwa aku telah sembuh dari
sakit perut ku. Padahal belum. Bahkan aku hampir menginap di rumah sakit
semalam. Akhirnya mama ku memaksa untuk membawa ku pulang untuk
ditangani lebih lanjut di rumah.
Aku
pulang tepat Sabtu malam. Di rumah aku diberi obat penawar yang berasal dari
kencur dan telur ayam kampung untuk di minum. Rasanya sangat tidak enak sekali.
Cukup sekali aku meminumnya. Aku tak memiliki kekuatan yang cukup untuk
meminumnya lagi. Katanya campuran ramuan yang dibuat itu akan membantu untuk
menutupi luka di lambung ku. Padahal masih belum tahu penyakitnya apa, karena
aku baru akan di bawa ke dokter hari senin. Karena pada hari Minggu, tak ada
dokter yang buka praktek.
Keesokan
harinya, aku pergi ke puskesmas. Karena mama ku mengira bahwa ini hanyalah
sakit perut biasa. Setelah diperiksa oleh seorang dokter, dokter memvonis ku
bahwa aku terkena usus buntu. Dan puskesmas tak sanggup untuk menanganinya
karena peralatan yang terbatas. Dan kata dokter, ini harus segera di operasi.
Aku kaget bukan kepalang. Aku tak pernah operasi sebelumnya. Aku sempat
merintih dan hampir menangis di sana mengetahui bahwa aku akan menjalani
operasi. Secepatnya, karena jika menunggu sampai besok-besok, apendiksnya akan
pecah dan isinya akan menyebar ke mana-mana dan hal itu juga dapat menyebabkan
kematian. Ya Allah, Nisa belum siap mati, dosanya masih banyak,
pahalanya baru sedikit. Mama ku berusaha untuk menenangkan ku.
Akhirnya dokter pun memberi ku surat rujukan ke rumah
sakit.
Pada pagi
itu juga mama ku langsung membawaku ke rumah sakit. Selain mama ku, aku juga
ditemani oleh mas ku. Mbak ku tak dapat mengantar karena masih ingin menunggu
anaknya pulang dari sekolah. Mama ku pun memutuskan punuk membawa ku ke rumah
sakit tentara. Jaraknya cukup jauh jika diukur dari rumah ku. Sekitar sepuluh
kilometer. Sesampainya aku di rumah sakit, aku harus menunggu beberapa saat
untuk ditangani. Mama ku pergi ke resepsionis untuk mendaftarkan nama ku.
Setelah
menjalani beberapa pemeriksaan, seperti cek darah, rontgen, tes
urine, hingga USG, dokter memvonis ku terkena penyakit usus buntu. Aku
benar-benar shock. Bukan aku meremehkan vonis dokter ku
sebelumnya. Hanya saja aku masih belum percaya pada pemeriksaan pertama.Melihat
tanggapan dari raut muka ku, sang dokter pun menenangkan hati ku bahwa ini akan
baik-baik saja jika segera ditangani.
Seperti
pasien-pasien lainnya yang akan dioperasi, sebelum operasi, aku harus
mengosongkan perut ku terlebih dahulu (baca: puasa) sejak jam 10 malam. Tepat
jam 5 sore operasi ku dimulai, dan berakhir pada sekitar jam 8 malam. Mama ku
menitikkan air matanya ketika sang dokter membiarkan mama ku melihat bagaimana
aku dioperasi. Aku mulai sadarkan diri saat mulai di bawa ke ruangan di mana
aku di rawat. Sesampainya aku di ruangan, aku melihat tempat tidur ku penuh
dikelilingi oleh para tetangga ku yang baik hati.
Jam-jam
setelah operasi, aku kembali disiksa oleh rasa haus yang menyerang ku. Aku
tidak diperbolehkan memasukkan sesuatu pun ke dalam tubuh ku termasuk makanan
dan minuman apapun. Aku baru diperbolehkan makan jika aku telah berhasil buang
angin. Hingga aku terbangun tengah malam, aku belum juga berhasil buang angin.
Aku sangat haus sekali malam itu. Hingga aku terbangun. Ku lihat mama ku tidur
di samping ku, tak lama kemudian mama menyadari keterbangunan ku.
“kenapa ndok?” tanya mama
ku.
“Haus ma” rintih ku.
Akhirnya
mama pun mengambilkan ku air hangat dan aku minum sambil disuapi. Walaupun
hanya beberapa sendok aku sudah merasa sedikit membaik.
“Sudah ya, besok lagi kalor
sudah kentut baru boleh makan sama minum. Biar banyak-banyak juga undak
apa-apa”
“iya ma. Mama tidur lagi
aja ma”.
Hari-hari
ku di rumah sakit terasa sangat membosankan. Sesekali tetangga dan teman-teman
abah mama ku datang untuk menjenguk, teman-teman ku di pondok juga tak lupa
meluangkan waktunya untuk menjenguk ku. Bagaimanapun kondisinya, senyaman apa
pun rumah sakitnya, yang namanya rumah sakit tetaplah rumah sakit.
Seminggu
setelah operasi baru aku diperbolehkan pulang ke rumah. Hal ini dikarenakan
panjang jahitan ku yang tak seperti biasa. Ada hal lain yang harus diangkat
dari dalam perut ku. Aku pun tak tahu apa itu. Orang tua ku merahasiakannya
dari ku.
Memasuki
tahun ke lima hidup di pondok, membuat ku jauh lebih dewasa lagi. Karena di
tahun ini aku dan teman-teman lain diberi amanah untuk menjadi pengurus kamar.
Secara tidak langsung, ini yang memaksa ku untuk bersikap dewasa tak seperti
anak-anak lagi. Padahal jika aku sedang berada di rumah, bisa dikatakan aku
yang paling manja. Ini tantangan untukku untuk bisa membedakan keadaan di rumah
dan di pondok.
Tak
mudah untuk mengatur mereka. Ada saja hal-hal unik dan lucu yang mereka
lakukan. Walaupun terkadang melanggar peraturan. “Peraturan kan dibuat untuk
dilanggar ty”. Haha ada-ada saja mereka ini. Karakter mereka yang berbeda-beda
membuat ku harus bisa mnyatukan dan membuat mereka nyaman di kamar yang aku tinggali
ini.
Di
semester kedua tahun kelima ini aku dan teman-teman mulai memasuki wilayah
kepengurusan yang lebih besar. Ya, kami akan dilantik menjadi pengurus OPPM di
semester ini. Namun sebelum itu, kami harus mengkudu sebuah kegiatan yang
dinamakan Perkajum (Perkemahan Kamis-Jumat). Disini mental kami akan diuji
terlebih dahulu. Dalam kegiatan ini terdapat berbagai macam hal-hal seru yang
tak mungkin bisa di dapatkan di tempat lain.
Perkajum
akan dialami oleh masing-masing santri dan santriwati yang akan memasuki ranah
kepengurusan OPPM. Untuk perkajum tahun ini masih dilaksanakan di Asrama putra
yang jaraknya sekitar sebelas kilometer dari asrama putri. Asrama putra sendiri
baru ditempati tahun ini. dan pimpinan masih memberi izin jika lahan yang masih
tersisa di asrama putra itu dijadikan bumi perkemahan.
Setelah
selesai dari perkajum, kakak-kakak senior yang menjabat disibukkan oleh
pembuatan Laporan Pertanggung Jawaban. Laporan Pertanggung jawaban tersebut
akan di bacakan pada malam LPJ. Biasanya LPJ ini dilaksanakan empat hari. Dan
panitia-panitianya berasal dari adik-adik kelas empat KMI. Aku sendiri tidak
pernah menjadi panitia LPJ karena pada saat LPj waktu itu aku sedang sakit dan
berada di rumah.
Hari
pertama LPJ, biasanya diisi oleh laporan pengurus tiap-tipa bagian. Mulai dari
bagian Keamanan, bagian Penggerak Bhasa, bagian Ibadah, bagian Kesenian, bagian
Olahraga, bagian Dapur pelajar, bagian Kantin Pelajar, bagian Kebersihan,
bagian Kesehatan, bagian Informasi. Di hari kedua diisi oleh laporan dari
bagian Koordinator Pramuka dari bagian Angkulat, Angkuperkap, dan Angkuperdag.
Di hari ketiga adalah laporan dari seluruh ketua, sekretaris, dan bendahara
baik dari OPPM ataupun Koodinator Pramuka. Dan di hari keempat adalah
pelantikan dan serah terima amanat.
Sehari
sebelum LPJ, kami baru akan diberi tahu jabatan yang akan kami duduki. Untuk
angkatan ku, ketuanya adalah Nurrobbaniyah dan wakilnya adalah Istna Zazilah.
Yang terpilih bukanlah orang sembarangan. Untuk ketua sendiri terdiri dari
beberapa kandidat. Aku termasuk di dalamnya. Entahlah mengapa aku bisa terpilih
menjadi kandidat ketua OPPM. Dan pada akhirnya dalam keorganisasian OPPM aku
mendapatkan amanah untuk menduduki jabatan sebagai Koordinator Penggerak Bahasa
Rayon Putri. Aku telah memiliki firasat akan hal ini karena di periode tahun
lalu aku berhasil memenangkan lomba Miss Languange Rayon
Putri. Dan pengurus-pengurus sebelumnya pun juga mendapat gelar Miss
Languange itu.
Miss
Languange adalah salah satu program kerja tahunan yang diselenggarakan
oleh OPPM bagian penegak bahasa. Tiap kelas harus mendelegasikan salah satu
anggotanya untuk berpartisipasi dalam kompetisi tersebut. Pada saat pengumuman
loba itu aku masih berada di rumah. Keesokan harinya pada saat kembali
ke pondok, teman-teman ku menyuruh ku untuk mewakili kelas ku dalam
pemilihan Miss Languange itu.
Kisi-kisi
yang diberikan pengurus, sudah ada di tangan. Tinggal menghapalnya saja. Aku
bawa kisi0kisi itu ke mana pun aku pergi. Aku memang selalu bersungguh-sungguh
atas segala sesuatu. Aku hapalkan semua materi. Hingga akhirnya hari H pun
tiba. Sepanjang perlombaan aku membaca apa saja yang bisa aku baca, entah
solawat, tasbih,istigfar, tahmid dan lainnya. Aku mencoba menjawab pertanyaan
yang ditujukan kepada ku sebiak mungkin. Aku yakin aku bisa. Aku tahu Tuhan
mengetahui usaha ku.
Tak
lama lagi pengumuman pemenang akan dibacakan. Jantung ku berdekat tak
beraturan. Kala itu yang membacakan hasil penilaian juri adalah ustadzah Hani.
Dag dik Drug set aku menunggu. “Dan.. pemenang Miss Languange periode
2010-2011 adalah... perwakilan.. dari kelassss.... empat aaaaa... Selamat
kepada ukhti Siti Khoirunnisa atas keberhasilannya
memenangkan Miss languange ini. semoga Barkah dan bisa
bermanfaat juga bagi yang lainnya. Aaaamiiiinnn”.
Terbayarkan
sudah usaha ku pagi hari menjelang siang itu. Aku mengucapkan Alhamdulillah berkali-kali
untuk mengungkapkan rasa syukur yang rasanya tak ingin pergi dari diri ku. Aku
juga ingin kebahagiaan ini betah dan abadi dalam diri ku. Namun apalah daya
bahwa aku hanya seorang manusia.
Kemenangan
ku di Miss Languange yang mengantarkan ku menjadi koordinator
penggerak bahasa asrama putri, rayon Bashroh. Tak mudah menjadi koordinator
itu. Terlebih jika yang digerakkan adalah yang dibutuhkan setiap harinya
seperti berbahasa ini. Namun, aku menikmatinya sebagai konsekuensi ku
memenangkan lomba Miss Languange itu. Terdengar aneh memang.
Tak sedikit junior yang tidak suka kepada kami. Itu telah menjadi resik bagian
penegak bahasa dan keamanan. Entah mengapa, mungkin sudah menjadi tradisi di
pondok ku. Toh menegakkan peraturan kan sudah menjadi kewajiban bagi
kami.
Menjadi
orang yang tidak disukai karena pekerjaannya adalah marah-marah setiap hari
sudah menjadi hal yang biasa hingga akhir masa jabatan ku. Mereka tidak
benar-benar tidak menyukai ku. Mereka seperti itu lantaran peraturan
yang ada. Mereka seperti terikat dan diikat oleh peraturan. Padahal mereka tahu
bahwa peraturan itu untuk kebaikan mereka sediri. Tapi ku katakan sekali lagi,
mereka tidak benar-benar tidak menyukai ku. Kenyataannya mereka
tetap bersikap baik di depan maupun di belakang ku ketika aku tak lagi memegang
jabatan tersebut di semester dua pada tahun ke-6 ku di pondok.
Setelah
turun jabatan, kami difokuskan untuk menghadapi Ujian Nasional dari dinas
pendidikan dan beberapa ujian lainnya yang diadakan pondok. Ku akui, aku memang
lemah di pelajaran eksak. Karena prestasi ku yang lumayan dalam pelajaran
madrasah, teman-teman ku mengandalkan ku pada UAMBN.
Di
ujian ini aku dituduh memberi jawaban yang salah yang tidak sesuai dengan
jawaban pada lembar jawab ku kepada teman ku. Aku kira ini adalah sebuah
kesalahpahaman lagi. Yang benar saja aku ingin lulus sendiri. Aku tak sepelit
dan sekejam itu. Beginilah sikap manusia yang dalam hatinya hanya ada hasrat
untuk memenuhi nafsunya.
Di
sini aku benar-benar di bully oleh mereka. Kasus ini disebar
sampai ke asrama putra. Walhasil aku di benci oleh teman-teman ku sendiri. Satu
angkatan. Aku dihakimi oleh teman-teman putri angkatan ku. Di sini mereka
membongkar semua kejelekan ku yang kurasa tidak ada hubungannya dengan kasus
ini. Dia pikir dia sempurna?. Hanya itu yang ada dalam pikiran ku. Aku mencoba
untuk merasa masa bodoh dengan mereka karena aku tidak benar-benar
melakukannya. Aku menangis?. Aku tak selemah itu. Sampai-sampai adik kelas ku
ada yang salut kepada ku karena kekuatan mental ku pada saat itu. Ya, hanya
pada saat itu. Karena saat itu ada seseorang yang selalu berdiri di samping ku
untuk memberi ku semangat.
Aku
percayakan saja semuanya kepada Tuhan. Toh pada akhirnya, mereka juga yang
meminta maaf kepada ku. Setelah aku pikir-pikir, ini adalah ujian Tuhan pada ku
untuk mendapatkan nilai Mumtaz di hari wisuda ku.Namun pada
hari di mana aku diwisuda, aku harus kehilangan orang yang selalu berdiri di
samping ku untuk selamanya. Ya, ia pergi untuk menghadap Tuhan karena penyakit
yang ia derita selama hidupnya. Aku tahu Tuhan tak ingin menyiksanya lebih
lama. Aku tahu Tuhan rindu kepadanya sehingga Tuhan memanggilnya. Ah, bercerita
tentang orang itu selalu berhasil membuat semangat ku naik beberapa oktaf.
Terima kasih Muhammad Aldy El-Banjary. Selamat jalan, semoga engkau mendapatkan
tempat terbaik di sisi-Nya. Aku selalu mendoakan mu. Aku harus bisa ikhlas dan
melanjutkan film hidup ku kedepannya.
Hikmah
yang aku dapatkan dari film pendek ku ini adalah, sebuah keberhasilan selalu
butuh usaha dan perjuangan. Sejak aku aliah, aku harus giat dan tekun belajar
serta beribadah dan hasilnya, aku berhasil meraih juara kelas setiap
semesternya. Contoh riil selanjutnya adalah keberhasilan ku mendapatkan
predikat Mumtaz, setelah aku di fitnah teman-teman ku dan itu
adalah sebuah perjuangan ketahanan mental yang tak kalah luar biasa.
Dan selanjutnya adalah kepergian orang yang ku sayang dan menyayangi ku
sebagai ujian yang mengantarkan ku pada keberhasilan lulus tes PBSB
ini. Mungkin saat ini aku sudah menjadi istri termuda di dunia jika Tuhan tak
memanggilnya dan aku tidak mengikuti tes PBSB. Tapi Tuhan berkehendak lain.
Tuhan ingin aku lebih mandiri lagi.
Seiring
bertambahnya usia ku, apa saja yang bisa ku berikan kepada orang lain? Bukankah
orang yang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang di sekitarnya.
خير الناس انفعهم للناس
“Sebaik-baiknya manusia
adalah yang yang bermanfaat bagi manusia lainnya”
Lantas untuk apa bertahan
hidup jika hidup yang digunakan tak ada manfaatnya untuk orang lain. Dari sini
dapat diambil sesuatu bahwa hidup tak hanya sekedar hidup. Hidup itu
perjuangan. Hidup itu kebahagiaan. Bahagia itu adalah ketika kita bisa menolong
orang lain. Hidup itu berbagi. Hidup itu indah. Dan definisi-definisi hidup
lainnya.
Uang
untuk membeli makan itu adalah uang terakhir yang ada di dompet ku. Aku selalu
seperti itu. Malas untuk mengambil uang di ATM karena khawatir akan habis. Tetapi
sepertinya semua orang juga akan seperti itu. Hehe. Akhirnya siang ini aku,
Dinda, dan Fiska memutuskan untuk pergi ke Jatim Expo untuk mengambil uang di
ATM yang ada di sana. Sebenarnya aku Han butuh ke BTN. Tetapi karena aku
memiliki rasa solidaritas yang tinggi, aku pun turut menemani mereka pergi ke
Jatim Expo.
Setelah
Fiska berhasil melakukan transaksinya, naas bagi Dinda yang tak dapat menarik
uangnya di ATM. Jika dilihat dari terakhir kali ia mengambil uang di ATM yang
ada di Wonokromo, sepertinya tak ada masalah. Ada apakah gerangan ini? Akhirnya
kami pun pergi ke Giant untuk mengecek kembali ATM Dinda.
Siang
itu sempat mendung, namun tak lama kemudian panas terik, lalu hujan. Waduh
hujan yang kayak ini nih yang bikin sakit kepala. Tapi aku tak ambil pusing. Ku
nikmati saja hujan panas siang itu walaupun masih dengan hidung yang sesekali
meler.
Sesampainya
kami di Giant, kami menuju ATM untuk mengecek kembali ATM Dinda.Tapi hasilnya
nihil. Tetap saja tidak bisa. Karena ATM Fiska dan Dinda sama, akhirnya Dinda
memutuskan untuk meminjam uang Fiska terlebih dahulu. Agar keluarga Dinda juga
akan mudah jika ingin transfer.
Lalu
kami menuju ke lantai dua. Disana naluri keibuan mulai keluar. Membandingkan
harga sana sini. Namanya saja juga perempuan, calon ibu. Siap yang tak ingin menjadi
ibu? Memiliki anak-anak yang pintar, lucu, ngegemesin, ngangenin. Ah mengapa
aku jadi tak sabar seperti ini? Astaghfirullahal’adzim. Sabar
Sa, semuanya sudah di atur.
Segala
sesuatu ada positif negatifnya, ada plus minusnya, ada enak tidaknya. Itulah
kehidupan. Menjadi seorang mahasantri saja sudah dapat dirasakan bagaimana
beratnya. Apalagi jika menjadi istri bagi suami, dan ibu bagi anak-anak nanti.
Ah, jangan dipikirkan dulu. Ada masanya. Ingat bahwa tugas ku saat ini hanya
belajar, berdoa, belajar, berdoa. Itu saja, tidak usah banyak-banyak.
Setelah
semuanya selesai, kami langsung memutuskan untuk pulang kembali ke asrama.
Karena kami masih punya jam kuliah setelah ini. yaitu intensif keagamaan. Siang
itu kembali terik. Tapi panas kala itu hawanya tidak enak sekali. Mana jarak
yang harus kami tempuh tidak dekat. Ingin rasanya aku meminta dikirimkan
transportasi oleh orang di rumah. Terasa sekali perantauannya. Mau ke
mana-mana, jauh. Tak ada transportasi. Aku selalu berpikir bahwa aku dikirimkan
ke sini untuk berolahraga. Karena pada saat di Balikpapan, jika ingin pergi ke
mana saja, aku pasti memakai sepeda motor kesayangan ku.
Motor
ku. Aku menjadi ingat pertama kali abah ku membelikan ku motor baru. Motor itu
adalah Yamaha JupiterZ warna hijau. Keren. Kata abah ku motor itu adalah hadiah
untuk ku karena aku berhasil masuk di jurusan IPA di pondok ku. Berbicara
tentang jurusan, aku pernah merasakan semua jurusan yang ada di pondokku. Aku
pernah menjadi anak IPS dua Minggu. Dan setelah itu aku masuk ke jurusan
IPA. Loh kenapa bisa begitu?. Mama dan abah ku tak
begitu mengerti soal pendidikan ku. Yang mereka tahu, aku senang belajar di
pondok tanpa tahu potensi dan bakat ku. Sehingga pada saat aku menanyakan
jurusan apa yang akan aku pilih di kelas lima KMI nanti, mereka meyerahkan
sepenuhnya kepada ku. Aku sempat bingung juga, akhirnya ku pilih IPS.
Setelah
sekitar dua Minggu aku belajar di kelas IPS, libur Ramadhan tiba. Aku pulang ke
rumah, dan kakak-kakak ku menayanyakan perihal jurusan ku. Mereka kaget.
Mengapa aku tak memilih IPA saja. Sebenarnya bisa saja aku meilih jurusan IPA,
tetapi aku takut aku tak mampu. Inilah salah satu kelemahan diriku. Dulu aku
sangat minder terhadap diri ku sendiri. Tetapi sekarang aku tahu bahwa minder
itu dilarang.
Mereka
seperti menyalahkan ku. Sampai-sampai aku dibandingkan dengan anak pak RT yang
masuk IPA. “itu loh Nis, si Yanti. Dia aja masuk IPA. Masa kamu enggak?
Malu-maluin aja kalo ditayain orang”. Aku menangis sejadi-jadinya.
Aku tak suka dibanding-bandingkan. Hingga suatu saat om ku
bersilaturahmi ke rumah. Mama ku mulai membahas tentang jurusan lagi. Mama ku
meminta pedapat dari om ku ceritanya. Om ku juga menyarankan agar aku masuk ke
jurusan IPA. Dan aku putuskan, bahwa aku akan mendatangi kepala madrasah ku,
Ustad Sa’dullah untuk membicarakan tentang kepindahan jurusan ku
ini.
Saat
sudah kembali ke pondok Asyifa tercinta, aku menemui ustad Sa’dullah untuk
membicarakan hal itu. “Oh iya iya, nanti saya bicarakan dengan guru dan ustad
ustadzah yang lain”. Oh My God, berarti nama ku nanti akan masuk
rapat. Jerit ku dalam hati. Ah, tak apalah. Toh ini juga baik. Nama ku
masuk rapat bukan karena nakal atau bandel ku, aku masuk rapat karena kelabilan
ku. Hehe
Setelah
sampai di asrama, aku langsung menunaikan salat Ashar. Salat Ashar kali ini ku
dirikan sendiri karena teman-teman ku yang lain pasti sedang sibuk juga
mempersiapkan dirinya. Selesai salat, aku siap-sipa dan tak lupa untuk membawa
galon karena persediaan air minum ku sudah habis.
Di
lantai dasar aku menunggu Zahra dan Rafikah untuk pergi bersama. Tapi aku ingat
bahwa aku harus mengantar galon terlebih dahulu. Karena tidak mungkin aku pergi
ke kelas dengan membawa galon. Jadi aku putuskan untuk pergi duluan. Melihat ku
membawa galon, Murni jadi ingin membawa galonnya juga. Jadilah kami pergi
mengisi galon bersama.
Dengan
sedikit berlari kami pun sampai di tempat kami mengisi air. Galonnya kami tinggal,
kami langsung kembali untuk masuk kelas. Tetapi sebelum masuk kelas, kami
mampir untuk membeli minum dahulu karena rasa haus yang menyerang tak
tertahankan.
Kami
melanjutkan perjalanan dengan kecepatan 50 km/jam. Karena jarum pendek sudah
sangat dekat dengan angka 5. Kalau intensif pagi, terlambat, sepertinya biasa
saja. Tapi kalau intensif sore, terlambat, luar biasa. Dengan sangat
tergesa-gesa aku langkahkan kaki menuju kelas ku. Untung saja intensif sore ini
kelas ku berada di lantai dua. Sedangkan Murni, kelasnya di lantai tiga.
Saat
hampir mendekati kelas ku, aku terkejut melihat seorang teman ku duduk-duduk
saja dengan santainya di depan kelas. Wah, kayaknya ga masuk lagi
ini. dan ternyata benar, dosen ku tak masuk kelas lagi. Kelas ku juga
sedang dipakai senior semester 4. Kenapa aku tahu kalau yang sedang memakai
kelas ku adalah semester 4? Aku mengenali seseorang di dalam kelas itu. Ya, itu
kak Mahesa. Kak Mahesa adalah senior ku di UKM paduan suara dan kebetulan kami kenal,
karena kami satu devisi di panitia festival.
Ku
lihat Zahra, Rafikah, dan Ega berada di kelas sebelah. Mereka sibuk dengan
hapenya. Akhirny aku memutuskan untuk keluar saja, dan duduk di kursi panjang
yang terletak di depan kelas yang sedang dipakai kak Mahesa tadi. Tak lama aku
duduk disitu, teman-teman sekelas kak Mahesa mulai keluar dari kelas. Ya,
kuliah mereka telah selesai pada hari itu. Aku menunduk saja, api sepertinya
kak Mahesa mengenali ku. Oh ya, sebenarnya kami punya agenda siang ini. tapi
karena aku pikir pak Rudi akan masuk kelas, aku mengatakan bahwa aku tak bisa
ikut bergabung dengannya.
“Hei” sapanya kepada ku.
“Oh iya kak... Gimana tadi
jadi kesananya?”
“Nggak dek. Haryo nya sudah
pulang tadi. Jadi ga jadi deh. Padahal tadi siang aku ke di Base came, terus
aku hubung Haryonya, eh dia udah pulang”
“Oh gitu”
“Iya dek. Loh adek”
“Intensif kak. Tapi
kayaknya dosennya ga datang”
“oh gitu. Di kelas ini ya?”
“Iya kak”
“Ya udah dek, aku duluan
yaa” pamitnya.
Setelah
itu, aku pun kembali ke kelas di mana Zahra, Ega, dan Rafikah berkumpul tadi.
Lalu aku mengajak mereka untuk pulang bersama. Sebelum pulang kembali ke
asrama, aku harus mengambil galon yang aku isi tadi. Akhirnya Zahra dan Rafikah
pun turut menemaniku. Di depan tempat aku mengisi air, ada sebuah gerobak yang
menjual terang bulan.
“Mba Nisa bawa uang lebih
ngga?” tanyanya pada ku
“Ada teh, butuh berapa?”
“Aku lagi ngidam terang
bulan nih”
“Oh iya ini, sok atuh
dipake aja” Jawab ku sambil memberinya uang biru bergambar pahlawan.
Setelah
membeli terang bulan, aku membeli soto untuk dimakan esok hari. Aku memang
seperti itu, selalu memikirkan apa yang akan ku lakukan esok hari. Termasuk
juga apa yang akan aku makan besok. Karena aku tahu, kalau besok adalah hari
buruh yang entah sejak tahun berapa, setiap hari buruh yang jatuh pada tanggal
1 Mei tinta di kalender berubah menjadi warna merah di tanggal itu, aku
memutuskan untuk membeli soto ayam depan gang dosen.
Aku
bukan termasuk orang-orang yang gemar makan mi instan. Aku tahu akan bahayanya.
Oleh karena itu, aku sebisa mungkin menghindarinya. Jika ada yang lebih enak
dan lebih sehat, mengapa tidak?
Setelah
selesai membeli soto ayam, kami melanjutkan pejalan ke asrama. Sambil
bercerita. Sesampainya kami di asrama, kami tak langsung pulang ke kamar
masing-masing seperti biasanya. Kami berbincang-bincang ringan di tempat
parkir. Rencananya sih hanya ingin menghabiskan terang bulannya Zahra, eh
keterusan cerita sana sini sama Rafikah, Bila, Naima, Dinda, Rina.
Mengobrol
seperti ini membuat ku ingat ketika di pondok dulu. Jika sedang tidak ada
kegiatan, ataupun yang harus dikerjakan, kami biasanya membuat suatu forum
cerita. Pesertanya tidak diundang, datang sendiri. Hehe. Biasanya yang dibahas
di forum kecil itu bukan hal-hal berat. Kami membicarakan hal-hal berat hanya
dalam rapat. Cerita yang dibagi di forum kecil ini biasanya kejadian-kejadian
di tiap-tiap kelas. Selalu saja ada hal lucu di setiap harinya.
Saking
asiknya cerita di parkiran, kami tak sadar bahwa malam ini adalah malam jum’at.
Dan pasti ada saja kegiatan asrama pada malam jum’at seperti diba’iyah,
istigosah, dan tahlil. Kegiatan itu di rolling setiap
minggunya. Jika Minggu lalu diba’iyah, maka minggu ini adalah istigosah, dan
Minggu depan tahlil. Untuk istigosah dan tahlil, biasanya
diadakan per lantai. Sedangkan untuk diba’iyah diadakan
bersama (semua lantai) namun untuk giliran tampil untuk membaca diba’ itu
per lantai.
Langsung
aku menuju kamar mandi untuk berwudhu dan kemudian salat bersama Dinda. Padahal
kami sudah diteriaki oleh mbak Fitri dan mbak Sisil. Walhasil,kami terlambat
sedikit. Untung baru mulai sebentar. Untuk istigosah dan tahlil lantai
dua,bertempat di ruang televisi lantai dua. Sedangkan untuk diba’iyah bertempat
di perpustakaan.
Diba’iyah malam
ini dipimpin langsung oleh ustadzah Vivi dari Probolinggo. Jadi, dialek Madura
masih sangat kental dan melekat dalam diri beliau. Beliau bisa ku katakan bahwa
ustadzah yang paling baik di asrama ini. mungkin ini juga karena aku adalah
anaknya beliau atau mungkin aku juga tidak terlalu mengenl dan dekat dengan
ustadzah lain.
Selesai diba’iyah mbak
Riska langsung mengajakku untuk salat isya bersama. Alhamdulillah wudhu
ku belum batal. Langsung ku terima ajakan itu. Selesai salat aku langsung
mengisi perut. Karena khawatir jika nanti baru akan ku isi, perut ku akan
ngambek. Selain karena itu, adalah karena aku akan melanjutkan kegiatan menulis
ku yang 30 halaman dengan deadline hari senin ini.
Entah
berapa jam mata ku ini menahan lelahnya. Lagi-lagi karena aku tak ingin
mendzolimi diri sendiri, maka aku putuskan untuk beristirahat. Dengan harapan
besok tulisan ku akan selesai, dan hari Sabtu dan Minggu untuk belajar tafsir.
Jumat, 01 Mei 2015
Pagi
ini aku terbangun jam setengah lima. Langsung ku sibakkan selimut ku dan pergi
ke kamar mandi untuk berwudhu. Lalu salat berjamaah dengan mbak Riska.
Sepertinya mbak Riska akan pergi pagi ini. dan ternyata benar. Selesai salat,
ia pamit bahwa ia akan pergi ke rumah temannya yang berada di Blitar.
Saat
salat tadi aku masih merasakan kepala ku berputar. Mungkin karena itu aku
tertidur lagi sampai jam 6. Aku tahu bahwa jika aku tak segera mencuci dan
mandi, aku hanya akan bermalas-malasan saja. Ku langkahkan kaki ku untuk ke
kamar mandi dan mencuci, sekalian mandi.
Setelah
selesai semuanya, aku salat dhuha, lalu melanjutkan tugas
menulis lagi. Ditemani oleh lagu yang dinyanyikan oleh Maidany dengan
judul “Kaca yang Berdebu”.
Ia
ibarat kaca yang berdebu
Jangan
terlalu keras membersihkannya
Nanti
ia mudah retak dan pecah, nanti ia mudah keruh dan ternoda
Ia
ibarat kaca yang berdebu
Jangan
terlalu lembut membersihkannya
Ia
bagai permata keindahan
Sentuhlah
hatinya dengan kelembutan
Ia
sehalus sutera di awan
Jagalah
hatinya dengan kesabaran
Lemah
lembutlah kepadanya, namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah
bila ia bersalah, namun janganlah lukai hatinya
Bersabarlah
bila menghadapinya
Terimalah
ia dengan keikhlasan
Karena
ia kaca yang berdebu
Semoga
kau temukan dirinya bercahayakan iman
Syair
yang bagus, suara yang merdu dipadu dengan alunan musik yang indah. Aku sangat
suka dengan lagu ini. Aku menikmatinya, aku menghayatinya. Lagu ini ku dapat dari
teman yang satu konsulat dengan ku, Munir.
Ku
akui saja aku sangat senang bernyanyi. Apa saja yang dapat ku nyanyikan, pasti
ku nyanyika. Tak peduli suara ku bagus atau tidak, merdu atau malahan fals. Aku
menyukai semua lagu lagu apa saja yang aku tahu, pasti akan aku coba cari
liriknya jika itu lagu bahas asing. Lagu Inggris? Aku juga menyukainya. Sangat
suka. Entah sejak kapan aku suka mengumpulkan lirik-lirik lagu tersebut. Yang
aku ingat, sejak sekolah dasar aku memiliki sebuah buku yang isinya lagu semua.
Hobi itu berlanjut hingga aliah. Setidaknya aku memiliki satu buku lagu setiap
tahunnya. Isi bukunya terdiri dari berbagai macam lagu. Dan biasanya, buku lagu
itu sangat laku dipinjam ketika jam kosong atau guru yang akan mengajar tak
bisa masuk, dan tak ada guru pengganti. Kami bernyanyi bersama, apa saja, lagu
pop, dangdut, hingga solawat. Begitulah kami, hal itu yang sukses membuat ku
rindu masa-masa sekolah.
Sejujurnya
saja aku ingin, sangat ingin sekali bisa bergabung di kelas musik. Entah olah
vokal, atau memainkan alat musik. Tapi sepertinya butuh biaya banyak untuk itu.
Aku bukan termasuk tipe orang yang suka memaksa. Aku sadar diri untuk tidak
mementingkan kepentingan pribadi. Oleh karena itu, aku mencoba untuk
menggabungkan diri di UKM paduan suara ini. dan Alhamdulillah kesampaian.
Saat
setelah diterima, kami harus menjalani Trapara (Training
Paduan Suara). Trapara sendiri dibagimenjadi dua bagian yaitu Trapara alam dan
Trapara ruang. Untuk Trapara alam, panitia membawa kami ke Kebun Raya Purwodadi.
Diana kami dikenalkan dan diajarkan dasar-dasar bernyanyi. Seperti teknik
pernafasan, solfigio, artikulasi, dan lain sebagainya. Tak hanya bernyanyi,
kami juga diajrkan bagaimana memberi kodak yang baik dan benar. Itu asi dasar.
Setelah masuk nanti, kami akan diajarkan secara lebih mendalam bagaimana
membaca notasi, mengaransemen suara, memainkan alat musik seperti keyboard,
gendang, dan rebana.
Kami
juga sering tampil di berbagai event pemerintahan. Jadi kami tampil tak hanya
dalam kampus. Kami sering diundang untuk tampil di beberapa acara besar,
seperti harlah PMII di mesjid al-Akbar, dan tampil di acara kongres PSSI di
hotel JW. Marriott Surabaya.
Setiap
akan tampil, pasti kami harus latihan dahulu. Latihannya memang biasanya
seminggu sebelum acara, tapi itu tergantung kepada pembina dan acara yang akan
kami hadiri. Latihannya memang hanya seminggu, tapi dalam sehari, kami latihan
dari sore, ba’da Ashar hingga jam 10. Malahan terkadang sampai jam 12 malam.
Tapi aku dan teman-teman asrama lebih sering untuk meminta izin
pulang duluan karena peraturan asrama yang juga mengikat kami.
Mengingat
penampilan, aku jadi ingin menuliskan pengalaman latihan dan penampilan ku di
harlah PMII dan kongres PSSI kemarin.
Selasa, 7 April 2015
Minggu
ini bisa ku katakan sebagai Minggu sibuk ku. Kenapa begitu. Karena Minggu ini
tepatnya pada hari kamis, adalah puncak dari acara des Natalies organisasi yang
menaungi anak-anak seperti kami, yaitu CSS MoRA. Selain itu hari amis malam,
ada acara penampilan PWNU di masjid Al-Akbar Surabaya.
Oleh
karena itu, dengan keinginan dan kesadaran yang luar biasa membakar dalam diri
ini, Minggu-minggu ini aku sangat bersemangat sekali untuk pergi latihan. Aku
menyadarinya karena jujur saja aku menyesal karena tidak ikut penampilan di
acara wisuda kakak-kakak yang telah menyelesaikan studinya di UIN Sunan Ampel
Surabaya. Yang membuat aku sangat ingin hadir di wisuda ini adalah kakak yang
di wisuda ini, mereka lulus sarjana 7 semester. Ini adalah impian yang sangat
aku impikan.
Namun
harapan untuk hadir itu sangat jauh dari ku. Aku banyak absen di latihan. Entah
karena sakit atau alasan lain yang benar-benar membuat ku melangkahkan kaki ke
tempat latihan.
Pengalaman
pahit itu yang membuatku termotivasi untuk latihan dengan serius. Hari-hari ku
dihabiskan untuk latihan setiap sore hingga malamnya. Lelah itu pasti. Tapi
entah kenapa, aku sangat yakin pada diriku bahwa aku akan ikut.
Puncak
lelah itu datang hari selasa. Kuliah yang padat hingga intensif pada sore hari
dan dilanjutkan ke Rumah sakit (karena pada saat itu ada dua orang kakak kelas
kami yang sedang sakit). Setelah intensif, aku dan teman-teman memutuskan untuk
menenguk mereka. Padahal malam harinya, kami ada gladi bersih. Dan aku masih
ingin menyempatkan diri untuk latihan di ushuluddin. Hasilnya, aku harus
bolak-balik. Lelah memang. Tapi semakin luas lelah itu menggerogoti tubuhku,
seluas itu pula keyakinan ku semakin melekat. Aku yakin, keyakinan ini berasal
dari Tuhan ku yang sangat sayang kepada ku dan sangat menyayangi ku dan akan
selalu memberikan yang terbaik untukku.
Rabu
malam aku positif gak bisa ikut latihan paduan suara di ushuluddin. Di sini,
keyakinan ku untuk ikut perlahan meruntuh. Tapi aku ikhlaskan dan
pasrahkan saja semuanya kepada Tuhan. Untuk kali ini aku merasakan bahwa diriku
lebih ikhlas dan lebih pasrah.
Tuhan
memang Maha Baik, jum’at pagi aku mendapatkan smes dari koordinator suara
sopran yaitu mbak Reni, yang isinya siang nanti setelah solat jum’at, kami
latihan untuk penampilan di masjid Al-Akbar lagi dan di PSSI. Aku baru
menyadari bahwa umat malam adalah malam puncaknya. Bahkan acara puncak tersebut
akan dihadiri akan dihadiri oleh presiden Republik Indonesia yaitu Pak Joko
Widodo.
Tuhan
ku, aku tahu bahwa engkau telah merencanakan yang lebih indah untukku. Terima
kasih Tuhan. Ribuan kata syukur ku pun mungkin belum cukup untuk mengungkapkan
rasa terima kasih ku untuk Mu.
Setelah
latihan sampek jam 5, kami langsung berangkat ke TKP (tanpa mandi terlebih
dahulu). Ba’da magrib kami sampai di masjid, dan kami langsung duduk di tempat
yang telah disediakan. Aku pribadi sempat kaget karena seragam kami yang
berbeda dengan lainnya. Karena kami menghadiri acara PMII, mayoritas yang hadir
memakai pakaian putih-putih dengan dominasi biru dan kuning.
Akhirnya
kami pun dipersilakan untuk duduk. Tak lama waktu berselang, acara pun dimulai
setelah solat isya berjamaah. Acara dibuka oleh penampilan banjari oleh
mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh
Nopember). Kemudian sambutan-sambutan dari pengurus, pimpinan, dan
rambutan-sambutan lain. Di tengah-tengah acara, ada seorang panitia mendatangi
kami dan memberitahu bahwa paduan suara tidak jadi tampil. Aku sempat
kaget. Loh kok itu ya.
Mbak
Lia meminta panitia tersebut untuk langsung mendatangi mas Hilmy. Karena mas
Hilmy adalah ketua kami. Kami memang sempat di gantungkan di sana. Rundown acaranya
saja tak kami dapatkan. Kami tak tahu tampil ke berapa, dan setelah siapa, pada
jam berapa.
Tak
lama kemudian pembina kami, Pak Amin meminta kami untuk keluar dan meluruskan
apa yang telah terjadi. Di luar, kami diberi minum lalu kemudian pak Amin
memberi penjelasan tentang penampilan kami nanti, dan agenda kami selanjutnya.
Karena
suara di sekitar kami yang lumayan ramai (maklum karena sebentar lagi pak
Jokowi akan segera sampai di mesjid ini), yang bisa aku tangkap dari
pembicaraan pak Amin tadi adalah setelah ini kami akan menuju hotel tempat kami
tampil besok untuk gladi bersih. Panitia yang datang kepada kami dan meminta
kami untuk pergi ke sana setelah acara harlah PMII ini.
Akhirnya
kami pun tampil juga. Kami tampil setelah sambutan dari pak Jokowi. Di acara
puncak ini, kami hanya membawakan satu lagu. Yaitu Hubbul Wathon.
Yalal
Wathon yalal wathon yalal wathon
Hubbul
wathon minal iman
Wa laa
takun minal hirman
In
haduu ‘alal wathon
Setelah
tampil, kami pun bergegas untuk pergi ke hotel. Tetapi, atas permintaan
teman-teman dan atas kesepakatan bersama, kami kembali dulu ke kampus untuk
mengambil tas teman-teman yang sengaja di tinggal di sana. Karena sebelumnya
kami berpikir bahwa kami akan pulang. tetapi, rencana berbelok dari rencana
awal.
Dalam
perjalanan ke kampus ada beberapa dari kami yang memanfaatkan waktu untuk
mengistirahatkan diri. Menyempatkan diri untuk istirahat. Tetapi aku tidak. Aku
menikmati perjalanan malam ini. karena aku sendiri sangat senang dengan
pemandangan malam hari, kelap kerlip lampu yang terangkai indah sepanjang
jalan, udara yang bertiup lembut, jalan raya yang tak begitu ramai seperti pada
siang hari, ah menenangkan sekali malam itu.
Sesampainya
di kampus, teman-teman yang memiliki keperluan, langsung mengambil
barang-barang apa saja yang diperlukan. Setelah semuanya selesai, kami
melanjutkan perjalanan menuju hotel JW. Marriott. Letaknya lumayan jauh dari
kampus. Aku tak dapat memperkirakannya karena aku sendiri tertidur saat itu
karena didongengi oleh mas Riski. Ya, mas Riski ikut dengan rombongan kami. Mas
Riski adalah asisten dari pak Amin. Selain memiliki suara yang indah, ia pandai
memainkan keyboard.
Yang
aku ingat sebelum aku tertidur dan saat kami melewati RSI, Rumah Sakit Islam
Surabaya, mas Riski bercerita bahwa ia dilahirkan di rumah sakit ini. RSI,
sesuai dengan namanya Riski Septian Indayana. Sepertinya itu nama lengkapnya.
Aku lupa-lupa ingat. Lalu kami melewati KBS (Kebun Binatang Surabaya) dan ikon
kota Surabaya yang tepat berada di depan KBS. Lalu tak jauh dari sana, aku
tertidur.
Bangun-bangun,
angkot yang aku tumpangi sudah berada tepat di depan hotel JW. Marriott. Kami
pun turun satu persatu. Dan menuju meeting hall untuk gladi.
Sesampainya kami di sana, kami melihat para pekerja masih merampungkan tugasnya
untuk menata panggung. Ada yang memotong tripleks, membuat tangga,
memasang sound system, memasang televisi, dan lain
sebagainya. Tak lama kemudian ada tiga orang dari pihak panitia yang
mendatangi kami. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan berjilbab, cantik,
dan agak berisi.
Kedatangan
mereka ingin mendengar dan melihat apa saja yang akan kami tampilkan pada saat
pembukaan kongres nanti. Kami punemnyanyika lagu Indonesia Ray, Mengheningkan
Cipta, dan Mars PSSI. Mars PSSI? Ya, jadi setiap akan tampil di instansi baru
yang mengundang kami, pasti kami diberi lagu baru, dan harus menghafalnya.
PSSI
berdiri sebagai alat perjuangan rakyat dan bangsa
Di
kancah dunia jadi pengibar merah putih dan lambang negara
Teruslah
tingkatkan mutu dan sehat, di dalam persaudaraan
Jagalah
selalu panji-panjimu,sebagai kebanggaan bangsa mu
Setelah
gladi kurang lebih sampai jam setengah dua malam, pak Amin pun belum busa
memberi kabar pasti bahwa kami akan tidur di mana. Karena pihak panitia masih
mencoba mencarikan kamar di hotel-hotel terdekat. Mengapa tak di JW. Marriott
saja? Di JW. Marriott sendiri sudah penuh. Oleh karena itu panitia mencoba
mencrikan hotel untuk kami. Saking lelahnya teman-teman sudah pada tidur di
kursi. Sebagian mereka tidur, tetapi aku masih bangun untuk menghafalkan
lagu-lagu yang belum aku hafal. Aku belum bisa tidur sepertinya. Hingga mas
Pampam beberapa kali menyuruh ku tidur, tetapi mata ku belum mengantuk. Algi
juga belum tidur. Mas Hilmy, pak Amin juga belum tidur. Dari kaum hawa, aku dan
mbak Ika yang belum tidur. Ia disibukkan oleh tugasnya.
Setengah
jam kemudian, kami mendapat kabar bahwa tak ada hotel yang bisa ditempati oleh
kami.
“begini saja mas, yang
penting itu ada ruangan untuk anak-anak istirahat, biar untuk meluruskan kaki
saja tik apa-apa”
“Oh, nggeh pak. Wonten tapi mboten
Nopo-nopo nggeh. niki ruangan alit mawon in shaaa Allah cukup kok
untuk temen-temen” (Oh ada pak, tapi gak papa ya pak ini ruangan kecil aja, in
shaaa Allah cukup kok untuk temen-temen)
Akhirnya
kami pun diantar ke sebuah ruangan yang berada di lantai tiga. Luas ruangan itu
sekitar 15x15 meter2. Cukup bagi kami untuk meluruskan kaki. Aku sendiri sudah
terbiasa tidur di lantai beram-sama seperti ini. sesampainya aku di ruangan,
rasa kantuk ku belum datang juga, akhirnya aku pun memutuskan untuk ke kamar
mandi, mebersihkan diri, cuci muka, lalu kemudian memaksakan diri untuk tidur.
Saat itu sepertinya sudah memasuki pukul setengah empat pagi.
Aku
terbangun jam enam. Aku sedang tidak salat akhir-akhir ini. jadi aku santai saja.
Tetapi aku harus tetap langsung bersiap-siap memakai kostum. Setelah sikat gigi
dan cuci muka, aku kembali ke ruangan untuk mengambil kostum. Aku kebagian
untuk memakai kostum yang dipakai oleh mbak-mbaknya ke Singapura tahun
lalu. Semoga saja aku bisa mengikuti jejak mereka nantinya. Aku
sangat ingin sekali pergi ke luar negeri tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Siapa yang tak ingin?. Semoga saja bisa terkabul. Amin.
Susah
sekali untuk mencari kostum yang ukurannya pas demam ku. Jika tidak terlalu
pendek, lingkar pinggangnya yang terlalu kecil. Akhirnya aku pun mendapat satu
baju yang pas untuk ku setelah beberapa kali percobaan. Karena bajunya kusut,
aku pun menyetrikanya agar lebih rapi.
Sambil
menunggu antrian menyetrika, pak Amin mempersilahkan kami untuk sarapan. Aku
melihat sebuah kardus KFC (Kentucky Friend Chicken) di atas meja.
“Silahkan diambil dek.
Sarapan dulu. ayo” ajak pak Amin kepadaku
“Nggeh pak”
jawabku dengan bahasa Jawa yang aku bisa.
Aku dan Murni pun
memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
“Ayamnya enak ya mbak Nisa.
Kayak yang di tip-tipi” celoteh Murni di tengah makannya.
“Iya mbak Murni. Mbak Murni
baru kali ini makan ini?” tanya ku. Karena aku tahu sendiri, Murni tinggal di
wilayah timur Indonesia. Pertanyaan ku ini hanya bercanda saja.
“iya mbak Nisa” jawabnya
“Loh memangnya di sana
nggak ada ta?” tanya ku lagi penasaran
“Ada mbak Nisa, tapi itupun
Cuma ada di daerahnya Bu Ragwan, mana harganya mahal banget lagi” jawabnya
dengan muka polosnya. Ia terlihat sekali bahwa ia sangat menikmati sarapan pagi
itu.
Ya
Allah Nisa merasa bersyukur banget bisa ngerasain kfc kalo Nisa lagi pengen.
Walaupun kalau keseringan itu nggak bagus dampaknya. Nisa tetap bersyukur.
Setelah
mendapat giliran menyetrika, dan kebetulan sarapan ku juga sudah habis, aku pun
pergi menyetrika. Untuk menghemat waktu, maka seluruh anggota yang ingin
menyetrika, diharuskan untuk menyetrika bagian depannya saja, toh nanti yang
bagian belakang tak terlalu kelihatan. Tetapi aku malah menyetrika bagian
belakangnya dahulu. Aku tak melihatnya tadi. Langsung ku balik baju yang ada di
taman ku lalu aku berusaha untuk menyetrikanya secepat kilat. Karena
teman-teman, mbak-mbak, dan mas-mas yang lain sudah pada siap.
Setelah
memakai baju, seperti teman-teman lainnya, aku berdandan. Sebenarnya ku bisa
saja berdandan jika hanya memakai lipstik dan memakai maskara atau eyeliner,
karena itu hanya dasar. Tapi teman-teman dan mbak-mbak yang lain menambahkannya
dengan eyeshadow dan blush on. Untuk saat
ini, aku menghindari dulu pemakaian itu semua karena aku sedang dalam
pengobatan. Jadi aku hanya memakai eyeliner dan lipstik. Setelah
berdandan, aku bingung demam jilbab ku. Karena jilbab yang dipakai kali ini tak
seperti penampilan kami biasanya. Jadi aku sibuk mencari bantuan. Kali ini
pakai turban. Aku sendiri tidak ahli dam ijab-hijab seperti ini. Akhirnya Yune
pun bersedia untuk membantu.
Setelah
siap, kami turun ke lantai dua menuju meeting hall. Peserta
kongres sudah ramai memenuhi stand-stand yang berada di
depan meeting hall. Saat sudah sampai di depan meeting
hall, kami belum diperbolehkan masuk karena masih ada sterilisasi dari
pihak berwenang. Setelah menunggu beberapa menit, kami pun masuk dan langsung
menuju belakang panggung. Kami menyiapkan lagu yang akan kami tampilkan di atas
panggung nanti.
Tak
lama kemudian, acara pun di mulai. Pembawa acara yang berada di belakang
panggung seperti kami pun mulai membuka acara. Aku heran mengapa pembawa
acaranya ada di belakang panggung ya? Wanita bertubuh indah itu pun membuka
acara. Sepertinya ia memang pembawa acara profesional. Baju yang ia kenakan pun
sangat cocok. Tapi sayang sekali ia tak berjilbab. Ia tak sendiri, ia
didampingi oleh panitia perempuan yang melihat gladi kami semalam.
Kongres
PSSI adalah acara besar, acara ini dihadiri oleh delegasi dari persatuan sepak
bola Indonesia dari masing-masing daerah. Acara ini juga dihadiri oleh Agum
Gumelar. Wah, ini adalah suatu kesempatan yang tak akan pernah ku lupakan dalam
hidup. Tampil di depan orang-orang hebat di Indonesia.
Pembukaan
berlangsung dengan khidmat. Setelah pembukaan selesai, kami pun kembali ke
lantai tiga karena tugas kami sudah selesai. Aku pikir kami akan menyanyikan
banyak lagu, tetapi ternyata tidak. Kami hanya membawakan tiga lagu saja.
Lagi-lagi Allah menolong ku. Aku belum banyak hafal lagu hiburan seperti manuk
dadali, Chaun mi yana, yamko rambe yamko, dan sebuah lagu dari Madura.
Seperti
biasa, sebelum pulang, kami foto-foto terlebih dahulu sebagai kenang-kenangan.
JW. Marriott adalah hotel besar dan bagus. Kalau tak bagus, tak mungkin akan
digunakan sebagai tuan rumah kongres PSSI. Kami berfoto bersama,
selfie, dan aku sendiri menyempatkan diri untuk foto bersama dengan pak Amin,
yang dengan ikhlas mendidik kami.
Setelah
puas berfoto, aku memutuskan untuk kembali ke ruangan. Ruangan itu sudah sepi.
Wah, sepertinya aku adalah orang terakhir yang mengembalikan baju. Aku langsung
pergi ke kamar mandi. Dan ternyata mereka banyak juga yang masih beda di sana.
Setelah selesai menganti pakian, aku mengembalikan semua inventaris yang ku
pakai kepada pengurus.
Nah
kan benar, aku menjadi orang terakhir. Tinggal aku sendiri wanita di sini. Pak
Amin pun menyuruh ku ikut turun bersama beliau dengan menggunakan lift. Tak
hanya aku berdua dengan pak Amin, dalam lift itu juga ada mas Alfan, mas Amron,
mas Roni, mas Dana, mas Dicky, juga mas Hilmy.
Aku
pun lebih cepat sampai dibandingkan teman-teman lain yang memilih untuk turun
dengan menggunakan tangga. Kali ini kami pulang, tak lagi menggunakan angkot.
Kami telah ditunggu oleh bis. Setelah menunggu sebentar, pak Amin masuk ke
dalam bis. Bis pun berjalan keluar. Saat keluar dari gerbang, pak Amin menyuruh
kami untuk melihat ke sebelah timur. Di sana kami melihat Bonek (Bocah Nekat,
Suporter Persebaya) sedang melakukan aksi demo. Jumlah mereka
tak sedikit. Sangat banyak sekali. Seperti semut jika dilihat dari
kejauhan. Mereka memakai kostum andalan mereka, yaitu baju hijau. Ya, Bone
memang identik dengan warna hijau.
Di
perjalanan pulang ini aku baru menyadari, betapa jauh jarak yang ku tempuh dari
kampus menuju hotel JW. Marriott. Ada sekitar sepuluh kilometer. Kami
menghabiskan waktu setengah jam untuk itu karena jalanan sedang padat.
Lagi-lagi aku ketiduran di dalam bis. Mungkin ini karena efek tidur dua jam
setengah tadi malam.
Sesampainya
di kampus, kami langsung menuju tempat latihan seperti biasa, di fakultas
Ushuluddin. Sambil menunggu konsumsi, kami melakukan evaluasi. Evaluasi penting
bagi kami agar kesalahan-kesalahan yang terjadi hari ini tak terulang kembali
di penampilan yang akan datang.
Setelah
evaluasi, kami makan siang bersama. Kemudian anggota diperbolehkan untuk pulang
ke rumah masing-masing. Sesampainya aku di kamar, aku langsung belajar untuk
ujian tafsir hari senin nanti.
Sore
harinya aku berlatih pidato untuk lomba nanti malam di asrama putra. Ini
pertama kali aku pegang teks. Padahal lomba sudah diberitahukan dari dua minggu
sebelumnya. Setelah latihan, aku pun menghafal teks, lalu salat magrib dan
setelah itu pergi ke asrama putra untuk mengikuti lomba. Aku baru hafalan bukan
karena aku merasa aku pintar dan meremehkan lomba ini. aku hanya mencoba
mencari waktu yang luang, namun belum ku temukan waktu luang itu.
Aku
mendapat giliran nomor enam. Setelah tiba giliran ku, aku sempat gemetaran.
Tapi aku netralisir itu semua dengan senyum yang merekah di bibir ku.
Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Hasilnya, aku serahkan semuanya
kepada Tuhan.
Senin 04 Mei 2015
“Saya
ini lebih mencintai kamu dibanding bapak kamu” tepat pukul 11.20 prof. Ali
Aziz mengatakan ini kepada teman ku, Rifa’i. Saat ia selesai membacakan sebuah
ayat yang pernah kami bahas dalammata kuliah tafsir BKI ini.
Sabtu
ini, kami akan ujian tahfidz.
“Oke besok Sabtu jam
setengah delapan” kata ustad Ainul Yaqien pagi ini
“Lah, kuliahnya di mana
toh?” tanya prof. Ali
“di mesjid ustad” jawab
kami serempak
“Sekali-sekali ke rumahnya
ustadnya gak apa-apa toh. Boleh kan ustad?” tanya prof. Ali kepada ustad Ainul
Yaqien kemudian
“Gak apa-apa ustad” jawab
ustad Ainul Yaqien
“Gak papa donk. wong kamu
timbanya ustadnya sumurnya. Masa sumur yang datangi timba. Malahan nanti di
sana dapat teh hangat” lanjut prof. Ali kemudian yang disambut
dengan tawa penduduk kelas pagi ini.
Sabtu, 09 Mei 2015
Ku
Persia kan matang-matang untuk ujian kali ini. walaupun suara ku bukan
tipe-tipe suara qiraah, aku berusaha semaksimal mungkin
dalam tahfidz. Telah ku coba untuk meniru lagu-lagu dari beberapa
teman yang aku dengar, namun tetap saja aku telah terbiasa dengan lagu ciptaan
ku sendiri.
Selepas
salat subuh, aku langsung memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, aku kembali
me-murajaah hafalan ku untuk ujian hari ini. Tepat pukul 07.00 pagi
aku dan teman-teman berkumpul di mesjid untuk pergi ke rumah ustad Ainul Yaqien
bersama. Tak lama menunggu, angkot yang akan kami tumpangi pun datang. Satu
angkot untuk putra dan satu angkot lagi untuk putri.
Senin, 18 Mei 2015
Layaknya
secangkir kopi, kehidupan selalu memiliki dua sisi. Baik dan buruk, manis dan
pahit, di atas dan di bawah, dan dua sisi lain yang saling berkaitan. Kehidupan
juga hanya memberikan dua pilihan. Ya atau tidak. Itu semua kembali kepada diri
sendiri mau mengambil kesempatan itu atau tidak.
Hari
ini aku sangat sangat menyesal. Ingin ku menangis tujuh hari tujuh malam
rasanya. Tapi aku sadar, bahwa itu adalah kesalahan ku sendiri. Aku tak
mengambil kesempatan emas itu. Karena apa? Minder? Ya Tuhan. Jujur saja aku
selalu berhasil menitikkan air mata setia mata kuliah prof. Ali ini. entah
karena terharu atau menyesal. Hidayah Tuhan sepertinya memang diturunkan lewat
profesor hebat yang satu ini.
Aku
selalu berusaha menguatkan diri bahwa aku bisa. Tapi aku masih belum tahu bagaimana
cara mengembangkannya. Sepertinya aku butuh pembimbing. Bagaimana cara untuk
menjadi istimewa? Aku tahu Tuhan tak diam. Aku percaya bahwa Tuhan akan selalu
memberikan dan merencanakan yang terbaik untukku.
Ya
tuhan, Aku menyesal penyesalan yang dalam. Tapi aku tak tahu mengapa aku tak
semenyesal ini ketika aku sadar bahwa aku telah berbuat maksiat. Ampuni aku
Tuhan. Sungguh aku ingin selalu menghadirkan-Mu dalam hati dan diri ini. Maaf
Tuhan aku terlalu egois. Aku lebih mementingkan keinginan ku ketimbang apa yang
aku berikan kepada-Mu.
Kembali
aku tersadar bahwa menyesal saja tidaklah cukup. Aku tahu aku harus bangkit.
Banyaknya kekurangan dalam diri ini, harus bisa tertutupi oleh
kelebihan yang aku punya. Aku malu pada mereka yang usaha dan hasilnya lebih
besar daripada yang aku hasilkan.
Lagi-lagi
permasalahan muncul dalam retorika. Kisah yang sederhana jika dikemas dalam
retorika yang indah akan menjadi kisah yang istimewa. Ku akui, kisah yang
diceritakan Nadia pada pagi hari ini memiliki retorika dan gaya bahasa yang
cukup indah. Aku juga sadar bahwa keindahan Tuhan yang diturunkan lewat Nadia
ini adalah karena jam terbang yang ia miliki cukup banyak. Gadis
cantik yang berasal dari Garut ini memang suka menulis. Ia sudah beberapa kali
menulis cerpen yang kemudian dimuat dalam buletin bulanan yang diterbitkan oleh
organisasi CSSMORA.
Tips
menghilangkan ngantuk ala Nisa:
1. Membiasakan diri untuk istirahat secukupnya
2. Bikin kopi
3. Jika dirasa rasa kantuk menghampiri, tinggalkan sejenak
pekerjaan, lalu berjalan-jalan sejenak untuk menghilangkan kejenuhan
4. Melanjutkan aktivitas dengan kembali membaca basmalah
5. Selamat mencoba
Indahnya terima kasih
Sering kali kita menyepelekan
dua kata sederhana ini. Padahal makna terima kasih ini sangatlah dalam. Mungkin
bagi sebagian orang biasa saja. Tapi untuk saya sendiri, saya lebih menghormati
dan menyayangi orang yang sering berterima kasih. Jika kepada manusia saja ia
malas untuk berterima kasih, bagaimana ia berterima kasih kepada
tuhannya.
Dengan terima kasih juga,
kita bisa melihat kepribadian seseorang. Kita bisa melihat seseorang dengan
cara bagaimana sikapnya ketika diberi sesuatu. Apakah ia cuek saja, atau malah
mengapresiasi. Dengan terima kasih juga, kita bisa mengetahui bagaimana
seseorang menghargai sesuatu.
Mirisnya, masih banyak
penceramah yang tidak mengucapkan terima kasih kepada panitia. Malahan sering
kali panitia yang mengucapkan terima kasih. Padahal, jika penceramah tidak
diundang oleh panitia, maka penceramah belum tentu bisa seterkenal itu. Dengan
undangan panitia juga, penceramah bisa membagi ilmu yang ia punya kepada .
Bukankah ilmu akan sempurna jika dipelajari, dipahami, diamalkan, dan
dibagikan?
Jadi, berterima kasih itu
penting. Selain itu bisa mencerminkan kepribadian, berterima kasih juga bisa
menjadikan orang lain senang. Senang kenapa? Senang karena merasa bahwa ia
dihargai. Tak ada susahnya mengucapkan atau menuliskan dua kata itu.
Oleh karena itu, mari membiasakan diri berterima kasih.
Selasa, 19 Mei 2015
Entah
mengapa pagi ini aku merasa lebih bersemangat dari biasanya. Dresscode hari
ini adalah hijau tosca. Aku memiliki janji dengan Dinda bahwa kami akan memakai
baju yang sama untuk hari ini.
Aku
memang terbiasa untuk jalan cepat. Entah keahlian turunan dari siapa ini. Aku
memang memiliki tinggi lebih dari mbak, mama, dan abah ku. Aku adalah wanita
tertinggi di rumah. Tertinggi di sisi, bukan berarti pemilik kekuasaan tertinggi.
Pemegang kekuasaan tertinggi tetaplah abah dan mama ku.
Aku
memiliki tinggi yang hampir sama dengan kedua mas kembar ku. Bahkan tinggi kami
melebihi tinggi baja dan mama ku. Gen yang diturunkan kepada kami ini
sepertinya adalah gen dari orang tua abah atau mama kami.
Sesampainya
aku dan Rafikah di fakultas, jam dinding yang tergantung di depan pintu telah
menunjukkan pukul 06:30. Selalu seperti itu. Hanya satu kali kami datang tepat
waktu, jam 6 pagi. Yaitu pada saat akan Ujian Tengah Semester mata kuliah
intensif bahasa Arab. Kami berangkat pagi-pagi karena khawatir akan tertinggal
ujian Al-Istima’ yang tak akan diputar dua kali dalam satu
ujian.
“Nah kan fik, jam segini
lagi kita datangnya”
“Iya ya sa. Waktu UTS itu
aja kita gak telat”
“Malu fik, tapi ini aja
udah dicepetinapa-apanya dari sana”
“Iya sih sa. Kapan ya kita
gak telat lagi”
“Ya gak boleh telat lagi
fik pokoknya. Hehhe ”
Intensif
pada pagi itu juga terasa lebih menyenangkan daripada hari-hari sebelumnya.
Pagi ini aku mampu mengartikan pertanyaan yang ditujukan kepada ku. Jujur saja,
biasanya aku masih dibantu oleh Rafikah untuk mengartikan beberapa kata yang
masih asing di telinga ku.
Sepulang
dari intensif, Mizan mengingatkan ku akan pembagian majalah Naturalist kami
yang telah terbit. Aku kebagian untuk membagikan majalah ke fakultas Ushuluddin
dan UKM Pramuka. Sebenarnya aku membagikannya dengan Febi. Namun karena Febi
sedang sakit pagi ini, dengan senang hati Dinda membantuku untuk membagikan
majalah ke fakultas Ushuluddin. Setiap fakultas mendapat jatah 10 majalah. Satu
buah untuk dekan, tiga buah untuk ruang dosen, dan sisanya untuk mahasiswa yang
kami temui.
Pagi
ini aku belum menemui dekan. Wakil dekan pun sedang tidak berada di ruangan
saat kami ke sana. Entah kami yang terlalu pagi, atau jadwal dekan dan wakilnya
yang sangat sibuk atau apa. Sebelum masuk ke kelas selanjutnya, aku aku mencoba
untuk pergi ke sana lagi, tapi hasilnya tetap sama. Sang dekan sedang tidak
berada di ruangan. Aku pun memutuskan untuk mencoba lagi esok hari. Karena
siang ini aku harus menghadiri rapat kerja ke-tiga pengurus CSSMORA 2015-2016
di Delta Fishing, Sidoarjo.
Sebenarnya
aku dan teman-teman putri sendiri masih belum mendapatkan kabar yang jelas
mengenai raker ke-tiga ini. Hal ini dikarenakan kami yang harus pulang duluan
pada saat raker ke-dua tadi malam karena peraturan yang telah ditetapkan oleh
asrama, yaitu para mahasantri harus kembali ke asrama sebelum jam 9 malam.
Sepulang
kuliah siang itu pun kami memutuskan untuk salat zuhur terlebih dahulu sebelum
berangkat, karena kami mengira bahwa kami akan berangkat setelah zuhur.
Ternyata rencana kakak-kakak pengurus yang lain, kami akan salat berjamaah di
tempat tujuan. Walhasil, kami menjadi terlambat dan membuat kakak-kakak
pengurus yang lain harus menunggu kami. Di situ kadang saya merasa sangat tidak
enak.
Di
dalam kendaraan pun aku terus menciba untuk mencairkan suasana. Aku bukan
termasuk tipe-tipe wajah tanpa dosa, aku hanya ingin keadaan kembali seperti
semula. Kebetulan aku satu angkutan dengan kakak-kakak yang mayoritas
laki-laki, ini pun karena keterlambatan kami tadi, ya biasanya kalau laki-laki
tidak terlalu emosi. Karena tak mungkin juga mereka tega menampakkan rasa
amarahnya kepada kami yang perempuan. Kami Sara diri kok, kami khilaf, dan tak
ingin mengulanginya lagi.
Setelah
setengah jam berada di dalam angkot dan dengan kondisi lalu lintas yang
adat-lancar, Alhamdulillah akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan yaitu
Delta Fishing. Kakak-kakak pengurus yang beku menunaikan salat zuhur tadi pun
langsung menunaikan kewajibannya. Setelah itu pun kami berjalan menuju aula
tempat wisata tersebut. Selain tempat wisata, tempat ini pun juga dapat
digunakan sebagai tempat wisuda anak taman kanak-kanak. Buktinya saja pada saat
kami datang, background yang ada dalam ruangan tersebut
bertuliskan “Perpisahan dan pelepasan siswa-siswi PPT Anggrek tahun 2014-2015”.
Dan sayangnya lagi, kami tak membawa banner. Hasilnya, kami pun rapat kerja
terakhir dengan suasana TK seperti ini.
|
|
Walaupun
dengan suasana seperti itu, kami harus tetap mengkondisikan diri dan suasana
agar raker berjalan dengan khidmat dan lancar. Udara di sini sangat sejuk,
walaupun berada di tengah kota, tempat ini mampu mengarahkan angin sejuk
bertiup ke arah kami. Karena di setiap sudut di ruangan ini telah tersedia
kurang lebih enam kipas angin besar. Hehe.
Rapat
kerja ke-tiga ini kurang lebih berlangsung selama 3 Jam 30 menit. Rapat ke-tiga
ini berfungsi sebagai pengesahan seluruh program-program kerja yang telah dibuat
dan dirapatkan oleh masing-masing departemen. Untuk CSSMORA UIN Sunan Ampel
sendiri, memiliki 35 program kerja.
Setelah
semua program kerja disahkan, kami pun makan siang bersama. Para pegawai Delta
Fishing sudah mulai mondar-mandir membawa makan siang dan menaruhnya diatas
meja. Pemandangan ini jelas mengganggu dan membuyarkan konsentrasi kami. Namun
tak lama setelah itu, rapat pun selesai.
Karena
ini adalah wisata pemancingan, maka menu utamanya adalah ikan bakar.
Alhamdulillah sekali untuk hari ini. Jujur saja, aku sudah lama menginginkan
makan ikan bakar, dan Alhamdulillah hari ini kesampaian. Terima kasih
Tuhan. Lelah rapat akhir-akhir ini terbayarkan.
Setelah
makan siang bersama, kami pun membubarkan forum. Ketua pengurus memberikan
waktu sampai jam 16.30 untuk jalan-jalan dan hunting di
sekitar pemancingan. Aku yang notaben selalu tak ingin kehilangan momen, tak
ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku dan teman-teman angkatan 2014 yang
terpilih menjadi pengurus pun mencari tempat yang bagus untuk foto bersama.
Setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tak terasa jam telah
menunjukkan pukul 16.30. Tak lama kemudian terdengan pengumuman “Pengunjung
Delta Fishing yang berbahagia, jam telah menunjukkan pukul 16.30. Dengan tempat
wisata pun akan segera tutup. Bagi pengunjung yang masih berada di dalam
kawasan wisata, diharapkan untuk segera meninggalkan tempat. Terima kasih”.
Kami
pun segera meninggalkan tempat dan menuju mushola yang berada di luar tempat
wisata dan menunaikan salat asar di sana. Beberapa orang putri memilih untuk
mampir ke beberapa toko di sekitar tempat wisata yang menjual aneka cemilan
dengan harga terjangkau. Dengan sepuluh ribu rupiah, pembeli boleh memilih
empat camilan yang diinginkan.
Rabu,
27 Mei 2015
Hari
ini penutupan festival Paduan Suara dan Qasidah yang diselenggarakan oleh UKM
Paduan Suara Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Acara ini diketuai langsung
oleh mas Amron Nuskhi dalam bidang kepanitiaan. Kepanitiaan ini sendiri
dibentuk kurang lebih tiga bulan sebelum hari H. Padahal untuk acara festival
yang ruang lingkupnya cukup luas, yaitu se-Jawa Timur, harusnya kepanitiaan
telah terbentuk minimal lima bulan sebelum hari H.
Sebenarnya
kami sadar, akan tetapi bagaimanapun festival ini harus tetap dilaksanakan.
Tahun lalu festival ini tidak dapat terlaksana karena paduan suara sendiri
sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengikuti lomba di Singapura.
Oleh karena hal itu, maka festival untuk tahun ini benar-benar harus
dilaksanakan. Walaupun dengan waktu yang relatif singkat ini, acara festival
tahun ini harus sukses.
Hal
itulah yang membuat kami, panitia sangat bersemangat untuk menyukseskan
festival ini. Dalam seminggu kami bisa rapat dua kali dengan waktu dari ba’da
magrib sampai paling cepat jam setengah sepuluh malam. Dan setiap hari rabu
malam, kami mengadakan istigatsah bersama untuk memohon Ridha Allah serta
memohon kelancaran acara besar kami kali ini.
Lomba
festival ini berlangsung selama dua hari yaitu pada tanggal 26-27 Mei 2015 yang
bertempat di gedung Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya. Tanggal 26 untuk lomba
kasidah dan tanggal 27 untuk lomba paduan suara sekaligus pengumuman pemenang.
Untuk kasidah sendiri memiliki dua kategori yaitu remaja dan ibu-ibu. Sedangkan
untuk paduan suara, hanya untuk kategori SMA/MA sederajat.
Jujur
saja aku terpesona oleh peserta paduan suara dari SMK PGRI Malang. Dengan dress
code biru dan ungu, mereka terlihat sangat elegan. Penampilan mereka
juga sangat patut diacungi jempol. Aku sendiri akan memberi 10 jempol jika aku
memiliki semua jempol itu, sayangnya aku hanya punya dua dan aku bersyukur akan
hal itu.
No
body perfect, itu pasti. Setiap grup pasti memiliki kekurangan dan kelebihan.
Tuhan pasti akan menutup kekurangan dengan kelebihan. Koreografi dan kostum
yang rapi, cukup untuk menutupi suara mereka yang ku rasa belum mencapai
tingkat halus. Untuk aku yang masih awam tentang dunia musik ini, hanya
memiliki penilaian seperti itu. Tak seperti juri yang sudah kompeten di bidang
ini,mereka menjelaskan secara detail apa saja yang masih kurang dari penampilan
mereka.
Untuk
hari ini sendiri, Alhamdulillah aku bisa stay di auditorium
sejak acara dimulai sampai acara selesai dan evaluasi. Jujur saja, kemarin aku
hanya mampir sebentar dan tidak mengikuti acara sampai selesai dan tidak pula
menghadiri evaluasi yang tak pernah absen dari setiap agenda dan acara yang
kita lalui.
Dalam
evaluasi kali ini, aku sangat sadar bahwa aku hanya mampu melakukan pekerjaan
dan membantu semampu dan setahu ku saja. Aku sangat sadar sekali sebelum mas
Dana menyampaikan evaluasinya. Jujur saja, dalam divisi DPA sendiri, komunikasi
internal tidak begitu terjalin. Jadi terkesan bahwa hanya mas Dana saja yang
bekerja. Aku sendiri sebagai junior belum terlalu paham akan job
discription divisi ku. Ini adalah pertama kalinya aku dimasukkan ke
dalam divisi DPA dalam kepanitiaan.
Tapi
aku tak menyesal atau marah. Justru aku harus banyak bersyukur karena banyak
ilmu dan pelajaran yang dapat aku ambil di sini. Aku harus bersyukur
kepada Tuhan bahwa aku telah diberikan kesempatan ini, yang orang lain belum
tentu bisa mendapatkan dan merasakannya. Hal itu yang lalu aku jadikan motivasi
untuk mendongkrak semangat ku. Kesempatan hanya akan datang pada orang-orang
tertentu dan tidak akan datang dua kali.
Di
sini juga aku belajar untuk mengemban amanah dengan baik. Aku percaya bahwa
Tuhan memberikan ini karena Tuhan tahu aku mampu. Aku jadi teringat kejadian
tadi siang. Tadi siang koma ku, Faisal mengumumkan pembentukan panitia untuk
acara rodi BKI tanggal satu bulan Juni ini. Dan aku diberi amanah lagi untuk
menjadi ketua panitia. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? Aku
sendiri tak tahu atas dasar apa mereka memilih ku untuk menjadi ketua
panitia. Kuatkan aku Tuhan, aku tahu Engkau selalu pasti memiliki
maksud atas semua ini. Mampukan aku Tuhan.
“Tak hanya latihan, tampil,
latihan, tampil. Dengan event-event seperti ini kita semua bisa tahu bagaimana
bisa hidup dengan orang banyak. Dan tak dapat dipungkiri bahwa sebagai makhluk
sosial, manusia pasti membutuhkan manusia untuk tetap hidup. ” Itulahyang
dikatakan mas Hilmy, ketua UKM Paduan Suara Mahasiswa pada evaluasi malam hari
ini. Tepat setelah magrib, auditorium yang kami gunakan telah kembali bersih
seperti sedia kala.
Pada
saat bersih-bersih seperti ini, aku jadi teringat rumah. Sebagai seorang
perempuan, aku memang harus banyak belajar untuk hal-hal seperti ini
sebagaibekal aku berumah tangga nanti. Lagi-lagi aku harus berterima kasih dan
bersyukur kepada Tuhan. Aku berharap lelah yang ku rasakan tak hanya sekedar
lelah. Aku harap lelah ku lelah yang berkah dan bermanfaat.
Sembari
menunggu panitia yang lain berkumpul, teman ku yang ganteng dari Pontianak,
Alghifary menjadi korban bully sepertinya sore ini. Mbak
Erlin, senior kami terus menggoda Alghi. Tak lama kemudian mbak-mbak senior
seperti mbak Didin dan mbak Lia turut menggoda Alghi. Godaan itu selalu saja
mengundang tawa panitia yang lain. Bahkan mas Hilmy, ketua paduan suara kami
pun turut tertawa. Bonusnya, mbak-mbak yang godain Alghi tadi kebanyakan
berasal dari suara sopran.
“Kamu sopran dek?” tanya
seseorang yang duduk di belakang ku, yang ternyata mas Agung
“Iya mas” jawab ku
“Ntar jangan kayak itu juga
ya dek” candanya kepada ku lantas kami tertawa bersama
“Hahaha nggak mas. Kami
udah kebal. Kami Bush punya penyangkal. Udah bosen sama Alghi” balas ku
“Hahaha onok-onok ae deeek
dek” katanya kemudian
Evaluasi
pun akhirnya dimulai tepat pukul 19.00 dan berakhir pukul 21.15 Waktu Indonesia
Barat. Tanpa basa-basi dan menunggu waktu waktu lagi, aku dan teman-teman yang
tinggal di pesmi lainnya langsung pamit mohon izin kepada pak Amin Lubis selaku
pembina paduan suara ini.
Dengan
setengah berlari, akhirnya kami pun sampai juga di depan banguunan setinggi
lima lantai itu. Pintu depan telah tertutup dan dikunci. Padahal jam 21.00 tadi
aku telah mengirim sms permohonan izin pulang agak terlambat, untuk pengurus
bagian keamanan.
Tak
lama kemudian mbak Sisil, pengurus bagian keamanan pun turun untuk untuk
membukakan kami pintu. Aku tak sendiri. Dari teman-teman paduan suara aku
bersama Umi Kalsum dan Sawitri, kemudian kami bertemu dengan Rizki, mbak
Zakiyah dan Devi di depan pintu pesmi. Mereka baru pulang dari rapat organisasi
yang menaungi mereka.
Bukan
pertama kalinya aku seperti ini. Latihan yang terkadang hampir sampai larut
malam membuat kami pulang terlambat. Sebenarnya kami merasa tak enak kepada
pengurus. Tapi ya bagaimana lagi. Kami berada di posisi yang
terjepit. Tak hanya karena latihan, terkadang ada rapat organisasi yang
selesainya lewat dari jam 9 malam.
Aku
pun langsung menuju kamar ku. Niatnya sih hanya ingin merebahkan diri dan
merenggangkan otot yang lelah dituntut bekerja satu hari penuh. Lagi pula aku
belum menunaikan kewajiba salat isya’ ku hari ini. Tapi, aku malah tertidur dan
Tuhan memang Maha Baik, Tuhan membangunkan ku tepat pukul 12 malam. Aku
memutuskan untuk mandi kemudian menunaikan salat isya’.
“Krucuk
krucuk” perut ku meminta haknya. Aku teringat bahwa aku belum ada makan hari
ini. Selepas salat isya’ aku memenuhi hak perut ku. Sangat janggal sekali
rasanya makan sendiri di tengah malam saat orang lain tertidur pulas.
Setelah
makan, aku tak merasakan kantuk sedikit pun. Aku memutuskan untuk melanjutkan
tugas menulis ku dari Prof. Ali Aziz yang mengharuskan setiap mahasiswa di
kelas ku untuk menulis 50 halaman. Tulisan ku sendiri masih kurang 12 halaman
dengan deadline akhir Mei. Aku yakin yakin yakin aku pasti bisa bisa bisa.
Dengan
ditemani lagu-lagu kesukaan ku, lincah sekali jari-jari ku malam ini.
Sebenarnya banyak hal yang ingin aku tuang dalam tulisan ini, tapi ada saja
halangan untuk menulis. Entah kegiatan ini itu, kewajiban ini itu. Tapi di
sinilah letak tantangannya. Semakin tua harusnya aku semakin bisa membagi dan
menggunakan waktu dengan setumpuk kegiatan yang aku punya.
Tepat
pukul 02.30 alarm teman sekamar ku berbunyi. Pemiliknya pun sempat terbangun
dan mematikan alarm. Dari gerak tubuh dan cara ia mematikan alarm, sepertinya
ia memutuskan untuk tidur lagi. Dugaan ku benar. Tak lebih dari lima menit
setelah ku palingkan pandangan ku dari laptop, telah ku lihat ia kembali
tertidur pulas.
“Kriiing
Kriiiing Kriiing Kriiiing” yang ini suara alarm ku. Aku memang selalu memasang
alarm jam 03.00. sebenarnya ingin sekali aku melanjutkan tulisan ini. Tapi
kepala ku sepertinya tak bisa diajak kompromi pagi ini. Mungkin ia lelah.
Padahal nanggung sekali sebentar lagi subuh akan tiba. Aku pun mengambil
langkah memasang alarm jam 04.00. kemudian aku pun mengistirahatkan tubuh ku
lagi.
Kamis, 28 Mei 2015
05.10
Aku
dikejutkan oleh semburat oranye yang dengan gagahnya menyinari langit pagi hari
ini. aku berlari menuju kamar mandi untuk berwudu. Ku kejar subuh ku yang
semoga masih diterima Allah pagi ini. Ya Tuhan, sungguh bukan aku yang
menginginkannya. Terlalu banyak setan yang menggoda dan merasuki mimpi ku pagi
ini. Aku tak ingin mengulanginya lagi Tuhan.
Setelah
salat subuh, aku langsung bersiap-siap untuk pergi intensif. Mandi? Itu sudah
pasti. Masa iya cewek gak mandi. Dengan berbekal roti yang diberikan tadi
malam, aku mengganjal hak perut ku pagi itu. Tak lama kemudian Rapikah datang
ke kamar menjemput ku untuk berangkat bersama.
Di
tengah perjalanan menuju fakultas, aku teringat akan tugas menulis sinopsis
film yang kemarin diputar oleh dosen intensif ku. Sebenarnya tugas itu telah ku
kerjakan sewaktu evaluasi tadi malam, tapi aku tetap berharap bahwa tugas itu
tidak dikumpulkan. Bukan karena aku tidak percaya diri akan tiga ku, tetapi
sepertinya lebih baik jika pagi ini diisi dengan tips-tips mengerjakan TOEFL
seperti hari-hari biasanya.
Seperti
yang kita ketahui bersama, mengerjakan TOEFL bukan Lay hal yang mudah. Mungkin
akan terasa biasa saja bagi sebagian orang yang menyukai pelajaran Bahasa
Inggris. Dengan waktu yang relatif singkat dengan pertanyaan lebih dari 100. Siapa
yang tidak mblenger? Padahal sejak sekolah dasar sampai aliah,
aku sangat menyukai pelajaran ini. tetapi, entah mengapa saat aku dipertemukan
oleh kelas TOEFL, aku selalu merasakan gelisah. Apakah ini cinta? Bukan. Bukan
cinta. Aku baru akan mencoba untuk mencintai kelas ini.
Aku
makin cinta jurusan ku
Jum’at 29 Mei 2015
Lagi-lagi
insomnia ku kambuh. Aku terjaga sampai jam 01.00 dini hari tanpa tidur
sebelumnya. Entah apa yang aku kerjakan. Alarm ku yang ku setel jam 03.00 pun
tak mampu membantu membangunkan ku. Ku lihat jam di layar smartphone ku
menunjukkan pukul 04.45. lalu ku Lahat mbak Riska masih bersiap untuk
mendirikan salat subuh.
“belum salat mbak Ris?”
“Blm mbak” jawabnya
kemudian
“Tunggu bentar ya” balas ku
Aku
pun mengambil air wudhu lalu mendirikan salat berjamaah dengan mbak Riska. Pada
rakaat pertama ia membaca surah Asy-Syams, surah favorit yang
biasa ku baca pada saat salat subuh. Dan di rakaat kedua biasanya aku membaca
surah Ad-Dhuha
Setelah
salat, aku berencana untuk mencuci semua pakan kotor ku. Akan tetapi,
niat hati hanya ingin merenggangkan otot di kasur kesayangan, eh
malah ketiduran. Pada saat terbangun lagi pukul setengah 6 pagi, aku langsung
melawan rasa malas dan kantuk ku dengan mengambil handuk, peralatan mandi, dan
pakaian yang ingin dicuci lalu pergi ke kamar mandi.
Dua
jam lamanya aku bertahan di kamar mandi. Pakaian kotor ku memang lebih banyak
dari biasanya minggu ini. Mungkin ini dua kali lipatnya. Untuk masalah baju,
dalam sehari aku bisa dua sampai tiga kali ganti baju. Tak betah rasanya jika
memakai baju yang sama seharian. Apalagi minggu ini aku sedang padat-padatnya
kegiatan. Mulai dari festival, sampai persiapan konseling spiritual.
Selesai
mencuci, pasti aku langsung mandi. Setelah mandi dan menjemur pakaian, aku
sarapan dengan Dinda. Kami sarapan bersama di kamar ku yang luasnya sekitar 6x6
m2. Setelah itu, kami pun berpakaian untuk kuliah pagi ini.
Kuliah
pagi ini akan diisi oleh pak Agus Santoso, selain menjadi kepala jurusan, pak
Agus juga pengelola PBSB untuk fakultas Dakwah. Tak seperti biasanya, setelah
presentasi kali ini, peserta diskusi tak diperkenankan untuk bertanya. Malahan
kami yang ditanya oleh pak Agus. Beliau memberikan sepuluh pertanyaan yang
cukup dijawab benar atau salah.
Pembahasan
pagi ini adalah terapi Realitas. Setelah presentasi dan kuis, pak Agus ingin
penutupnyakami tak hanya paham teorinya saja. Oleh karena itu, kami langsung
praktek untuk teori realitas ini. mulai dari attending sampai
penutup.
Kursi-kursi
kuliah yang ada di dalam kelas pun sudah dikondisikan menjadi
berhadap-hadapan. Seluruhnya berjumlah 3 baris berpasangan konselor dan klien,
jadi semuanya menjadi 6 baris. Di sesi pertama, aku berhadapan dengan Nadia. Di
sini, aku menempati posisi sebagai konselor. Sempat janggal rasanya jika pada
saat seperti ini aku yang menjadi konselor. Karena jujur saja, saat ini justru
aku yang sangat membutuhkan konselor. Akhir-akhir ini aku merasakan perubahan
yang ada pada diriku. Teman ku pun sempat heran dengan ku akan perubahan ini.
Untung saja sesi pertama ini hanya praktek attending.
Setelah
itu posisi klien bergeser ke kanan, dan kali ini pasangan ku adalah Fiska. Pada
sesi ini, aku yang menjadi kliennya. Lagi-lagi harus ku katakan bahwa Tuhan
memang Maha Baik. Ia tak ingin aku mengekspolarisikan diri ku kepada orang yang
salah. Mengapa ku katakan begitu? Bisa ku katakan bahwa Fiska adalah teman
dekat. Kedekatan kami berawal saat matrikulasi. Setelah itu, kami sering pergi
bersama. Entah untuk makan, membeli sesuatu, atau untuk menyegarkan otak. Kami
menceritakan apapun. Bahkan untuk masalah hati, ia tak canggung untuk
menceritakannya pada ku. Terkadang Fiska seperti menjadi mbak ku saja. Aku
menanyakan apa-apa ke dia. Dari hal berpakaian hingga memutuskan sesuatu misalnya
saja saat aku ingin membeli barang atau apa dan apakah kegiatan ini aku ikuti
atau tidak.
Dengan
lancarnya aku mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiran ku akhir-akhir ini.
Hingga aku tak segan ataupun malu menitikkan air mata di hadapannya. Sebenarnya
aku sendiri tak mengerti apa yang ku rasakan hingga menangis seperti itu. Sedih
tidak, senang pun tidak. Entah syndrom apa ini.
Saat
berada di depan teman-teman, aku seperti tak merasakan apa-apa. Malahan aku
yang sering berusaha keras untuk membuat mereka tersenyum bahkan tertawa. Ini
bukan paksaan. Aku tak merasakan bahwa ini adalah paksaan agar aku melupakan
apa yang sebenarnya aku rasakan. Semua ini mengalir begitu saja. Keadaan ini
sangat berbanding terbalik saat aku sendirian, merenung, melamun, dan berpikir.
Sampai-sampai aku menangis sendiri. Dan tak seorang pun dari teman ku yang
mengetahui hal itu.
Setelah
panjang lebar pak Agus menjelaskan lebih lanjut tentang hal ini, aku pun
dikejutkan oleh pertanyaan beliau
“Kamu. Kenapa kamu bisa
sampai menangis di hadapan dia?” tanyanya lalu menunjuk Fiska
“Karena saya percaya dia
ustadz” jawab ku kemudian
Jawaban dari mana itu? Dari
hati mungkin iya. Jujur saja, mungkin jika tadi aku dipasangkan dengan yang
lain aku tak akan selepas ini. Walaupun hubungan ku dengan Fiska tak sedekat
dulu lagi, aku masih berusaha memegang tali pertemanan ini dengan
sebaik-baiknya. Aku selalu berusaha untuk mempertahankannya.
Teknik, cara, dan model
pembelajaran yang ada dalam jurusan ini semakin membuatku jatuh cinta pada
Bimbingan dan Konseling Islam ini. Selain itu, jurusan ini juga sangat membantu
seseorang untuk mengendalikan diri bahkan membantu orang lain dalam hal
membantu menyelesaikan masalah, memahami diri, juga mengendalikan emosi.
Tak
terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.26 siang pertanda bahwa perkuliahan harus
diakhiri karena kaum Adam akan melaksanakan salat jumat. Materi hari itu pun
ditutup dengan membaca do’a dan kafaratul majelis.
سبحانك اللهم و بحمدك أشهد ان الا اله انت استغفرك و اتوب اليك
“Maha suci engkau ya
Allah. Segala puji bagi-Mu. Tiada tuhan selain engkau. Aku mohon ampun dan aku
bertaubat kepada-Mu”
Aku
sendiri tak langsung pulang ke asrama siang itu. Aku akan membicarakan tentang
acara yang akan diselenggarakan oleh jurusan untuk hari senin, 01 Juni nanti.
Dan kemarin, aku ditunjuk untuk menjadi ketua panitia. Amanah sepertinya tak
akan pernah lepas dari diri ku. Selalu ada saja hal yang harus aku pertanggung
jawabkan. Tuntun, kuatkan, dan sabarkan aku ya Rabb. Aku yakin yakin
yakin akan menjalankan tugas dan amanah ini dengan sangat baik. Aku yakin
karena aku memiliki Engkau Tuhan ku.
Aku
diingatkan Faisal bahwa nanti siang masih ada mata kuliah Dinamika Kelompok
yang dibimbing oleh Pak Basyid jam satu siang. Aku memutuskan untuk tidak
pulang ke asrama dan salat serta makan siang di gang dosen. Makan siang hari
ini aku ditemani dinda.
Selesai
makan siang dan sembari menunggu teman-teman yang lain datang, aku dan Dinda
mendatangi Bu Umi untuk membicarakan masalah konsumsi untuk hari senin nanti.
Namun Bu Umi masih berada di luar untuk menjemput anaknya. Teman-teman belum
tampak, kami memanfaatkan waktu untuk menggunakan komputer-komputer yang ada di
lorong fakultas untuk mengecek blog kami. Tak lama setelah itu, batang hidung
teman-teman mulai tampak.
Namun,
seiring teman-teman berdatangan dan kami akan masuk kelas, aku melihat Bu Umi
keluar dari laboratorium BKI. Aku dan Dinda pun mohon izin ke Faisal sebagai
koma untuk menemui Bu Umi terlebih dahulu. Lagi pula diskusi ini juga tak
dihadiri oleh Pak Basyid. Bukan kami meremehkan. Kami khawatir jika tak dapat
menemui Bu Umi setelah diskusi takut Bu Umi akan pulang ke rumah.
Setelah
berada di ruang dosen cukup lama dan kebetulan di sana juga ada Pak Agus,
langsung saja ku tanyakan konsep acaranya kepada beliau. Setelah ku
rasa cukup jelas, pak Agus menyuruh Kurniawan untuk meminta kunci ruang sidang
kepada pak Salim. Setelah itu kami disuruh untuk memasang banner dan
membersihkan ruangan. Karena pada saat itu pak Agus juga tahu bahwa diskusi
kami siang itu tak dihadiri oleh pak Basyid.
Pekerjaan
itu pun selesai tak lama setelah azan asar. Kami pun mohon izin untuk salat dan
istirahat. Rencananya jam setengah empat akan kembali. Tapi sepertinya
teman-teman putra banyak yang sedang berada di luar. Ku jelaskan hal itu pada
pak Agus. Dan beliau memutuskan untuk melanjutkan persiapan pada ahad pagi.
19.00 WIB
Waktu
yang rencananya akan ku gunakan untuk melipat cucian ku, malah menjadi waktu
rapat untuk pembagian tugas dari Bu Yusria pada mata kuliah Pemahaman Individu.
Yang ku lihat dari kaum Adam hanya Fikry, Kurniawan, dan Mizan. Teman-teman
putri sebagian besar sudah datang semua. “Yang lain pada ke mana ya?” tanya ku
dalam hati.
Beberapa
pesan dari grup kami di aplikasi Whats App meramaikan ponsel ku. Seperti biasa,
aku langsung membukanya. Dari situ aku dikejutkan bahwa teman-teman putra pas
terkunci di fakultas. Pantas saja tadi aku sempat melihat foto yang dikirim
oleh Rahmat Hidayat, teman ku yang berasal dari Pangkep duduk di depan banner
dan lantai sudah Dalai oleh karpet. Padahal waktu aku tinggal tadi masih belum
diberi karpet.
Aku
langsung menghubungi Kurniawan untuk menelpon pak Salim agar pintu fakultas
bisa dibuka. Kurni memang sering berhubungan dengan pak Salim karena ia sering
menjadi panitia bagian perlengkapan yang secara tidak langsung tugas-tugas
itulah yang membuatnya menjadi agak dekat dengan pak Salim.
Ada
10menit kami menunggu. Tak lama kemudian, teman-teman putra
yang terkunci mulai terlihat berjalan mendekati masjid. Aku
dikejutkan oleh pria bertubuh tinggi besar yang kelihatannya sudah tidak asing di
mata ku. Dalam keremangan jalan menuju masjid aku terus bermain tebak-tebakan
dengan otak ku. Siapa itu siapa itu??
Sosok
itu pun semakin mendekati masjid dan dalam radius 7 meter aku sudah bisa
mengenali sosok yang ku maksud. Dia adalah Rafi Fauzan Al-Baqi. Senior ku
angkatan 2012. Pintar dalam bidang akademik, tak sombong dan ku akui saja bahwa
ia juga memiliki paras yang tampan. Wajahnya sundanya sangat terlihat. Ia
memang berasal dari Bandung.
Aku
heran mengapa dia juga ada di sini. Oh iya, kemarin Faisal sempat mendatangi
kak Rafi untuk menanyakan tugas yang telah diberikan oleh Bu Yusria. Dan malam
ini, mumpung ada kak Rafi di sini, ia akan menjelaskan langsung kepada kami.
Dari gaya bicaranya, terlihat jelas sekali bahwa ia adalah orang yang intelek.
Pria yang ngefans berat sama Manchester United ini memiliki koleksi buku yang
tak terhitung nilainya. Jika referensi yang kami cari tidak ada di
perpustakaan, biasanya kami meminjam kepadanya jika ada.
Jam
digital yang tertera di sebelah barat masjid telah menunjukkan pukul 20.53,
tandanya kami harus bersiap-siap pulang ke asrama. Sebelum forum dibubarkan,
kami harus memanjatkan doa terlebih dahulu agar perkumpulan kami berkah dan
bermanfaat.
Mengenang
mu
Judulnya saja mengenang mu,
aku menjadi teringat tulisan ku pada
Thursday, 2nd of April 2015
I start today with the
sickness on my head. I don’t know why. I feel it since last night. This
morning, I don’t have anything to eat. Than I force my self to go to campus.
Today we talk about many
tips in toefl. Ya, because our final test maybe is toefl test. After finishing
intensive class, I have hadits BKI class. Unfortunately I forget to write the
hadits. Then I write and searching many
explanation about the hadits. And the fortunately one is I finished it before
Mrs. Ragwan enter the class.
Then we discuss like the
usual. Today I am in 5th club. Last week I amin 4th club.
And last week I am being presenter. In talking hadits about iman, islam, and
ihsan. I feel very nervous. Because all of presenter before me has good
presenting. Jadul and Munir advice me to stay in presenting. They believe that
I can. Other believe, why not so do I? Then, my opportunity to present my
presenting. I speak fluently Alhamdulillah. After my presentation, one of my
friend said that my presentation is very good. I am very grateful for it.
After finishing Hadits BKI
lesson, I go back to dormitory. But when I am on the way, I meet sister Fariha
calls me and asks me to go to “graha pena” because there futsal competition was
held. Ya Allah, I am forget that I am the commite of that competition. Then I
go to my dormitory, then I pray. After that I go to “graha pena” without lunch.
In fact I don’t have any food since morning.
I feel better than before.
Because of that I make my self stronger than before to go there. When I reach
GP, I meet my senior in committe. Than
I ask for job, what can I do there. Finally, I am not stay too long there
because when I come, it’s the last of the competition. And the final is in next
meeting. After preparing all of the tools, I go home. Then I get my lunch,
after that I let my self to get it’s part (read: take rest). Before that, I go
to Fiska’s room. She said that she is after download some films. I try them one
by one, and no one of them is perfectly downloaded. Oh My God. What a silly
thing.
At 4 o’clock Fiqah, my
friend comes to my room and wake me up to join study religion. I ask her to
wait me because I have not pray ashar. Then I prepare my self. When I reach my
class, my lecture doesn’t come. Then an announcer comes to my class to announce
that chief of class meting after finishing the lesson this evening. And after
that, Mr. Agus Santoso asks us to join his class. When we reach his class, no
chair for us. It means we will sit on the floor. We can say this is
discrimination. But it’s okay. We
enjoy the class. This evening we talk about Wudhu. From the
meaning of it, benefit of wudhu, and some stories that make us
more understand about the benefit of keeping our wudhu.
I don’t know why I feel
more spirit this evening. Not look like usually. Alhamdulillah. I am very
grateful for this spirit.
Tapi entah kenapa malamini
tiba-tiba aku rindu pada seseorang yang tak pernah putus untuk
memberi ku semangat. Ia
bukan hanya seorang kakak angkat. Ia sudah aku anggap menjadi bagian dalam
keluarga ku sendiri. Bukan karena ia memiliki rasa pada ku. Bukan karena ia
akan menikahiku jika ia tak dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Aku melihat sebuah
ketulusan dari dirinya. Sebuah ketulusan untuk “never judge a book from it’s
cover”. Sebuah ketulusan untuk menikmati, menghargai, dan memaknai sebuah
kehidupan. Ahh, bercerita tentangnya saja sudah lebih dari cukup untuk membuat
ku senang. Apalagi jika aku benar-benar bersamanya. Tapi apalah daya seorang
manusia yang sangat kecil dan tak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah takdir
Tuhan-Nya. Yang kini dapat aku lakukan hanyalah mendoakan, mengikhlaskan, serta
mencoba untuk tidak menutup diri.
Ku
biarkan jemari ku bertahan untuk mengetik hingga selarut ini. aku tak ingin apa
yang ada dalam pikiran ku lenyap begitu saja. Karena cara untuk mengabadikan
pikiran adalah dengan cara menuliskannya. Ya aku ingin membuat perjanjian
dengan diri ku sendiri bahwa aku akan menulis di setiap harinya, di setiap waktu
luang, di setiap kesempatan, dan di setiap tempat dimana aku bisa menulis.
Karena aku tahu betapa sulitnya mencari dan mengabadikan sebuah atau bahkan
beberapa ide jika hanya mengandalkan otak saja. Bukan aku meremehkan cara kerja
otak. Tapi seperti yang kita ketahui bahwa otak pun butuh sarana pendukung
untuk membantunya.
Dia adalah Muhammad Aldy El-Banjary. Aku mengenalnya
tepat dua tahun lalu. Tepat pada bulan Ramadhan. Kejadinnya sungguh sangat
tidak disengaja. Pagi itu sekitar jam 10 aku membuka percakapan ku dengan
adikku yang bernama Rizki melalui aplikasi BBM (Black Berry Mesenger).
“Dink. Di mana?” buka ku
“Maaf, ini
bukan Rizki. Rizkinya keluar” balas seseorang di seberang sana
“Ini siapa ya?” tanya ku
kemudian
“Ini Aldy kakaknya Rizki.
Ini Nisa kakaknya Rizki di pondok ya?”
“Iya. Loh kok tau?” heran
ku
“Ya tau lah. Rizki kan
sering cerita” jawabnya lagi
“Cerita apa aja?”
“Ya banyak”
Kami pun mengobrol ke sana
ke sini. Obrolan itu pun berlanjut ke hari-hari selanjutnya. Hingga dia
menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyukai ku. Hal itu ku ketahui dari Rizki,
adikku. Aku menyayanginya sebagai kakak ku. Rasa sayang itu lahir dan tumbuh begitu
saja. Tanpa dipaksa.
Rasa sayang ku padanya
membuatku menganggapnya seperti kakak ku sendiri. Ini juga
dikarenakan semua saudara kandung ku telah menikah dan hanya aku saja yang
belum menikah. Otomatis perhatian dan kasih sayang mereka telah terbagi.
Dissappoint
Bismillahirrohmanirrohim
Surabaya, 4 April 2015
Ku terbangun tepat pukul 2
dini hari.
Aku
ingat jika aku belum menunaikan kewajiban ku. Aku belum salat isya’. Ku seret
langkah kaki ku menuju kamar mandi untuk berwudu. Kesan pertama yang aku ingat
dari Surabaya ini adalah ukuran nyamuknya yang super jumbo. Berbeda sekali
dengan nyamuk yang ada di Balikpapan. Mungkin Tuhan membangunkan ku melalui
perantara nyamuk itu. Alhamdulillah.
Jika
terbangun dini hari seperti ini, aku jadi teringat rumah ku di Balikpapan. Abah
ku tak pernah absen untuk qiyamullail. Yang aku heran dan
bingungkan adalah, abahku (dapat dikatakan tak pernah) membangunkan kami untuk
turut mengikuti jejaknya. Abah hanya membangunkan kami jika azan subuh telah
berkumandang.
Aku
ingin menuliskan apa yang ada dalam pikiran seperti apa yang dikatakan oleh
Prof. Ali Aziz “Tulis apa saja yang ada dalam pikiran mu”. Sebenarnya dari dulu
saya sangat suka menulis. Tapi, menulis buku harian. Aku tak pernah melewatkan
sedetik pun untuk tidak menuliskan apa yang terjadi dan apa yang ku rasakan.
Teman-teman ku di pondok sampai-sampai memberi ku julukan anak diary. Aku
tidak merasa risih dengan julukan seperti itu. Karena aku tidak sendiri. Masih
ada beberapa teman ku yang juga suka menulis diary. Tapi tetap, aku
yang frekuensi menulisnya lebih besar dibanding teman ku yang lain.
Malam
ini aku merasakan kekecewaan. Aku kecewa kepada teman ku, dan juga kepada diri
ku sendiri. Aku kecewa pada teman ku karena mereka tidak ingin memberi tahu apa
yang telah mereka ketahui. Begini ceritanya. Tadi pagi saya sempat membaca
status salah seorang kakak kelas saya yang isinya adalah mengajak para
mahasiswa atau siapa saja untuk bergaabung dalam sebuah kelompok bisnis. Nah
siang harinya, teman saya yang bernama Fiska di kirimi pesan Black
Berry Mesenger oleh kakak kelas yang saya baca statusnya tadi. Sebut
saja dia R. Singkat kata, isi dari pesan tersebut adalah si R
mengajak kami (CSS angkatan 2014) untuk berkumpul di sebuah balai RW di daerah
Wonocolo.
Saat
Fiska menyebar pengumuman tersebut di grup BBM dan WA, saya memiliki firasat
bahwa pengumuman ini masih memiliki sangkut paut dengan statusnya tadi pagi.
Firasat ini ku simpan sendiri. Tak ku beri tahu pada teman ku lainnya. Nah,
teman-teman putra rupanya telah mengetahui kedok MLM ini. Tapi mereka tak mau
memberitahukannya kepada kami. Itu yang membuat saya kecewa. Mau ditolak, sudah
terlanjur menerima tawaran itu. Kami menerima saja tawaran tersebut karena yang
ada dalam benak kami saat itu adalah bahwa pengumuman itu masih dalam
pembahasan mengenai organisasi kami yaitu CSS MoRA.
Nasi
telah menjadi bubur. Tapi kami harus bisa menjadikan bubur tersebut bubur ayam
yang sangat lezat disantap. Kami pun mengatakan kepada R bahwa kami tak
memiliki waktu yang lama karena kami ada latihan paduan suara (kami tidak
berbohong. Kami memang memiliki jadwal latihan malam ini). Walaupun pelatih
kami menunda latihan malam ini, kami tetap meminta Iin untuk pulang. Hal ini
kami lakukan gar tak terjerumus dalam hal-hal yang seperti itu. Walaupun dalam
balai pertemuan tadi, aku melihat beberapa orang yang aku kenal.
Diantara
kami yang pergi, hanya ada satu teman putra yang ikut. Di tempat itu, ia
benar-benar seperti menjadi kakak bahkan bapak bagi kami semua. Al Ghifari
memang tak seperti biasanya malam ini. ia memang yang selalu bisa membuat
keadaan selalu tenang. Tak seperti aku yang gondok luar biasa pada siapa saja
diruangan itu. Astaghfirullah.
Dalam
perjalanan kembali ke asrama, kami berpapasan dengan teman-teman putra.
Hebatnya, tak seorang pun dari kami yang ingin menyapa ataupun disapa.
Rasa kecewa itu masih tersisa di hati kami. Entah karena kami yang
tidak peka terhadap kode di dalam grup atau ah sudahlah.
Ingin
rasanya menyegerakan tubuh dan hati yang lelah ini untuk beristirahat. Saking
lelahnya, aku pun tidak segera sholat isya’ karena aku mendadak sakit kepala.
Akhir-akhir ini aku memang merasakan sistem imun ku melemah. Tapi aku
yakin aku kuat karena aku memiliki Allah yang Maha Kuat.
يا مقلب القلوب ثبت قلبى على دينك
Alhamdulillah
03.03 a.m
Nasi
Padang yang tertunda
Senin, 08 Juni 2015
Hari
ini adalah hari ujian bagi para peserta SBMPTN. Aku menjadi semakin bersyukur
karena awal perkuliahan ku tak perlu menjalani ujian-ujian seperti ini.
Walaupun beberapa dari teman ku pernah menjalaninya, tapi satu tahun lalu aku
tak pernah memikirkan bangku perkuliahan. Karena aku merasa bahwa aku akan
dipilih dan diri amanah untuk mengabdi di pondok.
Walhasil,
kampus ku harus disterilkan dari kegiatan perkuliahan pada pagi hari ini. Jadi
pagi ini dosen bahasa Arab ku hanya menyuruh kami untuk mengisi absensi
kehadiran. Setelah itu pada pukul 07.30 pagi dosen kesayangan kami, prof. Ali
mengajak kami untuk bertemu di ruang sidang. Mungkin beliau kangenhehe.
Aku
melihat banyak buku dan majalah yang bertumpuk di depan beliau. Sepertinya
buku-buku itu akan diberikan kepada teman-teman. Ini salah satu impian ku. Tapi
kali ini aku belum bisa mendapatkannya. Sedih sekali rasanya. Ngapain
aja aku selama ini? kemana aja?. Pertanyaan-pertanyaan itu yang menyadarkan
ku. Menjadi orang-orang pilihan tak membuat hidup ku santai. Aku masih milik
negara. Negara telah banyak memberi ku ini dan itu. Tapi apa yang telah ku
berikan untuk negara.
Aku
cerdas tapi aku malas. Untuk apa punya otak cerdas tapi malas? Tak ada gunanya
bukan? Apa saja yang telah ku perbuat pada otak cerdas ku ini?Wahai Allah,
dengan pertolongan-Mu aku akan bisa melawan rasa malas ini. Jauhkan aku dari
rasa malas yang bisa saja ia membunuh ku Ya Allah. Matikan aku dalam keadaan
ibadah ku yang cukup untuk menghadap Mu dan dalam keadaan kebahagiaan orang tua
ku karena prestasi-prestasi yang telah ku hasilkan. Aamiin
Live is give and give, not
give and take.Hidup tak perlu menunggu
balasan dari orang lain. Beri saja apa yang bisa kita beri. Tak harus materi.
Senyuman kecil pun akan membawa kebahagiaan bagi yang melihatnya. Jika dengan
senyum saja kita bisa membuat orang lain bahagia, mengapa tak kita coba hal
yang lebih besar?
Mendengarkan
teman kita misalnya dan memberinya solusi jika ia perlu dan kita mampu.
“Sedekah anda melalui telinga sebenarnya untuk kemuliaan anda sendiri”
begitulah kira-kira yang dikatakan prof. Ali Aziz pagi ini.

0 komentar:
Posting Komentar