Hello,This is me!

John Doe

Professional Web Designer Professional Web Developer Photography is my passion

Sabtu, 31 Maret 2018

uts

UTS ku On Time

  • Maret 31, 2018
  • by

Jika ada yang salah dengan tingkah laku ku..
Bukan karena islam yang mengajarkan
Namun karena aku hanyalah manusia yang tak luput dari kekhilafan
Jika ada yang salah dalam perkataan ku..
Bukan islam yang mencontohkan
Namun karena aku yang belum dapat mengendalikan
Islam sudah sempurna, namun pemahaman ku tentangnya yang belum sempurna
(Hamba Allah)
Senin, 27 April 2015
Hari ini adalah hari ujian tafsir Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) ku yang ke lima. Aku terbangun pada saat jam dinding menunjukkan pukul 03.26 dini hari. Aku teringat bahwa ini adalah hari senin, hari di mana umat muslim disunahkan untuk berpuasa. Telah ku niatkan puasa hari ini sejak tadi malam. Membiasakan diri untuk menjalankan
sunah Rasulullah telah diajarkan orang tua ku sejak aku kecil. Abah dan mama hampir tak pernah meninggalkan sunah Rasulullah yang satu ini.
Ku singkap selimut tebal yang membungkus tubuh ku, lalu ku langkahkan kaki untuk pergi ke kamar mandi walaupun hanya untuk sekedar cuci muka dahulu. Saat menuju kamar mandi, ku lihat Fiska, tetangga sebelah ku membawa beras untuk dimasak. Kami baru akan memasak nasi karena semalam ketiduran.
Sesampainya aku di kamar mandi, yang ku dapatkan air mengalir sangat kecil. Ini adalah pertanda bahwa air di tandon kosong. Aku kembali ke kamar untuk memakai jilbab, lalu menyalakan pompa air yang berada di lantai satu. Pompa tersebut memiliki ruangan tersendiri. Luasnya kira-kira 10x10 m2, ruangan itu terletak di pojok kanan bawah, tepat di depan tangga belakang menuju jemuran. Dalam ruang pompa itu pula, biasanya sandal sitaan kami disimpan. Ya, biasanya setiap hari jumat ada razia sandal yang ditinggalkan pemiliknya di luar dan tidak dimasukkan ke dalam loker sandal.
Selesai menyalakan air, aku ke kamar mandi untuk berwudu. Setelah berwudhu, aku mendirikan salat tahajud 2 rakaat dan salat hajat 2 rakaat. Walaupun dengan jumlah rakaat yang masih sedikit, aku selalu mencoba untuk merutinkan salat malam ini. Selesai salat, aku pergi ke kamar sebelah, yaitu kamarnya Fiska untuk sahur bersama, dan kebetulan juga ia telah menyelesaikan salat malamnya.
Kami sahur dengan ikan mujair yang diberikan senior kami tadi malam sewaktu rapat laporan pertanggung jawaban acara besar kami yaitu D’Sun (Dari Santri Untuk Negri). Perlu diketahui bahwa acara ini adalah acaraDies Nataliesorganisasi kami, yang anggotanya adalah para mahasantri nusantara.
Selesai sahur, aku tak langsung mandi. Karena aku pernah membaca sebuah artikel online yang isinya adalah 10 larangan setelah makan. Salah satunya adalah mandi. Yang aku ingat dari akibatnya adalah akan membekukan isi perut dan bisa mengakibatkan perut buncit. Sambil menunggu waktu subuh, Fiska pergi mandi dan aku membaca materi yang akan diujikan hari ini sambil mengulang hafalan ayat yang akan diujikan pula.
Tak lama setelah azan subuh berkumandang, dan Fiska juga telah selesai dari ritual mandinya. Kami pun menyiapkan diri untuk salat subuh berjamaah. Selesai salat subuh berjamaah, aku memutuskan untuk mandi dan Alhamdulillah ada kamar mandi yang kosong. Selesai membersihkan diri dengan mandi, aku bersiap-siap untuk pergi intensif.
Tak lama setelah itu, aku memanggil Rapikah untuk pergi intensif bersama karena kami satu kelas. Sesampainya di kelas, aku kaget karena tak seorang pun berada di sana. Aku kaget karena ini tak seperti biasanya. Ya, aku memang berangkat lebih awal pagi ini karena akan diadakannya ujian tengah semester. Biasanya aku dan Rapikah datang terlambat. Aku sempat berpikir bahwa kelas ku digabung dengan kelas lain. Tapi, apa yang aku pikirkan terjawab oleh datangnya teman-teman ku yang lain dan mereka langsung mengambil posisi duduk terenak di dalam kelas.
Lima menit kemudian, dosen datang membawa soal. Dosen ku adalah salah satu lulusan Kairo juga. Beliau memiliki kemampuan bahasa Arab dan Inggris yang luar biasa. Yang aku salutkan dari dosen ku yang satu ini adalah beliau mampu mengimbangi kemampuan bebbahasa Arab dan Inggrisnya. Beliau memiliki sebuah tempat untuk kursus belajar Bahasa Arab dan Inggris.
Setelah semua soal terbagi, aku mulai mengerjakan soal satu persatu. Soal yang diberikan banyak sekali. Ada sekitar sepuluh lembar dan itu semua memakai bahasa Arab. Tak ada bahasa Indonesia satu huruf pun. Soal yang pertama ku kerjakan adalah qiraah. Qiraah yang pertama, pernah ku dapatkan isinya saat aku duduk di kelas 2 madrasah tsanawiyah di pondok dulu.
            Paragraf tersebut bercerita tentang seorang penggembala domba. Usianya sekitar sepuluh sampai lima belas tahun. Penggembala tersebut adalah orang yang jail dan iseng. Suatu hari, saat sedang menggembalakan dombanya, ia tiba-tiba berteriak, “serigala.. serigala !!!”. Para penduduk pun keluar sambil membawa tongkat untuk membantu sang penggembala tersebut. Namun, yang didapatkan penduduk adalah penggembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu dan membuat panik penduduk sekitar. Para penduduk pulang dengan perasaan marah dan tidak akan menolong pemuda itu lagi. Di hari berikutnya, serigala benar-benar datang untuk menyerang domba-domba penggembala. Penggembala muda itu berteriak ke sana kemari untuk meminta bantuan. Namun, tak ada satupun penduduk desa yang datang. Hal ini dikarenakan para penduduk sudah tak percaya lagi kepada pemuda tersebut. Penggembala muda itu menyesal karena telah mempermainkan penduduk seperti kemarin. Ia berjanji untuk tidak mengulang perbuatan tersebut di hari-hari berikutnya. Namun apalah daya, kepercayaan penduduk sudah hilang dan disia-siakan begitu saja oleh sang pemuda.
Dari cerita ini dapat diambil pelajaran bahwa kepercayaan itu bagaikan sebuah kertas. Apabila kepercayaan tersebut dirusak, maka bentuknya tak akan kembali seperti semula. Begitupula dengan kertas. Apabila ia diremas, maka bentuknya tak akan kembali seperti semula. Disini dapat aku beri kesimpulan bahwa apabila telah dipercaya, maka genggam kepercayaan itu dan jangan sampai menyia-nyiakannya. Karena ia tak akan dua kali.
Untuk cerita itu sendiri terdapat 10 soal. Soal-soal berikutnya masih dalam bentuk qiraah. Dan terdapat tiga makalah qiraah dalam bentuk cerita yang berbeda. Jika dijumlahkan untuk soal qiraah sendiri terdapat 40 soal. Selanjutnya soal tarkib yang berjumlah 45 soal, rattib 2 soal,  al kitabah  3 soal.  Jadi jumlah soal yang kami kerjakan pagi ini ada sekitar 100 soal. Aku sendiri belum sempat mengerjakan satu soal dari al kitabah. Al kitabah adalah soal mengarang paragraf dari gambar atau clue yang diberikan. Sedangkan rattib adalah menyusun beberapa kata atau kalimat sehingga membentuk paragraf atau kalimat  yang baik dan benar. Tarkib adalah soal yang berisi tentang pelajaran nahu dan sharf. Lalu qiraah adalah cerita-cerita, makalah, atau potongan dari artikel atau makalah dan ada beberapa soal yang harus dijawab yang berkaitan dengan bacaan tersebut.
Selesai mengumpulkan lembar soal dan jawaban, Pak Abdullah Syarif (dosen yang ku maksud dalam tulisan ini) menutup pertemuan kami pagi itu. Setelah itu aku melarikan diri menuju kelas selanjutnya yang akan aku masuki. Kelas ku masih berada di lantai dua gedung A fakultas Dakwah dan Komunikasi. Kelas  yang akan aku tuju tepat berada dibelakang tangga besar yang terletak tepat ditengah-tengah gedung A. Sebelum sampai ke kelas, aku melihat beberapa orang berkumpul di depan kelas yang akan aku masuki. Semakin dekat jarak ku dengan sekumpulan orang itu, aku semakin menyadari bahwa yang sedang berkumpul di sana adalah teman ku sendiri, dan seorang dosen yang sangat ku kagumi pengetahuan dan kebijaksanannya. Beliau adalah Ustadz Ainul Yaqien Lc. Beliau juga merupakan jebolan dari Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. Beliau sendiri adalah asisten dari dosen hebat kami yaitu  Prof. Mohammad Ali Aziz, M.Ag.
Bertemu dengan kedua orang hebat tersebut sangat membantu dan memotivasi kami khususnya aku sendiri dalam menjalani perkuliahan dan kehidupan ku. Dengan wawasannya yang seluas alam semesta itu, ustad Ainul Yaqien sering membagi pengalaman dan pengetahuan yang beliau dapatkan. Beliau sangat bersemangat sekali jika kami sudah membahas tentang kepribadian Rasulullah, dakwah beliau, dan semua tentang Rasulullah lainnya. Pertama kali melihatnya, kami mengira bahwa beliau sudah menikah. Namun ternyata beliau masih sangat muda dan belum menikah. Asisten dosen yang lahir tahun 1992 ini mengambil jurusan tafsir hadits di Kairo. Beliau bercerita banyak tentang Mesir, Kairo, Al-Azhar, dan banyak hal lainnya yang belum pernah kami ketahui sebelumnya. Salah satunya adalah sistem perkuliahan yang sangat jauh berbeda dengan sistem-sistem yang ada di Indonesia.
Setelah beliau masuk ke kelas, kami langsung duduk rapi, lalu memanjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa atas segala urusan dan kelancaran kegiatan perkuliahan kami khususnya pada ujian kami pagi ini. Entah mengapa pagi ini aku lebih merasa percaya diri dari sebelum-sebelumnya. Pagi ini lebih ku pasrahkan saja semuanya kepada Allah swt.
Hari Sabtu kemarin, aku menghadiri kelas tambahan dari ustad Ainul yaqien yang diadakan disampin auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya. Yang hadir tidak sampai 20 orang karena masing-masing disibukkan oleh kegiatan organisasi kami juga yaitu CSS  mengabdi yang dilaksanakan di kota Jombang, Jawa Timur.
Ustadz Ainul Yaqien meminta kepada kami perwakilan dari yang pergi ke Jombang kemarin, untuk menceritakan apa saja yang dilakukan di sana. Karena beliau membuka perkuliahan tadi dengan bahasa Arab, bal hasil, teman yang akan bercerita nanti harus bercerita dengan bahasa Arab juga. Tak butuh waktu lama untuk menunggu siapa yang akan bercerita, akhirnya kosma kami, Rahmat Faisal Nasution maju ke depan untuk bercerita. Faisal memang memiliki sesuatu yang dapat membuat kami tertarik untuk mendengar apa saja yang ia ceritakan.
Walaupun ia bercerita dengan bahasa Arab, namun ia dan juga kami sangat menikmatinya. Sesekali ia menyelipkan humor dalam ceritanya. Tapi dapat dikatakan tak hanya sesekali, ia bahkan membuat semuanya terasa lucu. Seperti yang ia ceritakan bahwa ada salah seorang dari senior kami yang pingsan pada saat melaksanakan senam salat. Padahal itu baru masuk gerakan pertama. Tapi ini juga bisa dikarenakan sang instruktur yang memberi hitungan 8 di setiap gerakannya. Padahal, biasanya kami hanya sampai pada hitungan ke-5.
Selesai Faisal bercerita, ustad Ainul Yaqien meminta seorang lagi namun untuk kali ini perwakilan dari yang putri. Sofiatul Jannah pun maju untuk memenuhi permintaan tersebut. Dalam hati aku tak yakin jika mbak Sofi akan bercerita seperi apa yang akan diceritakan oleh Faisal. Dan ternyata hal itu benar. “Tak ada yang berbeda cerita kami dari cerita Faisal” kata Sofi dalam bahasa Arab yang masih kental akan dialek maduranya.
Tak lama setelah itu, ujian pun dimulai. Namun ujian kali ini berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya. Ujian kali ini kami hanya akan diberi 20 soal. Bukan karena apa-apa, tapi memang karena materi yang tidak banyak seperti sebelumnya. Lalu, Prof. Ali masuk ke kelas saat soal memasuki nomor ke-11. Beliau terlihat rapi seperti biasanya. Namun kali ini beliau memakai kemeja putih dengan corak garis ungu vertikal. Tak ketinggalan, di tangan beliau selalu ada kertas ataupun buku. Kedatangan beliau tak mengganggu konsentrasi kami. Justru kami merasa lebih bersemangat.
Soal terakhir pun sudah di jawab. “Ustadz, untuk kali ini ujiannya dikoreksi sendiri-sendiri saja” ucap prof. Ali. Setelah semuanya selesai dikoreksi dan nilai telah dimasukkan ke dalam absensi, prof. Ali membagikan kami sesuatu. Walaupun hanya selembar kertas, isinya sangat membantu. Dalam kertas itu, prof. Ali menuliskan beberapa tips agar bisa menulis banyak. Kuncinya adalah, tidak  melupakan 5W 1H. What, who, where, when, why, dan how. 
Tak hanya itu, prof. Ali selalu membuat kalimat-kalimat sederhana yang berhasil membuat kami sangat termotivasi dan tidak menyesali apa yang telah terjadi. Contohnya saja sewaktu selesai ujian tadi. Melihat beberapa kawan yang nilainya menurun, prof. Ali selalu mengingatkan kami bahwa yang dilihat Allah bukanlah hasil, tetapi usahanya. Tugas ku sebagai mahasiswa hanyalah berdoa, belajar, berdoa, belajar. Itu saja. Lantas, mengapa semuanya terasa sangat sulit? Yang dapat ku tangkap adalah karena beban-beban yang seperti tak ingin hilang dari kepala. Bisa saja kita buat semuanya menjadi indah dan mudah, caranya adalah jangan dijadikan beban, tapi jangan juga dianggap santai. Yang namanya kewajiban tetaplah kewajiban.
Beberapa saat kemudian, kawan ku yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah mengajukan pertanyaan “prof. mendisiplinkan diri juga merakan kunci dari kesuksesan kan prof.? Lalu bagaimana jika saya menunda salat saya karena telah disiplin dalam belajar? Lalu apakah saya boleh tidak makan pada saat belajar, karena jika saya makan, dan saya merasakan kekenyangan, maka saya akan mengantuk  prof.?”
Dengan wibawa yang luar biasa beliau menjawab pertanyaan teman ku tadi “ya jelas tidak boleh kalau kamu menunda waktu solat” lalu dengan ekspresi menahan tawa beliau menjawab pertanyaan kedua “lebih baik kamu hidup, tapi nggak pinter” jawab beliau yang tadinya menahan tawa, kini tertawa lepas. Ya, pertanyaan kedua dari teman  ku yang satu itu memang mengundang tawa, tapi kami menahannya.
Iva namanya. Gadis dari sebuah desa di daerah Kudus, Jawa Tengah. Awal aku melihatnya, aku telah melihat auranya yang cerewet alias banyak tanya. Namun pertanyaan yang diajukannya, terkadang menciptakan tawa kami pada saat di kelas. Yang aku lihat, ia masih seperti anak kecil. Postur tubuhnya juga mendukung pernyataan ku. Meskipun ia terkadang terlihat seperti anak kecil, hal itu tidak membuat dirinya manja. Ia memiliki seorang adik yang memaksanya membuang jauh-jauh kemanjaan itu.
Pelajaran hari ini berhasil membuat ku membuat memo dua halaman untuk diri ku sendiri. Kemana-mana harus bawa kertas sama pulpen. Itu yang dapat ku simpulkan dari cerita prof. Ali saat beliau bercerita mengenai keberangkatan beliau ke Singapura. Pada saat sampai di Singapura, beliau menanyakan nama salah seorang penduduk setempat. Untuk apa? Untuk beliau tulis nanti. “Hari ini saya bertemu dengan Kim Jang ... ”. Wah Bener juga ya. Hati kecil ku mengiyakan.
Jangan pernah sekalipun kamu menyesali hasil. Itu haram”. Wah wah kenapa bisa seperti itu? Setelah ku pikirkan lagi, ternyata memang benar. Untuk apa menyesali hasil? Toh, sudah lewat  juga. Tidak menyesal bukan berarti tak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Justru menyesal itu harus kita ganti dengan janji bahwa untuk kesempatan selanjutnya tidak akan pernah mengulangi dan jatuh di kesalahan yang sama lagi. Tak cukup jika hanya berjanji saja. Untuk apa berjanji jika tidak ditepati. Bukankah janji diciptakan untuk ditepati. Janji adalah utang bukan?
Sebagai mahasiswa, apalagi seperti ku yang merantau ke tanah Jawa ini, tugasnya hanyalah belajar, berdoa, belajar, berdoa, itu saja. Belajar dan berdoa serta berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk orang tua, keluarga, ustad, ustadzah, dan teman-teman di Balikpapan. Aku sadar tanggung jawab ku sangat besar. Begitu banyak beban yang ku pikul di bahu ku.
Ah, berbicara tentang beban aku menjadi teringat lagi cerita prof. Ali sewaktu berada di sebuah sekolah dasar di Singapura. Beliau memberi tahu salah seorang pengajar di sekolah itu bahwa jangan pernah menyalahkan apa yang ditulis oleh anak. Hanya kalimat sederhana bukan? Tapi makna dan hasil yang di dapat tak sederhana. Hasilnya murid-murid di sekolah tersebut saja bisa menulis. (menulis yang ku artikan di sini bukanlah menulis dengan menggunakan pena atau pensil. Bahkan ada wali murid yang memposting tulisan anaknya di media sosial, dan mengatakan bahwa postingan tersebut adalah hasil dari anaknya. Lalu prof. Ali menambahkan kepada kami “anak SD saja bisa menulis. Mengapa kalian tidak?” tanya beliau. Kami sadar, lalu kami menjawab “karena mereka tak punya beban ustad”. “Benar sekali. Jadilah anak SD yang tidak mempunyai beban”. Lalu aku menambahkan ke dalam diriku sendiri “jangan merasa kalau kamu punya beban, rasakan saja kamu harus bertanggung jawab”.
Bagi ku beban dan tanggung jawab adalah beda. Jika mendengarkan kata beban saja, hati ku langsung terasa penuh, dan kepala ku langsung berat. Namun apabila aku menyebutnya sebagai tanggung jawab, maka aku akan merasa seperti orang yang harus menyelesaikan pekerjaan itu.
Kebanyakan orang membenci hari senin. Tapi aku tidak. Kenapa? Karena di hari senin aku akan bertemu orang-orang hebat, aku klan bertemu kembali dengan teman-teman ku yang nan-nano itu. Walaupun di hari senin akan ujian, aku tetap harus bersemangat. Karena aku akan mendapatkan motivasi-motivasi dan banyak pelajaran yang belum aku ketahui sebelumnya. Di mata kuliah prof. Ali ini, aku selalu tak bisa berhenti tersenyum saat beliau berbicara. Malahan terkadang aku menitikkan air mata entah karena haru atau karena aku menyesali banyak waktu yang ku buang sia-sia.
Terkadang beliau menyisipkan humor di setiap pelajaran yang beliau sampaikan. Salah satunya, beliau bercerita pada saat beliau akan pulang ke rumah yang ternyata keterusan sampai Banyuwangi. “ini adalah yang namanya dikasi lebih tapi gak mau”. Kata beliau. Beliau mengantuk. Beliau juga mengakui bahwa beliau adalah tipe orang yang suka mengantuk. Jika cepat mengantuk adalah salah satu penghalang kita untuk menulis, mengapa tak kita coba saja untuk membuang dan menghilangkan rasa kantuk dan suka mengantuk itu jauh-jauh. Prof. Ali saja bisa, mengapa kita tidak?. Kita memakan bahan pokok yang sama, kita memiliki kesempatan yang sama dalam setiap harinya yaitu 24 jam sehari. Lalu menunggu apalagi untuk menulis. Para penulis besar pun juga begitu. Mereka juga diberi kesempatan hidup 24 jam sehari. Mereka mampu menulis buku-buku Best seluler bahkan buku itu difilmkan. Seperti Asma Nadia, Aguk Irawan, Hanum Salsabila Rais, dan beberapa penulis hebat lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu persatu.
Terlalu banyak hal yang aku kagumi dari sosok Prof. Mohammad Ali Aziz, M.Ag ini. Saking sayangnya beliau kepada mahasiswa-mahasiswanya. Beliau mendatangkan orang yang memang ahli di bidangnya. Seperti kemarin, beliau mendatangkan kru dari TVRI untuk mahasiswa jurusan Komisi Penyiaran Islam. Begitupula dengan kami, beliau akan mendatangkan kami guru besar dari Mesir. Ya Allah, demi apa beliau rela melakukan hal itu jika bukan karena beliau ingin menjadikan kami orang yang hebat. Kabulkanlah keinginannya Ya Allah. Sungguh kami tak ingin mengecewakan beliau. Dan berilah beliau balasan, sebaik-baiknya balasan. Amin.
Karena beliau tak bisa berlama-lama di kelas kami, akhirnya beliau pun mengundurkan diri. Kemudian pelajaran dilanjtkan oleh ustad Ainul Yaqien. Kami membahas tentang ayat yang diujikan tadi. Jika yang diujikan tadi hanya satu tafsir, maka sejarang kami membahasnya tiga tafsir.
التربية أولها التكليف ثم جاءت التأليف
Kami membahas tentang ayat yang melarang adanya kekerasan dalam beragama. Yaitu surah Al-Baqarah ayat 256. Indahnya agama islam pun dirasakan oleh salah seorang Sarjana Arab Kristen yang menulis buku Sejarah Arab. Ia mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat yang patut menjadi anutan umat manusia.
Entah mengapa kami tersambung ke arah pembicaraan tentang poligami. Ustad Ainul Yaqien sendiri mengatakan bahwa poligami bukan merupakan solusi yang disunnahkan. Namun Sunnah yang menjadi solusi. Sunnah yang di maksud di sini bukan Lay sunah yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila ditingalkan tidak apa-apa. Namun sunah yang dimaksud di sini adalah sunah yaitu perbuatan yang dilakukan nabi. Nabi berpoligami pun bukan tanpa sebab. Bukan karena nafsu atau apa. Dapat kita lihat sendiri dari istri-istri Nabi. Nabi berpoligami bukan karena nafsu kan? Namun apa yang terjadi dewasa ini sangat berbeda jauh dari yang dimaksudkan Nabi. Bahkan di Jakarta, tepatnya di daerah Rawamangun, akan diadakan mu’tamar poligami. Jadi, orang-orang yang berpoligami akan diundang dan datang ke sana. Entah apa maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Apakah mau silaturahmi atau apa. Aku sendiri pun kaget mendengar jika akan diadakan mu’tamar poligami.
Tak lama kemudian, azan zuhur pun berkumandang. Kami telah dipanggil Allah untuk segera beribasdah menunaikan salat zuhur. Ustad Ainul Yaqien pun menutup pelajaran kami siang itu. Setelah keluar kelas, aku memutuskan untuk pergi ke gang dosen. Tapi bukan untuk membeli makanan, karena Insya Allah aku berpuasa hari ini. Aku pergi ke sana untuk memfotokopi materi yang akan diujikan di pekan berikutnya.
Sepulang dari gang dosen, aku kembali ke pesmi. Aku langsung menunaikan salay zuhur, lalu menyegerakan diri untuk menulis, menulis, dan menulis. Karena aku merasa bahwa setiap kejadian itu penting. Dan cara untuk mengabadikan tulisan itu adalah degan cara menulisnya. Tak peduli seberapa pening kepalaku, seberapa lapar perutku, aku tetap menulis. Ku paksakan diri ku untuk absen dulu untuk tidur siang hari ini (padahal juga biasanya gak setiap hari tidur siang). Hingga datangnya waktu Ashar. Aku berhenti untuk menunaikan salat Ashar. Setelah itu aku diajak Fiska untuk membeli makanan untuk berbuka nanti. Oke, aku akan melanjutkan tulisan ku nanti.
Namun, di tengah jalan menuju gang dosen, aku melihat sekumpulan orang sedang duduk di depan fakultas ushuluddin yang letaknya tepat di depan jalan dari pesmi. Aku tersadar bahwa hari ini adalah hari senin, hari dimana aku harus melaksanakan kewajiban ku untuk latihan paduan suara seperti biasanya. Aku juga baru teringat bahwa aku mendapat sms dari koordinator suara ku, yaitu mbak Reni.
Aku tertarik dengan UKM Paduan Suara UINSA sejak pertama kali aku melihat penampilan mereka pada saat upacara hari kemerdekaan 17 Agustus tahun lalu. Itu adalah saat dimana aku pertama kalinya mengikuti upacara kemerdekaan di tanah Jawa. Suara mereka sangat halus sekali. Seperti paduan suara yang aku lihat di televisi. Saat mulai memasuki perkuliahan, tepatnya pada saat orientasi kampus yang jika di kampus ku sendiri bernama OSCAAR (Orientasi Cinta Akadademik dan Almamater), mbak-mbak dan mas-mas dari UKM Paduan Suara mempromosikan UKMnya. Karena pada saat itu, setiap UKM memiliki kesempatan untuk mempromosikan UKMnya masing-masing.
Kurang lebih dua Minggu setelahnya baru aku berani untuk mendaftarkan diri unjuk ikut audisi. Ya, khusus untuk UKM Paduan Suara calon anggota baru harus diseleksi. Audisi dilaksanakan dua hari. Dan aku memilih untuk ikut audisi di hari kedua. Karena audisinya sampai jam 9 malam, aku memilih untuk audisi selepas salat isya. Sebelum audisi, aku di briefing dulu oleh senior di sana. Aku tak sendiri. Ada Naima, Murni, Nadia, dan Iva. Namun, yang audisi pada malam itu hanya aku, Naima, dan Nadia. Setelah audisi, kami menunggu giliran untuk dipanggil dan maju untuk  bernyanyi di depan para juri. Oh iya, aku lupa jika aku juga memiliki senior dari CSS MoRA di UKM Paduan Suara ini. Namanya mas Hilmy. Mas Hilmy dari angkatan 2011.
Dengan detak jantung yang beraturan aku menunggu giliran yang ternyata adalah aku yang pertama tampil. Karena pada saat itu, audisi memang sudah sepi. Aku memakai pakaian yang rapi karena pada saat audisi ini,penampilan juga dinilai. Dengan anggun aku naik ke atas panggung dan mulai bernyanyi. Sebelum bernyanyi, setiap peserta juga harus bisa memegang nada solfigio (Do Re Mi). Lalu lagu wajibnya adalah Indonesia Raya dan satu lagu bebas. Pada saat itu untuk lagu bebas, aku menyanyikan lagu dari Balikpapan yang juga sering di nyanyikan untuk perlombaan paduan suara. 
Setelah selesai bernyanyi, aku turun dari panggung dan menuju ruang aku akan di wawancara. Ya, dalam wawancara itu setiap orang akan ditanya mengenai komitmennya di UKM ini. Karena UKM ini bukanlah UKM sembarang UKM. UKM ini dibina, dibimbing dan dilatih langsung oleh dosen yaitu Pak Amin Lubis. Sebelum itu, pasti ada basa-basi. Entah ditanya nama, asal, kenapa ingin bergabung, dll. Aku sendiri diwawancara oleh senior yang bertubuh gempal, sayang sekali sampai saat ini aku tak mengetahui nama mereka. Selesai dari wawancara aku menunggu Naima, dan Nadia untuk pulang bersama. Di depan, aku bertemu dengan senior ku yang berasal dari CSS MoRA juga. Mengapa kami, khususnya aku senang bila bertemu dengan anggota CSS MoRA di luar organisasi CSS MORA itu sendiri? Karena kami di sini sudah seperti keluarga. Mungkin ini faktor sama-sama merantau, dan jauh dari kampung halaman, orang tua, juga keluarga. Kami mengobrol bersama sambil menunggu, senior ku juga memberi beberapa pesan diantaranya bahwa kami harus betah jika nantinya diterima untuk bergabung dengan UKM ini. karena pengalaman dari kakak-kakak 2012 dan 2013, banyak yang tidak kuat dan tidak tahan. Karena UKM ini sendiri sangat disiplin. Tak butuh waktu lama untuk menunggu mereka berdua. Mengingat sebelum jam 9 malam kami harus sudah berada di asrama, akhirnya kami memutuskan untuk pamit dan pulang.
Hari pengumuman lolos audisi pun tiba, bagi yang diterima akan mendapatkan smes. Aku sendiri mendapatkan smes pada malam hari, sedangkan Naima dan Murni sudah mendapatkan smes sejak siang. Aku mulai putus asa. Tapi aku tak akan putus asa dari Rahmat Allah yang luasnya tak dapat dihitung itu. Aku sangat paham sekali bahwa Allah pasti sangat paham maksud ku untuk bergabung dengan UKM Paduan Suara itu. Allah memang akan memberi di saat yang tepat. Aku mendapatkan smes itu pada malam harinya. Yang aku pahami dari maksud Allah memberi ku smes di malam hari adalah agar aku terus tak berputus asa, dan untuk mengagungkan kuasa dan keesaan Allah.
Tahu bahwa aku diterima untuk bergabung di UKM ini, aku menjadi teringat pada salah seorang teman ku di kelas intensif yang merendahkan ku dan meremehkan potensi yang ada pada diriku. Entah ia hanya bercanda atau bagaimana. Yang jelas hati saya sempat sakit pada saat itu. Aku yakinkan saja semuanya kepada Allah. Allah tau kok mana yang baik dan tidak. Dan diterimanya aku di sini, Allah akan memberinya pelajaran bahwa jangan pernah meremehkan seseorang entah orang itu akan sadar atau tidak.
Mengingat bahwa aku akan terpanggil di paduan suara pada hari senin dan rabu, sepulang dari gang dosen aku langsung berangkat ke ushuluddin untuk latihan. Biasanya latihan akan berakhir pada waktu magrib dan akan dilanjutkan lagi setelah magrib sampai selesai. Tapi aku dan teman-teman yang juga tinggal di asrama, sering mohon izin untuk pulang duluan.
Malam itu kami latihan untuk penampilan di BKKBN. Instansi tersebut mengundang kami setiap tahunnya. Namun, kami tetap latihan, karena practice makes perfect. Acaranya adalah hari selasa. Sayang sekali aku sepertinya tak dapat ikut tampil, karena siang harinya aku memiliki jadwal presentasi. Lelah memang, tapi nanti hasilnya akan kami sendiri yang merasakannya.
Cerita Pendek ku
Kamis, 30 April 2015
Pagi ini ku terbangun pada jam 5 subuh. Astaghfirullah. Aku bangun jam segitu bukan tanpa sebab. Sejak kemarin aku merasakan sesuatu yang tidak enak di tubuh ku. Sebelum tidur ku paksakan untuk minum obat walaupun hanya obat warung. Setelah minum obat aku ditelpon oleh kakak ku hingga ku tertidur dan meninggalkan telepon tersebut saking ngantuk, lelah, dan beratnya hidung dan kepala ku.
Ku putuskan untuk mandi agar badan ku sedikit segar pagi ini, aku memutuskan untuk mandi dulu juga karena kau akan solat berjamaah dengan teman sekamar ku yang sedang mandi juga. Dan pada saat itu juga ada kamar mandi yang kosong.
Selesai mandi, aku solat bersama dengan mbak Riska (teman sekamar yang ku maksud). Setelah itu aku berpakaian untuk siap-siap pergi ke kampus. Jika dibandingkan dengan hari kemarin, aku lebih bergegas untuk hari ini. Bahkan kemarin, jam segini aku baru mandi. Setelah siap semua, aku menunggu Rafiqah, seperti biasa kami pergi bersama. Tapi kali ini, sepertinya Rafiqah lebih lama dari biasanya. Pada saat menuruni tangga, aku bertemu Febi. Kami juga sekelas. Tak menunggu lama, ku putuskan untuk jalan pelan-pelan bersama Febi. Di tengah perjalanan, tepat di depan fakultas Tarbiyah, yang jaraknya hanya tinggal 5 meter dari fakultas kami yaitu fakultas Dakwah, Febi bertanya “mbak Nisa pilih opsi apa?”. Pertanyaan itu tak langsung ku jawab. Malahan ia ku tanya balik “Lah Febi pilih apa? Pondok ya?”. Sengaja langsung ku tebak jawabannya. Karena aku tahu dia akan lebih memilih untuk tinggal di pondok.
Febi adalah salah seorang teman ku yang berasal dari Bojonegoro. Tingkahnya yang anut nan menggemaskan ditambah postur tubuhnya yang kecil-kecil cabe rawit sering kali membuat aku dan teman-teman sangat gemas kepadanya. Perempuan yang lahir tahun 1997 ini tamadun anak yang pintar. Entah apa yang dia makan, sehingga ia bisa sepintar itu. Jika ditelusuri, ia sangat suka dengan pelajaran berhitung.
Pernah di suatu malam, saat aku belanja tafsir Al-Munir di masjid kampus ku, Masjid Ulul Albab namanya bersama Fikri, Fiska, dan Nanang. Saat itu Febi datang bersama Sofi. Di samping kami ada seorang mahasiswa yang meminjam pulpen kepada Nanang dan ternyata mahasiswa itu jurusan Pendidikan Matematika. Nah, pada saat Febi dan Sofi datang, kerjaanya yang meminjam pulpen tadi tergeletak ditinggal oleh pemiliknya. “mbak Nisa, aku kerjain Ini aja ya?” ucapnya sambil tertawa. Setelah Febi bilang seperti itu, tak lama Nanang berkata “Febi itu sa, suka memang dia sama Matematika”. Walah pantesan aja. Tapi dia juga mahir di semua pelajaran. Ah aku kagum padanya. Tapi Febi itu sangat pendiam sekali. Jika tak ditanya, maka jarang ia akan berbicara. Tak seperti diriku yang ribut ini. Hehehe
Sepertinya Febi sudah paham akan jawaban ku. Apa aku termasuk yang susah ditebak? Aku tak semisterius itu. Mungkin itu pertama kalinya Febi menanyakan hal yang bisa dikatakan pribadi kepada ku. Tak terasa kami sudah mulai memasuki fakultas Dakwah dan Komunikasi. Fakultas ini tepat berada di pojok belakang peta kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. Jadi kami harus menempuh jarak yang cukup jauh setiap harinya jika ingin pergi kuliah. Meenurut teman-teman yang pernah memasuki seluruh gedung-gedung fakultas yang ada di kampus ini, fakultas dakwah merupakan fakultas yang masih lumayan besar jika dibandingkan dengan fakultas psikologi dan ilmu kesehatan.
Kelas ku berada di lantai tiga. Ya, fakultas dakwah sendiri terdiri dari dua gedung dan masing-masing gedung terdiri dari tiga lantai. Sesampainya aku di lantai tiga, aku bertemu dengan Rifa’i. Aku ingat bahwa aku masih memiliki tanggungan untuk merevisi makalah hadits. Dan yang harus divisi adalah bagian Rifa’i. Aku kira dia telah menyelesaikannya, tapi malahan pagi ini dia baru akan meminta file. Aku kasi laptop ke dia. Lalu ku beri tahu mana saja yang harus direvisi. Tak lama kemudian, laki-laki bertubuh mungil itu pun kembali ke kelasnya. Dia berkata bahwa, pagi ini dosen yang mengajarnya tak dapat hadir. Oleh karena itu ia baru mau mengerjakan.
Sesampainya aku di kelas, aku mencari tempat duduk bersama Rafikah. Setelah dirasa nyaman, dosen yang mengajariku intensif Bahasa Inggris pun datang. Materi hari ini akan diisi dengan membahas soal-soal yang kami kerjakan kemarin. Aku pasrah sepasrah-pasrahnya pasrah. Jujur, soal kemarin ritul aku tak serius membaca dan mengerjakannya. Entah mengapa, apa mungkin karena aku tidak begitu konsentrasi sewaktu membahs materi atau karena apa. Soal dibahas satu persatu. Dan setiap mahasiswa yang hadir pun diberi kesempatan untuk membaca dan menjawab soal menurut urutan absennya. Aku yakin jika banyak kesalahan di lembar jawab ku. Karena ku akui saja, aku tak mengerjakannya sungguh-sungguh kemarin. Dan hari In aku sadar, aku malu, bahwa aku tak memiliki apa-apa. Seharusnya aku harus bisa sadar dari kemarin-kemarin. Mungkin Allah memang menyadarkannya di saat yang tepat.
Lembar jawab ku diperiksa oleh Teguh, itu yang membuat ku malu. Aku malu pada Allah, aku malu pada diri ku sendiri, dan aku malu kepada Teguh, juga Rafikah. Aku malu. Malu  sekali. Ingin rasanya aku meminta agar masa-masa penjelasan itu diulang kembali. Namun apa daya aku hanya manusia. Lagipula, waktu memang tak akan pernah bisa diulang. Saat diberi tahu oleh Teguh bahwa banyak jawaban yang salah dari lembar jawab ku, aku masih mengusahakan diri untuk mengembangkan senyum ku, dan bertindak seolah tak peduli. Padahal dalam hati, ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin dan menangis sejadi-jadinya. Tapi aku coba melawan dan mengganti itu semua dengan senyuman.
Sebelum menutup pertama hari ini, pak dosen memberi kabar bahwa Minggu depan akan diselenggarakan Ujian Tengah Semester untuk mata kuliah intensif Bahasa Inggris ini. karena untuk intensif Bahasa Arab sendiri sudah dilaksanakan pada hari senin kemarin dan sudah dikoreksi dan dibahas oleh kami sendiri juga pada hari selasa. Kabar UTS ini, semakin  memompa semangat ku untuk belajar. Aku tahu bahwa aku tak akan mungkin meminta pak dosen untuk menerangkannya kembali. Aku berpikir keras, kira-kira siapa yang akan aku mintai bantuannya untuk mengajari ku pelajaran ini. oh iya, aku kan bisa meminta bantuan mbak Fitri. Mbak Fitri adalah dewan pengurus mahasantri di asrama yang aku tinggali untuk satu tahun ini.
 Asrama ini hanya ditempati dan diisi oleh mahasiswa baru. Kecuali pengurus dan ustadzahnya. Ustadzah nya kebanyakan dari lulusan pasca sarjana atau yang sedang menempuh pendidikan di pasca sarjana. Ada salah seorang dari ustadzah yang dari lulusan Al-Azhar, Kairo-Mesir. Beliau adalah Ustadzah Nike. Ustadzah berparas cantik ini berasal dari kota apel, Malang. Beliau ustadzah yang bertanggung jawab untuk anggota kamar di lantai  tiga. Sangat tenang pembawaan beliau ini. Subhanallah banget dah.
Mbak Fitri, yang aku tahu dan aku kenali dari mbak Fitri adalah, ia yang sangat fasih sekali berbicara dengan bahasa Inggris. Divisi yang ia pegang saja divisi bahasa dan intelektual. Sudah sangat jelas bahwa mbak Fitri bukanlah orang sembarangan. Dewan-dewan mahasantri yang tinggal di asrama ini memang tak asal pilih. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar bisa menjadi dewan mahasantri di asrama ini. Aku akui memang mereka patut diacungi jempol untuk keintelektualan mereka.
Namun satu yang aku agak sesali dari pengurus di sini. Menurut ku mereka kurang ramah. Mengapa ku katakan begitu? Aku sering bertemu dengan mereka di tengah jalan, namun untuk senyum saja sepertinya susah untuk mereka lakukan. Entah karena jabatan atau karena agar para anggota asrama tetap hormat kepada mereka. Ya, untuk aku sendiri, pasti aku bisa membedakan, dimana kita serius dan kita bercanda. Masa untuk hal sederhana seperti senyum dan menyapa itu saja sulit. Aku sering kali mencoba untuk tersenyum dan menyapa mereka. Namun, terkadang entah karena mereka melihat tapi diacuhkan, atau memang mereka tak kenal dengan ku. Ya, aku hanya ingin berpositif saja bahwa mereka mungkin tidak mengenal ku.
Pulang dari kelas intensif, aku langsung menuju kelas dimana akan ku lanjutkan perkuliahan hari ini. Tapi sebelum keluar kelas, aku sempat melihat Rifa’i meminta sesuatu kepada ku. Isyarat nya aku paham bahwa ia akan meninta sesuatu tapi aku butuh waktu untuk memahami apa yang ia minta. Setelah memberikan isyarat yang dapat ku pahami, aku pun paham apa yang ia minta. Ia meminta flashdisk yang kau bawa kemarin, tapi aku tak membawanya hari ini. sesampainya aku di kelas, Rifa’i mendatangi ku dan menjelaskan bahwa Ike yang dicarinya tak ada dilaptop, tetapi di flashdisk yang dia minta itu. Butuh waktu agak lama untukku mengingat flashdisk siapa yang kau bawa pada saat itu. Aku berpikir keras untuk mengingatnya. Ada gantungan love nya warna hitam. Oh ya, itu flashdisk Norma. Aku ingat bahwa semalam Norma baru tidur jam setengah lima pagi. Pasttilah ia tidak ikut intensif pagi ini.
Aku pun memutuskan untuk pulang ke asrama untuk meminjam flashdisk Norma. Di parkiran asrama, aku bertemu dengan Dinda dan Murni yang baru akan pergi ke kampus. Sesampainya aku di kamar Norma, aku menyampaikan maksud kedatangan ku. “Flashdisknya di Dinda mbak Chan”. “waduh, okelah Ma, aku duluan yaa” jawab ku. Aku mencoba berjalan cepat mencoba untuk menyusul Dinda dan Murni. Kenapa aku meilih untuk berjalan cepat? Karena jika aku lari nanti, aku takut akan pikiran orang-orang yang melihat ku. Seorang mahasiswi cantik dengan gamis dan jilbabnya yang menjuntai berlari kencang di dalam kampus. Kan terkesan tidak anggun. Hehe
Akhirnya aku bisa menyusul Dinda, saat sampai di kelas (itu bukan menyusul Nis namanya). Aku meminta flashdisk yang ku maksud dan mencoba untuk mengecek apakah data ku asih tersimpan atau tidak. Dengan irama hati yang tak beraturan aku buka file dalam flashdisk itu dan ternyata sepertinya keberuntungan belum berpihak. Data ku hilang. Tapi jujur, aku tak merasakan marah sedikitpun. Entah mengapa. Mungkin hati ku lebih belajar untuk menerima sekarang ini. Toh, aku juga masih bisa mengetiknya ulang bersama Murni.
Aku yang mengetik, Murni yang membacakan. Aku senang mengetik. Dari zaman sekolah dasar, aku memang menyukai pelajaran mengetik, tapi aku senangnya jika dibacakan. Karena itu akan cepat selesai. Tak butuh waktu lama untuk mengetiknya. Karena makalah kami pun hanya terdiri uang lebih tujuh lembar.
Lalu pelajaran dilanjutkan dengan pembagian kelompok diskusi. Aku mendapatkan kelompok pertama. Jika saja makalah yang sedang ku garap ini telah selesai sepenuhnya, aku mau saja presentasi. Tapi makalahnya belum selesai. Akhirnya Algi yang akan mewakili kelompok kami untuk presentasi.
Karena hadits yang akan di bahas jumlahnya ada lima, dan jika akan dibahas bersama satu persatu akan memakan waktu yang lama, maka kami memutuskan, pembahasan hadits tersebut dilakukan perorangan. Satu hadits akan dibahas dua orang. Dan aku kepagian hadits ketiga bersama Algi. Mungkin ada sekitar 10 menit kami berdiskusi, lalu kami menggabungkan hasil dari diskusi Lai. Lalu hasilnya akan dibuatkan Power poin dan dipresentasikan.
Sambil menunggu selesainya diskusi dari kelompok lain, Algi latihan apa yang akan ia bicarakan nanti. Setelah semuanya selesai, tibalah saatnya Algi maju ke depan sebagai presenter pertama. Ia memakai metode menjelaskan isi hadits berlebih dahulu kemudian menjelaskan kaitannya dengan bimbingan konseling.
Berbeda dengan sistem presenter pertama, presenter-presenter setelahnya ada yang hanya menjelaskan keterkaitan hadits tersebut dengan konseling. Akhirnya diskusi pun selesai juga. Dari diskusi ini ada sebuah pertanyaan yang lucu yang diajukan oleh Sofi. “Bagaimana jika ternyata istri muda meminta bantuan kepada calon istri muda, kalor sudah pada tahu kan bantalan berabe nanti?” pertanyaan yang sempat membingungkan presenter ini pun akhirnya bisa terjawab, dan di akhir pertemuan hari ini, Bu Ragwan sempat menambahkan sedikit tentang jawaban dari pertanyaan Sofi, bahwa kasus tersebut bisa saja terjadi, namun jarang.
Rencana hari kemarin dari Pak Rudi, bahwa jam beliau akan di ganti pada hari ini. dan giliran presentasi pada Minggu ini adalah kelompok ku. Tetapi, tak lama setelah ditutupnya pertemuan bu Ragwan pada hari ini, Faisal sebagai koma kami memberitahukan bahwa pak Rudi tidak dapat masuk hari ini. sempat ada penyesalan dalam diri, namun aku tetap berpositif bahwa Allah menyuruhku untuk belajar lagi. 
 Allah memang Maha Baik. Presentasi ku ditunda mungkin karena Allah ingin aku presentasi dengan keadaan yang fit. Jujur saja, hari ini aku masih sesekali bersin dan harus mengeluarkan lendirnya. Untungnya aku tak begitu merasa pusing seperti kemarin. Akhirnya ku putuskan saja untuk pulang kembali ke asrama.  Tetapi seperti biasa, sebelum pulang, aku harus membeli makanan untuk mensyukuri nikmat Allah atas laparnya perut ini, dan jangan sampai mendzolimi perut karena tidak diisi.
Di tengah perjalanan, tepatnya di depan gedung B fakultas Dakwah, aku bertemu dengan Mas Ahsan. Walaupun baru bertemu di Surabaya ini, tapi ia sudah ku anggap seperti kakak sendiri. Aku tak sendiri, Mas Ahsan dekat dengan ku, Fiska, juga Dinda. Awal kedekatan kami adalah pada saat matrikulasi di GreenSa Inn hotel di daerah Sidoarjo. Matrikulasi adalah kegiatan orientasi calon mahasantri beasiswa seperti aku ini. Jadi, mas Ahsan adalah salah satu panitia dari matrikulasi tersebut. Awalnya, ia memiliki rasa kepada Fiska, karena aku dan Dinda juga dekat dengan Fiska, maka jadilah mas Ahsan dekat dengan kami juga.
            Tapi akhir-akhir ini Fiska tak seberapa dekat lagi dengannya. Malahan, mas Ahsan lebih dekat dengan ku dan Dinda. Mungkin sebabnya tak dapat ku ceritakan di sini. Dalam pertemuan tak sengaja di depan gedung B itu, kami sempat mengobrol sebentar. Karena kami lama tak melihatnya. Nenek nya meninggal kemarin, jadi ia harus pulang ke Probolinggo untuk beberapa waktu. Mengapa mas Ahsan ku katakan sudah seperti kakak sendiri? Kami saling berbagi cerita, bahkan cerita pribadi yang tak orang lain ketahui. Tak hanya kami, mas Ahsan pun pernah bercerita  penyebab kegalau-annya. Kami juga sering pergi untuk mengisi perut bersama. Aku yang biasanya malu makan di depan orang lain, menjadi biasa. “kalau masih ada malu diantara kita, itu bukan friend  namanya” katanya di suatu siang di hadapan aku dan Dinda saat kami pergi makan bersama.
            Untuk masalah perempuan pun, mas Ahsan juga meminta pendapat dari aku dan Dinda. Jadi ceritanya seperti ini, ia pernah ditinggal oleh seorang perempuan karena perempuan tersebut lebih meilih orang lain ketimbang dirinya. Padahal jika dilihat secara jelas saja, mas Ahsan itu tak kalah ganteng dengan lelaki yang dipilih perempuan itu. Sebelum dekat perempuan itu, ia juga pernah dekat dengan seorang perempuan angkatannya. Tetapi sayang sekali. Sepertinya cinta mereka tak direstui oleh orang tua mas Ahsan. Padahal, perempuan itulah yang pertama dikenalkan kepada orang tua mas Ahsan. Mas Ahsan bukan termasuk orang yang gak neko-neko. Ia tak suka bercanda atau main-main terhadap sesuatu. Termasuk hal memilih perempuan  yang akan mendampinginya. Jika ia telah menyukai seseorang ia akan berterus terang bahwa ia akan serius dan tak main-main.
Inilah yang sangat aku sukai pada diri mas Ahsan. Semua orang pasti butuh hiburan dan ada saja tingkahnya untuk menghibur orang lain. Betapa seriusnya mas Ahsan pun ia juga sesekali bercanda. Aku juga sering bertukar info asi kepadanya. Bahkan ia yang lebih sering memberi informasi kepada ku tentang banyak hal. Entak sepak bola, teknologi, musik, film, dan lain-lain. Hobi ku memang sedikit berbeda dari para perempuan kebanyakan. Jika yang lain lebih suka menonton drama Korea, aku lebih senang menonton film action. Jika yang lain tak acuh dengan bola, maka aku sebaliknya. Walaupun tak seberapa memperhatikan, aku peduli dengan klub kesayangan ku, Manchester United dan Real Madrid. Aku selalu mengupdate informasi setelah mereka bertanding. Aku tak selalu bisa menonton pertandingannya. Selain karena waktunya yang tengah malam, aku juga tak memiliki kawan untuk menonton bersama. Tak seru  kan jika menonton bola sendiri. Lagi pula aku harus masuk kuliah keesokan harinya. Aku kan juga harus peduli dengan kesehatan dan perkuliahan ku. Hehe
“Mas, ngopinya antar-ntar aja ya. Kami lagi banyak tugas nih” kata ku sebelum meninggalkan mas Ahsan.
“Iya Cha, aku juga mau ke Kediri ini ”. “Lah kapan mas, ngapain di sana?” tanya Dinda kemudian.
“Ada yang harus tak kerjain di sana” jawab mas Ahsan.
“Oke oke. Ya udah mas kami duluan ya. Laper. hehe” kata ku sambil meninggalkannya.
 “Assalamu’alaikum” lanjut ku.
Ya, begitulah kami. Sebuah persahabatan yang memang di takdirkan Allah karena jujur, aku tak pernah memiliki kakak tingkat yang seperti ini sebelumnya.
Sesampainya di gang Dosen, kami selalu bingung mau makan apa. Selalu seperti itu setiap harinya. Mungkin kami masih labil. (instagram.com). karena tempat terdekat dari gang dosen banyak pembelinya, maka kami memutuskan untuk pergi ke warung biru. Di sana kami bertemu dengan Munir dan Nanang. Aku baru ingat bahwa warung biru itu juga warung favorit mereka. Sebenarnya aku tak terlalu suka. Aku belum menemukan makanan yang benar-benar pas dan  cocok dengan lidah blaster ku. Kenapa ku katakan blaster? Aku sendiri berasal dari kota Balikpapan yang walaupun dalam darah ku masih mengalir kental darah Jawa. Karena Balikpapan kota pendatang, maka bisa dikatakan sua suku yang ada di Indonesia bisa dijumpai di sana. Mulai dari Jawa, Bugis, Melayu, Madura, Sunda, dan lain-lain. Maka, makanan yang ada pun bermacam-macam sudah rasanya.
Tapi ku akui memang bahwa cita rasa makanan yang ada di Balikpapan tak ada duanya. Semurah apa pun makanan yang ada di Jawa, pasti rasanya tak seenak yang ada di Balikpapan. Aku memang sangat bersemangat sekali jika sudah berbicara tentang makanan. Karena aku sendiri adalah pecinta makanan seperti mas ku, mas Uwa. Mas Uwa adalah kembara mas Uwi, ia sendiri sebelum menikah saja sudah bertubuh gempal. Ia tidak gendut, perawakannya yang tinggi-besar seperti ku tak membuatnya gendut. Tapi jelas lebih tinggi dan lebih besar ia daripada aku. Kegemaran mas ku yang hobinya makan itu menular kepada ku. Tapi tetap saja porsi makan ku tak sebanyak porsinya.   Kami sering berkelana di malam hari bahkan pada tengah malam pun kami akan berkelana membeli makanan jika kami merasakan lapar di tengah malam. Tentu saja dengan sepengetahuan dan seizin mama ku. Walaupun ia telah beristri, aku tetap memilih untuk ikut dengannya saat membeli makanan. Bukan aku egois, hanya saja di keluarga ku tinggal aku yang belum menikah. Bisa dibayangkan betapa sepinya bukan?. Untung saja mbak ipar ku adalah orang yang perhatian dan pengertian. Mama ku juga tak melarang ku untuk ikut.
Ada sebuah toko terkenal yang menjual martabak manis (di Balikpapan, kami menyebutnya terang bulan) isi jagung manis. Bisa dibayagkan betapa lezatnya makanan itu.
“Nis, pernah makan terang bulan jagung blm?” tanya mas ku di suatu malam.
“Belum mas. Kayaknya enak deh. Jangan biang mas Uwa pernah beli?” jawab ku.
“Enak Nis, mas Uwa belum pernah beli sih. Kemarin dikasi temen. Enak banget”
“Ya udah kapan-kapan kita beli ya?”
“Oke. Tapi tunggu mas Uwa gajian ya ”.
“Hahha. Oke oke mas. Nisa juga gak lagi pengen-pengen banget kok”
Selalu seperti itu, jika kami ingin mencoba makanan baru, pasti harus selalu menunggu mas ku gajian. Sebenarnya bisa saja mama ku memberi aku dan mas ku Aung untuk membelinya. Tetapi aku kan sadar diri.
Keluarga ku sangat memegang teguh kesopanan. Contohnya saja aku menyebut diri ku dengan nama ku jika aku sedang berbicara dengan keluarga ku. Kami sangat jarang sekali memakai aku-kamu. Bahkan tak pernah. Mas dan mbak ku juga seperti itu jika mereka berbicara dengan ku.
“Nisa, nanti anterin mbak May pulang ya”
“Nis, tolong ambilin jemurannya mas Uwa sama Mba Sury ya”.
  Bahkan mama dan abah ku pun juga seperti itu.
“Tolong pijetin abah dulu nis”
“Ndok, nanti siang ke pasar ya bantun mama”
 Sopan sekali kan? Begitulah keluarga ku. Aku sangat bahagia, bangga dan sangat bersyukur sekali dilahirkan dan dihadirkan di tengah-tengah keluarga ini. Kami memang bukan orang kaya secara finansial. Tapi kami merasa kaya karena kami bersyukur.
Keluarga ku bisa dikatakan sebagai keluarga yang cukup gamis dengan keluarga-keluarga lainnya yang ada di lingkungan ku. Aku dilahirkan oleh seorang wanita bersuamikan seorang pria lulusan pesantren di Jawa. Ya, abah ku sempat mondok. Ah, bercerita tentang pondok, mengingatkan ku tentang cerita ku di pondok dulu. Aku pernah membuat sebuah cerita pendek mengenai kehidupan ku di pondok dulu. Ini dia cerita yang berhasil ku buat. Walaupun tak seberapa bagus, setidaknya aku sudah mencoba untuk menulis.
Pondok ku, Ibu ku
Aku adalah seorang santriwati di sebuah pondok modern di sebuah kota di wilayah timur pulau Kalimantan. Sebut saja kota itu kota Balikpapan. Bersekolah di lingkungan pondok adalah sebuah ketidaksengajaan dalam hidup ku. Ya, pondok adalah pilihan terakhir dimana akan ku lanjutkan pendidikan ku setelah lulus dari sekolah dasar. Pilihan tersebut muncul ketika mama ku ingat impian ku, bahwa aku ingin bersekolah di pondok juga pada saat mas kembar ku disekolahkan di pondok.
“Nisa dulu waktu kecil pengen sekolah di pondok kan?” tanya mama kepada ku sore itu. Entah ilham apa yang ku dapatkan, seketika itu pula aku seperti dibawa ke zaman 6 tahun lalu di depan asrama putra pondok mas ku. Tempat dimana aku mengatakan impian itu. Impian yang terucap, keluar, mengalir begitu saja tanpa memikiran hal ini dan itu. “eh iya juga ya” hati kecil ku mengiyakan pertanyaan mama ku. “Ya udah, Nisa lanjut di pondok aja ya kayak mas Uwa”. Lisan ku tak mampu menjawab, namun hati ku menyetujui. Aku pasrah.
Jika ingin bersekolah di SMP atau sekolah umum lainnya tes masuknya adalah dengan membawa nilai hasil ujian. Berbeda dengan pondok, di sini aku harus tes ini dan itu. Yang paling aku ingat, aku adalah pendaftar terakhir yang diuji malam hari. Ujiannya adalah ujian lisan. Tak hanya itu, aku juga diminta untuk mempraktekkan beberapa ibadah seperti berwudhu, tayamum, dan lain sebagainya. Di sini aku bersyukur karena aku dilahirkan dalam keluarga yang dapat dikatakan cukup agamis. Setidaknya tahun ini aku bisa melanjutkan pendidikan ku di jenjang menengah pertama, karena masih ada kemungkinan bahwa aku akan diterima di pondok ini.
Hidup tak bersama orang tua di usia yang masih dapat dikatakan belia adalah hal yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya, walaupun jarak dari rumah ke pondok yang aku tinggali hanya sekitar 4 km. Sejatinya aku adalah anak yang manja. Mungkin itu juga karena faktor bahwa aku adalah anak bungsu di keluarga ku. Ya, aku adalah anak bungsu dari ke-6 saudara ku. Saudara ku sangatlah unik. Aku memiliki empat kakak kembar dan semuanya adalah laki-laki. Diantara mereka, hanya dua yang disekolahkan di pondok. Dan mereka berdua lahir tepat sebelum ku. Dengan melihat perkembangan mas ku yang disekolahkan di pondok berkembang dan tumbuh dengan baik,  jadilah aku penerus mereka untuk disekolahkan di pondok  juga.
Hari pertama tinggal di pondok sangat terasa sekali perbedaannya. Aku yang dulu tak pernah merapikan lemari pun kini harus bisa merapikan lemari ku sendiri. Hal itu juga berlaku untuk cuci baju. Ya, aku harus mencuci baju ku sendiri di sini. Karena siapa lagi yang akan mencucikan baju ku kalau bukan pemiliknya sendiri. Pondok ku memang menyediakan jasa laundry, dan mama ku juga mengizinkan saja jika aku ingin menggunakan jasa tersebut. Tapi aku lebih memilih untuk tidak menggunakannya. Karena aku tahu maksud dan tujuan mama dan abah mengirimkan ku di tempat ini. Mereka ingin aku mandiri walaupun tanpa persiapan mental sebelumnya. Aku sendiri pun sebenarnya belum siap untuk disekolahkan di pondok ini. Namun jika tidak sekarang, kapan lagi. Dan jika tidak dipaksakan, mau dengan cara yang seperti apalagi.
Rasa tidak betah itu pasti. Tapi itu hanya berlaku di hari-hari pertama ku bersekolah. Aku memiliki banyak teman dan uniknya mereka tak hanya berasal dari Balikpapan saja. Namun ada juga mereka yang berasal dari luar daerah Balikpapan. Hal ini yang memotivasi ku untuk tetap bertahan. Mereka saja bisa, kenapa aku tidak. Seperti itulah kira-kira ungkapan ku dulu untuk menguatkan diri. 
Pondok ku terdiri dari tiga lantai, dan kamar anak baru berada di lantai satu. Entahlah ini sudah menjadi kebiasaan atau apa. Jika di kamar senior kehabisan air minum, maka senior  pun tak segan untuk melemparkan jerigennya dari lantai dua untuk minta diisi oleh junior yang lewat pada saat itu. “Dek, athlubu sa’adah ya. Syukron ”. Ini yang tak aku suka dari pondok ini. Minta tolong seenaknya saja. Berterima kasih pun tidak. Mereka tak pernah tahu apa yang akan kita lakukan ketika keluar kamar. Terlebih jika sedang dipanggil ustadzah atau pengurus. Mereka gak akan pernah tahu. Pada saat masih menjadi anak baru aku jarang sekali keluar kamar untuk menghindar dari kedzoliman ini.
Selain menghindar dari kedzoliman itu, aku juga ingin mengurangi frekuensi ku untuk masuk ke mahkamah pengurus bagian penggerak bahasa. Ya, pondok ku adalah pondok yang mewajibkan santri dan santriwatinya untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Pengurus memiliki  tingkatan pelanggaran. Pelanggaran terberat untuk bagian penggerak bahasa ini adalah memakai jilbab mulawwan. Jilbab mulawwan adalah jilbab yang jika dilihat di bawah sinar matahari langsung akan sangat menyilaukan mata dan memusingkan kepala. Alias jilbab warna-warni dengan tingkat kecerahan di atas rata-rata. Pelanggaran itu diberikan jika santriwati telah masuk mahkamah penggerak bahasa sebanyak tujuh kali dalam satu periode.
Aku sendiri pernah masuk mahkamah tiga kali. Aku tidak nakal, dan tidak juga pendiam. Prestasi ku pun biasa-biasa saja di tiga tahun pertama ku bersekolah di pondok. Ada sebuah kejadian yang membuat nama ku tiba-tiba tenar di telinga ustadzah pengabdian. Kejadian ini pun merupakan sebuah kesalahpahaman yang berhasil membuat ku gelisah hingga dua tahun setelah kejadian tersebut. Ini adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga yang aku dapatkan di pondok.
Sejak saat itu, aku lebih rajin dan giat dalam belajar. Hasilnya, aku berhasil menjadi juara kelas di tahun pertama aliyah ku. Dan di tahun itu pula Tuhan menguji ku dengan membuntukan apendiks ku.
Malam itu aku merasakan sakit sekali di bagian perut. Mama pun datang untuk menjengukku. Setelah di rasa membaik, mama pulang. Tak lama telah mama pulang ke rumah, keadaan malah menjadi sebaliknya. Di malam yang sepi itu, aku sukses memuntahkan seluruh isi perut ku. Pengurus OPPM yang mendapatkan jadwal jaga malam pun berbondong pergi ke kamar ku untuk mengetahui lebih jelas keadaan ku. Setelah dicekcoki beberapa pertanyaan, pengurus bagian kesehatan pun menghubungi ustadzah pengasuhan untuk meminta beliau agar aku bisa ditindaklanjuti  di rumah sakit terdekat. Untungnya pondok ku terletak tak jauh dari rumah sakit.  Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Kanudjoso Djatiwibowo namanya.
Sesampainya aku di rumah sakit, yang aku ingat adalah tangan ku langsung di infus. Mungkin karena keadaan ku yang sangat lemas sekali. Aku masih saja memuntahkan isi perut ku untuk kesenian kalinya. Akhirnya aku mulai kelelahan dan tidur di rumah kait. Setelah dirasa membaik, kami kembali ke pondok. Saat itu tepat pukul 4 dini hari. Dan tak mungkin kami menghubungi ustadz Musta’in lagi untuk mengantarkan kami pulang kembali ke pondok (beliau yang mengantarkan kami ke rumah sakit, tapi kami lanjung ditinggal, dan beliau meminta dihubungi jika telaah selesai). Akhirnya salah seorang dokter yang turut menangani ku tadi menawarkan kami untuk diantar dengan mobilnya. Dan ternyata dokter tersebut adalah salah satu santri kiai kami juga. Kiai (pimpinan pondok)ku adalah guru gaji dorter tersebut. Pak dokter pernah mengaji bersama dengan kiai ku, Ustadz Abdurrahman Hasan. Maka diantarlah kami ke pondok dengan menggunakan mobil dokter yang baik hati itu. Hal ini memberi ku pelajaran, betapa tahrimnya beliau kepada guru beliau. Padahal dengan kami pun dokter itu tak kenal, karena sesama murid dari kiai yang sama, maka ia dengan senang hati mengantarkan kami pulang. Aku sendiri pulang dengan keadaan antara sadar dan tidak sadar. Akhirnya aku pun sampai di pondok dengan selamat. Alhamduillah.
Hari itu adalah tanggal di mana aku dilahirkan. Di tanggal cantik itu (12 Mei 2012) aku diberikan kado terindah oleh Tuhan yang tak akan pernah aku lupakan. Beberapa teman ku datang ke kamar ku untuk memberi ku ucapan dan menjengukku. Di situ aku merasa sedih dan senang. Aku sedih karena rasa sakit yang masih aku rasakan, walaupun sebenarnya aku tahu aku tak boleh bersedih. Aku harus merasa senang dan bersyukur atas rasa sakit yang aku derita ini. karena aku tahu, dengan cara inilah Allah menyayangiku. Aku merasa bahagia karena masih ada teman ku yang peduli pada ku. Karena rasa sakit ini tak kunjung reda, setelah selesai solat magrib mama ku datang ke pondok ku. Yang aku ingat, mama ku sempat memasak dan membawakan aku dan teman-teman ku makanan untuk dimakan bersama atas syukuran masihnya aku diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup hingga 15 tahun ini. Sepertinya mama ku mengira bahwa aku telah sembuh dari sakit perut ku. Padahal belum. Bahkan aku hampir menginap di rumah sakit semalam. Akhirnya mama ku memaksa untuk membawa ku pulang  untuk ditangani lebih lanjut di rumah.
Aku pulang tepat Sabtu malam. Di rumah aku diberi obat penawar yang berasal dari kencur dan telur ayam kampung untuk di minum. Rasanya sangat tidak enak sekali. Cukup sekali aku meminumnya. Aku tak memiliki kekuatan yang cukup untuk meminumnya lagi. Katanya campuran ramuan yang dibuat itu akan membantu untuk menutupi luka di lambung ku. Padahal masih belum tahu penyakitnya apa, karena aku baru akan di bawa ke dokter hari senin. Karena pada hari Minggu, tak ada dokter yang buka praktek.
Keesokan harinya, aku pergi ke puskesmas. Karena mama ku mengira bahwa ini hanyalah sakit perut biasa. Setelah diperiksa oleh seorang dokter, dokter memvonis ku bahwa aku terkena usus buntu. Dan puskesmas tak sanggup untuk menanganinya karena peralatan yang terbatas. Dan kata dokter, ini harus segera di operasi. Aku kaget bukan kepalang. Aku tak pernah operasi sebelumnya. Aku sempat merintih dan hampir menangis di sana mengetahui bahwa aku akan menjalani operasi. Secepatnya, karena jika menunggu sampai besok-besok, apendiksnya akan pecah dan isinya akan menyebar ke mana-mana dan hal itu juga dapat menyebabkan kematian. Ya Allah, Nisa belum siap mati, dosanya masih banyak, pahalanya baru sedikit. Mama ku berusaha untuk menenangkan ku. Akhirnya dokter pun memberi ku surat  rujukan ke rumah sakit.  
Pada pagi itu juga mama ku langsung membawaku ke rumah sakit. Selain mama ku, aku juga ditemani oleh mas ku. Mbak ku tak dapat mengantar karena masih ingin menunggu anaknya pulang dari sekolah. Mama ku pun memutuskan punuk membawa ku ke rumah sakit tentara. Jaraknya cukup jauh jika diukur dari rumah ku. Sekitar sepuluh kilometer. Sesampainya aku di rumah sakit, aku harus menunggu beberapa saat untuk ditangani. Mama ku pergi ke resepsionis untuk mendaftarkan nama ku.
 Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, seperti cek darah, rontgen, tes urine, hingga USG, dokter memvonis ku terkena penyakit usus buntu. Aku benar-benar shock. Bukan aku meremehkan vonis dokter ku sebelumnya. Hanya saja aku masih belum percaya pada pemeriksaan pertama.Melihat tanggapan dari raut muka ku, sang dokter pun menenangkan hati ku bahwa ini akan baik-baik saja jika segera ditangani.
Seperti pasien-pasien lainnya yang akan dioperasi, sebelum operasi, aku harus mengosongkan perut ku terlebih dahulu (baca: puasa) sejak jam 10 malam. Tepat jam 5 sore operasi ku dimulai, dan berakhir pada sekitar jam 8 malam. Mama ku menitikkan air matanya ketika sang dokter membiarkan mama ku melihat bagaimana aku dioperasi. Aku mulai sadarkan diri saat mulai di bawa ke ruangan di mana aku di rawat. Sesampainya aku di ruangan, aku melihat tempat tidur ku penuh dikelilingi oleh para tetangga ku yang baik hati.
Jam-jam setelah operasi, aku kembali disiksa oleh rasa haus yang menyerang ku. Aku tidak diperbolehkan memasukkan sesuatu pun ke dalam tubuh ku termasuk makanan dan minuman apapun. Aku baru diperbolehkan makan jika aku telah berhasil buang angin. Hingga aku terbangun tengah malam, aku belum juga berhasil buang angin. Aku sangat haus sekali malam itu. Hingga aku terbangun. Ku lihat mama ku tidur di samping ku, tak lama kemudian mama menyadari keterbangunan ku.
“kenapa ndok?” tanya mama ku.
“Haus ma” rintih ku.
 Akhirnya mama pun mengambilkan ku air hangat dan aku minum sambil disuapi. Walaupun hanya beberapa sendok aku sudah merasa sedikit membaik.
“Sudah ya, besok lagi kalor sudah kentut baru boleh makan sama minum. Biar banyak-banyak juga undak apa-apa”
“iya ma. Mama tidur lagi aja ma”. 
Hari-hari ku di rumah sakit terasa sangat membosankan. Sesekali tetangga dan teman-teman abah mama ku datang untuk menjenguk, teman-teman ku di pondok juga tak lupa meluangkan waktunya untuk menjenguk ku. Bagaimanapun kondisinya, senyaman apa pun rumah sakitnya, yang namanya rumah sakit tetaplah rumah sakit.
Seminggu setelah operasi baru aku diperbolehkan pulang ke rumah. Hal ini dikarenakan panjang jahitan ku yang tak seperti biasa. Ada hal lain yang harus diangkat dari dalam perut ku. Aku pun tak tahu apa itu. Orang tua ku merahasiakannya dari ku.
Memasuki tahun ke lima hidup di pondok, membuat ku jauh lebih dewasa lagi. Karena di tahun ini aku dan teman-teman lain diberi amanah untuk menjadi pengurus kamar. Secara tidak langsung, ini yang memaksa ku untuk bersikap dewasa tak seperti anak-anak lagi. Padahal jika aku sedang berada di rumah, bisa dikatakan aku yang paling manja. Ini tantangan untukku untuk bisa membedakan keadaan di rumah dan di pondok.
Tak mudah untuk mengatur mereka. Ada saja hal-hal unik dan lucu yang mereka lakukan. Walaupun terkadang melanggar peraturan. “Peraturan kan dibuat untuk dilanggar ty”. Haha ada-ada saja mereka ini. Karakter mereka yang berbeda-beda membuat ku harus bisa mnyatukan dan membuat mereka nyaman di kamar yang aku tinggali ini.
Di semester kedua tahun kelima ini aku dan teman-teman mulai memasuki wilayah kepengurusan yang lebih besar. Ya, kami akan dilantik menjadi pengurus OPPM di semester ini. Namun sebelum itu, kami harus mengkudu sebuah kegiatan yang dinamakan Perkajum (Perkemahan Kamis-Jumat). Disini mental kami akan diuji terlebih dahulu. Dalam kegiatan ini terdapat berbagai macam hal-hal seru yang tak mungkin bisa di dapatkan di tempat lain.
            Perkajum akan dialami oleh masing-masing santri dan santriwati yang akan memasuki ranah kepengurusan OPPM. Untuk perkajum tahun ini masih dilaksanakan di Asrama putra yang jaraknya sekitar sebelas kilometer dari asrama putri. Asrama putra sendiri baru ditempati tahun ini. dan pimpinan masih memberi izin jika lahan yang masih tersisa di asrama putra itu dijadikan bumi perkemahan.
            Setelah selesai dari perkajum, kakak-kakak senior yang menjabat disibukkan oleh pembuatan Laporan Pertanggung Jawaban. Laporan Pertanggung jawaban tersebut akan di bacakan pada malam LPJ. Biasanya LPJ ini dilaksanakan empat hari. Dan panitia-panitianya berasal dari adik-adik kelas empat KMI. Aku sendiri tidak pernah menjadi panitia LPJ karena pada saat LPj waktu itu aku sedang sakit dan berada di rumah.
            Hari pertama LPJ, biasanya diisi oleh laporan pengurus tiap-tipa bagian. Mulai dari bagian Keamanan, bagian Penggerak Bhasa, bagian Ibadah, bagian Kesenian, bagian Olahraga, bagian Dapur pelajar, bagian Kantin Pelajar, bagian Kebersihan, bagian Kesehatan, bagian Informasi. Di hari kedua diisi oleh laporan dari bagian Koordinator Pramuka dari bagian Angkulat, Angkuperkap, dan Angkuperdag. Di hari ketiga adalah laporan dari seluruh ketua, sekretaris, dan bendahara baik dari OPPM ataupun Koodinator Pramuka. Dan di hari keempat adalah pelantikan dan serah terima amanat.
            Sehari sebelum LPJ, kami baru akan diberi tahu jabatan yang akan kami duduki. Untuk angkatan ku, ketuanya adalah Nurrobbaniyah dan wakilnya adalah Istna Zazilah. Yang terpilih bukanlah orang sembarangan. Untuk ketua sendiri terdiri dari beberapa kandidat. Aku termasuk di dalamnya. Entahlah mengapa aku bisa terpilih menjadi kandidat ketua OPPM. Dan pada akhirnya dalam keorganisasian OPPM aku mendapatkan amanah untuk menduduki jabatan sebagai Koordinator Penggerak Bahasa Rayon Putri. Aku telah memiliki firasat akan hal ini karena di periode tahun lalu aku berhasil memenangkan lomba Miss Languange Rayon Putri. Dan pengurus-pengurus sebelumnya pun juga mendapat gelar Miss Languange itu.
            Miss Languange adalah salah satu program kerja tahunan yang diselenggarakan oleh OPPM bagian penegak bahasa. Tiap kelas harus mendelegasikan salah satu anggotanya untuk berpartisipasi dalam kompetisi tersebut. Pada saat pengumuman loba itu aku masih berada di rumah. Keesokan harinya pada saat kembali ke  pondok, teman-teman ku menyuruh ku untuk mewakili kelas ku dalam pemilihan Miss Languange itu.
            Kisi-kisi yang diberikan pengurus, sudah ada di tangan. Tinggal menghapalnya saja. Aku bawa kisi0kisi itu ke mana pun aku pergi. Aku memang selalu bersungguh-sungguh atas segala sesuatu. Aku hapalkan semua materi. Hingga akhirnya hari H pun tiba. Sepanjang perlombaan aku membaca apa saja yang bisa aku baca, entah solawat, tasbih,istigfar, tahmid dan lainnya. Aku mencoba menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada ku sebiak mungkin. Aku yakin aku bisa. Aku tahu Tuhan mengetahui usaha ku.
            Tak lama lagi pengumuman pemenang akan dibacakan. Jantung ku berdekat tak beraturan. Kala itu yang membacakan hasil penilaian juri adalah ustadzah Hani. Dag dik Drug set aku menunggu. “Dan.. pemenang Miss Languange  periode 2010-2011 adalah... perwakilan.. dari kelassss.... empat aaaaa... Selamat kepada ukhti Siti Khoirunnisa atas keberhasilannya memenangkan Miss languange ini. semoga Barkah dan bisa bermanfaat juga bagi yang lainnya. Aaaamiiiinnn”.
            Terbayarkan sudah usaha ku pagi hari menjelang siang itu. Aku mengucapkan Alhamdulillah  berkali-kali untuk mengungkapkan rasa syukur yang rasanya tak ingin pergi dari diri ku. Aku juga ingin kebahagiaan ini betah dan abadi dalam diri ku. Namun apalah daya bahwa aku hanya seorang manusia.
Kemenangan ku di Miss Languange yang mengantarkan ku menjadi koordinator penggerak bahasa asrama putri, rayon Bashroh. Tak mudah menjadi koordinator itu. Terlebih jika yang digerakkan adalah yang dibutuhkan setiap harinya seperti berbahasa ini. Namun, aku menikmatinya sebagai konsekuensi ku memenangkan lomba Miss Languange itu. Terdengar aneh memang. Tak sedikit junior yang tidak suka kepada kami. Itu telah menjadi resik bagian penegak bahasa dan keamanan. Entah mengapa, mungkin sudah menjadi tradisi di pondok ku. Toh menegakkan peraturan kan sudah menjadi kewajiban bagi kami. 
Menjadi orang yang tidak disukai karena pekerjaannya adalah marah-marah setiap hari sudah menjadi hal yang biasa hingga akhir masa jabatan ku. Mereka tidak benar-benar tidak  menyukai ku. Mereka seperti itu lantaran peraturan yang ada. Mereka seperti terikat dan diikat oleh peraturan. Padahal mereka tahu bahwa peraturan itu untuk kebaikan mereka sediri. Tapi ku katakan sekali lagi, mereka tidak benar-benar tidak menyukai ku.  Kenyataannya mereka tetap bersikap baik di depan maupun di belakang ku ketika aku tak lagi memegang jabatan tersebut di semester dua pada tahun ke-6 ku di pondok.
Setelah turun jabatan, kami difokuskan untuk menghadapi Ujian Nasional dari dinas pendidikan dan beberapa ujian lainnya yang diadakan pondok. Ku akui, aku memang lemah di pelajaran eksak. Karena prestasi ku yang lumayan dalam pelajaran madrasah, teman-teman ku mengandalkan ku pada UAMBN.
Di ujian ini aku dituduh memberi jawaban yang salah yang tidak sesuai dengan jawaban pada lembar jawab ku kepada teman ku. Aku kira ini adalah sebuah kesalahpahaman lagi. Yang benar saja aku ingin lulus sendiri. Aku tak sepelit dan sekejam itu. Beginilah sikap manusia yang dalam hatinya hanya ada hasrat untuk memenuhi nafsunya.
Di sini aku benar-benar di bully oleh mereka. Kasus ini disebar sampai ke asrama putra. Walhasil aku di benci oleh teman-teman ku sendiri. Satu angkatan. Aku dihakimi oleh teman-teman putri angkatan ku. Di sini mereka membongkar semua kejelekan ku yang kurasa tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Dia pikir dia sempurna?. Hanya itu yang ada dalam pikiran ku. Aku mencoba untuk merasa masa bodoh dengan mereka karena aku tidak benar-benar melakukannya. Aku menangis?. Aku tak selemah itu. Sampai-sampai adik kelas ku ada yang salut kepada ku karena kekuatan mental ku pada saat itu. Ya, hanya pada saat itu. Karena saat itu ada seseorang yang selalu berdiri di samping ku untuk memberi ku semangat.
Aku percayakan saja semuanya kepada Tuhan. Toh pada akhirnya, mereka juga yang meminta maaf kepada ku. Setelah aku pikir-pikir, ini adalah ujian Tuhan pada ku untuk mendapatkan nilai Mumtaz di hari wisuda ku.Namun pada hari di mana aku diwisuda, aku harus kehilangan orang yang selalu berdiri di samping ku untuk selamanya. Ya, ia pergi untuk menghadap Tuhan karena penyakit yang ia derita selama hidupnya. Aku tahu Tuhan tak ingin menyiksanya lebih lama. Aku tahu Tuhan rindu kepadanya sehingga Tuhan memanggilnya. Ah, bercerita tentang orang itu selalu berhasil membuat semangat ku naik beberapa oktaf. Terima kasih Muhammad Aldy El-Banjary. Selamat jalan, semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Aku selalu mendoakan mu. Aku harus bisa ikhlas dan melanjutkan film hidup ku kedepannya.
Hikmah yang aku dapatkan dari film pendek ku ini adalah, sebuah keberhasilan selalu butuh usaha dan perjuangan. Sejak aku aliah, aku harus giat dan tekun belajar serta beribadah dan hasilnya, aku berhasil meraih juara kelas setiap semesternya. Contoh riil selanjutnya adalah keberhasilan ku mendapatkan predikat Mumtaz, setelah aku di fitnah teman-teman ku dan itu adalah sebuah perjuangan  ketahanan mental yang tak kalah luar biasa. Dan selanjutnya adalah kepergian orang yang ku sayang dan menyayangi ku sebagai  ujian yang mengantarkan ku pada keberhasilan lulus tes PBSB ini. Mungkin saat ini aku sudah menjadi istri termuda di dunia jika Tuhan tak memanggilnya dan aku tidak mengikuti tes PBSB. Tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan ingin aku lebih mandiri lagi.
Seiring bertambahnya usia ku, apa saja yang bisa ku berikan kepada orang lain? Bukankah orang yang baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang di sekitarnya.
خير الناس انفعهم للناس
Sebaik-baiknya manusia adalah yang yang bermanfaat bagi manusia lainnya
Lantas untuk apa bertahan hidup jika hidup yang digunakan tak ada manfaatnya untuk orang lain. Dari sini dapat diambil sesuatu bahwa hidup tak hanya sekedar hidup. Hidup itu perjuangan. Hidup itu kebahagiaan. Bahagia itu adalah ketika kita bisa menolong orang lain. Hidup itu berbagi. Hidup itu indah. Dan definisi-definisi hidup lainnya.
            Uang untuk membeli makan itu adalah uang terakhir yang ada di dompet ku. Aku selalu seperti itu. Malas untuk mengambil uang di ATM karena khawatir akan habis. Tetapi sepertinya semua orang juga akan seperti itu. Hehe. Akhirnya siang ini aku, Dinda, dan Fiska memutuskan untuk pergi ke Jatim Expo untuk mengambil uang di ATM yang ada di sana. Sebenarnya aku Han butuh ke BTN. Tetapi karena aku memiliki rasa solidaritas yang tinggi, aku pun turut menemani mereka pergi ke Jatim Expo.
            Setelah Fiska berhasil melakukan transaksinya, naas bagi Dinda yang tak dapat menarik uangnya di ATM. Jika dilihat dari terakhir kali ia mengambil uang di ATM yang ada di Wonokromo, sepertinya tak ada masalah. Ada apakah gerangan ini? Akhirnya kami pun pergi ke Giant untuk mengecek kembali ATM Dinda.
            Siang itu sempat mendung, namun tak lama kemudian panas terik, lalu hujan. Waduh hujan yang kayak ini nih yang bikin sakit kepala. Tapi aku tak ambil pusing. Ku nikmati saja hujan panas siang itu walaupun masih dengan hidung yang sesekali meler.
            Sesampainya kami di Giant, kami menuju ATM untuk mengecek kembali ATM Dinda.Tapi hasilnya nihil. Tetap saja tidak bisa. Karena ATM Fiska dan Dinda sama, akhirnya Dinda memutuskan untuk meminjam uang Fiska terlebih dahulu. Agar keluarga Dinda juga akan mudah jika ingin transfer.
            Lalu kami menuju ke lantai dua. Disana naluri keibuan mulai keluar. Membandingkan harga sana sini. Namanya saja juga perempuan, calon ibu. Siap yang tak ingin menjadi ibu? Memiliki anak-anak yang pintar, lucu, ngegemesin, ngangenin. Ah mengapa aku jadi tak sabar seperti ini? Astaghfirullahal’adzim. Sabar Sa, semuanya sudah di atur.
            Segala sesuatu ada positif negatifnya, ada plus minusnya, ada enak tidaknya. Itulah kehidupan. Menjadi seorang mahasantri saja sudah dapat dirasakan bagaimana beratnya. Apalagi jika menjadi istri bagi suami, dan ibu bagi anak-anak nanti. Ah, jangan dipikirkan dulu. Ada masanya. Ingat bahwa tugas ku saat ini hanya belajar, berdoa, belajar, berdoa. Itu saja, tidak usah banyak-banyak.
            Setelah semuanya selesai, kami langsung memutuskan untuk pulang kembali ke asrama. Karena kami masih punya jam kuliah setelah ini. yaitu intensif keagamaan. Siang itu kembali terik. Tapi panas kala itu hawanya tidak enak sekali. Mana jarak yang harus kami tempuh tidak dekat. Ingin rasanya aku meminta dikirimkan transportasi oleh orang di rumah. Terasa sekali perantauannya. Mau ke mana-mana, jauh. Tak ada transportasi. Aku selalu berpikir bahwa aku dikirimkan ke sini untuk berolahraga. Karena pada saat di Balikpapan, jika ingin pergi ke mana saja, aku pasti memakai sepeda motor kesayangan ku.
            Motor ku. Aku menjadi ingat pertama kali abah ku membelikan ku motor baru. Motor itu adalah Yamaha JupiterZ warna hijau. Keren. Kata abah ku motor itu adalah hadiah untuk ku karena aku berhasil masuk di jurusan IPA di pondok ku. Berbicara tentang jurusan, aku pernah merasakan semua jurusan yang ada di pondokku. Aku pernah menjadi anak IPS dua Minggu. Dan setelah itu aku masuk ke jurusan IPA.  Loh kenapa bisa begitu?. Mama dan abah ku tak begitu mengerti soal pendidikan ku. Yang mereka tahu, aku senang belajar di pondok tanpa tahu potensi dan bakat ku. Sehingga pada saat aku menanyakan jurusan apa yang akan aku pilih di kelas lima KMI nanti, mereka meyerahkan sepenuhnya kepada ku. Aku sempat bingung juga, akhirnya ku pilih IPS.
            Setelah sekitar dua Minggu aku belajar di kelas IPS, libur Ramadhan tiba. Aku pulang ke rumah, dan kakak-kakak ku menayanyakan perihal jurusan ku. Mereka kaget. Mengapa aku tak memilih IPA saja. Sebenarnya bisa saja aku meilih jurusan IPA, tetapi aku takut aku tak mampu. Inilah salah satu kelemahan diriku. Dulu aku sangat minder terhadap diri ku sendiri. Tetapi sekarang aku tahu bahwa minder itu dilarang.
            Mereka seperti menyalahkan ku. Sampai-sampai aku dibandingkan dengan anak pak RT yang masuk IPA. “itu loh Nis, si Yanti. Dia aja masuk IPA. Masa kamu enggak? Malu-maluin aja kalo ditayain orang”. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku  tak suka dibanding-bandingkan. Hingga suatu saat om ku bersilaturahmi ke rumah. Mama ku mulai membahas tentang jurusan lagi. Mama ku meminta pedapat dari om ku ceritanya. Om ku juga menyarankan agar aku masuk ke jurusan IPA. Dan aku putuskan, bahwa aku akan mendatangi kepala madrasah ku, Ustad Sa’dullah  untuk membicarakan tentang kepindahan jurusan ku ini.
            Saat sudah kembali ke pondok Asyifa tercinta, aku menemui ustad Sa’dullah untuk membicarakan hal itu. “Oh iya iya, nanti saya bicarakan dengan guru dan ustad ustadzah yang lain”. Oh My God, berarti nama ku nanti akan masuk rapat. Jerit ku dalam hati. Ah, tak apalah. Toh ini juga baik. Nama ku masuk rapat bukan karena nakal atau bandel ku, aku masuk rapat karena kelabilan ku. Hehe
            Setelah sampai di asrama, aku langsung menunaikan salat Ashar. Salat Ashar kali ini ku dirikan sendiri karena teman-teman ku yang lain pasti sedang sibuk juga mempersiapkan dirinya. Selesai salat, aku siap-sipa dan tak lupa untuk membawa galon karena persediaan air minum ku sudah habis.
            Di lantai dasar aku menunggu Zahra dan Rafikah untuk pergi bersama. Tapi aku ingat bahwa aku harus mengantar galon terlebih dahulu. Karena tidak mungkin aku pergi ke kelas dengan membawa galon. Jadi aku putuskan untuk pergi duluan. Melihat ku membawa galon, Murni jadi ingin membawa galonnya juga. Jadilah kami pergi mengisi galon bersama.
            Dengan sedikit berlari kami pun sampai di tempat kami mengisi air. Galonnya kami tinggal, kami langsung kembali untuk masuk kelas. Tetapi sebelum masuk kelas, kami mampir untuk membeli minum dahulu karena rasa haus yang menyerang tak tertahankan.
            Kami melanjutkan perjalanan dengan kecepatan 50 km/jam. Karena jarum pendek sudah sangat dekat dengan angka 5. Kalau intensif pagi, terlambat, sepertinya biasa saja. Tapi kalau intensif sore, terlambat, luar biasa. Dengan sangat tergesa-gesa aku langkahkan kaki menuju kelas ku. Untung saja intensif sore ini kelas ku berada di lantai dua. Sedangkan Murni, kelasnya di lantai tiga.
            Saat hampir mendekati kelas ku, aku terkejut melihat seorang teman ku duduk-duduk saja dengan santainya di depan kelas. Wah, kayaknya ga masuk lagi ini. dan ternyata benar, dosen ku tak masuk kelas lagi. Kelas ku juga sedang dipakai senior semester 4. Kenapa aku tahu kalau yang sedang memakai kelas ku adalah semester 4? Aku mengenali seseorang di dalam kelas itu. Ya, itu kak Mahesa. Kak Mahesa adalah senior ku di UKM paduan suara dan kebetulan kami kenal, karena kami satu devisi di panitia festival.
            Ku lihat Zahra, Rafikah, dan Ega berada di kelas sebelah. Mereka sibuk dengan hapenya. Akhirny aku memutuskan untuk keluar saja, dan duduk di kursi panjang yang terletak di depan kelas yang sedang dipakai kak Mahesa tadi. Tak lama aku duduk disitu, teman-teman sekelas kak Mahesa mulai keluar dari kelas. Ya, kuliah mereka telah selesai pada hari itu. Aku menunduk saja, api sepertinya kak Mahesa mengenali ku. Oh ya, sebenarnya kami punya agenda siang ini. tapi karena aku pikir pak Rudi akan masuk kelas, aku mengatakan bahwa aku tak bisa ikut bergabung dengannya. 
“Hei” sapanya kepada ku.
“Oh iya kak... Gimana tadi jadi kesananya?”
“Nggak dek. Haryo nya sudah pulang tadi. Jadi ga jadi deh. Padahal tadi siang aku ke di Base came, terus aku hubung Haryonya, eh dia udah pulang”
“Oh gitu”
“Iya dek. Loh adek”
“Intensif kak. Tapi kayaknya dosennya ga datang”
“oh gitu. Di kelas ini ya?”
“Iya kak”
“Ya udah dek, aku duluan yaa” pamitnya.
            Setelah itu, aku pun kembali ke kelas di mana Zahra, Ega, dan Rafikah berkumpul tadi. Lalu aku mengajak mereka untuk pulang bersama. Sebelum pulang kembali ke asrama, aku harus mengambil galon yang aku isi tadi. Akhirnya Zahra dan Rafikah pun turut menemaniku. Di depan tempat aku mengisi air, ada sebuah gerobak yang menjual terang bulan.
“Mba Nisa bawa uang lebih ngga?” tanyanya pada ku
“Ada teh, butuh berapa?”
“Aku lagi ngidam terang bulan nih”
“Oh iya ini, sok atuh dipake aja” Jawab ku sambil memberinya uang biru bergambar pahlawan.
            Setelah membeli terang bulan, aku membeli soto untuk dimakan esok hari. Aku memang seperti itu, selalu memikirkan apa yang akan ku lakukan esok hari. Termasuk juga apa yang akan aku makan besok. Karena aku tahu, kalau besok adalah hari buruh yang entah sejak tahun berapa, setiap hari buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei tinta di kalender berubah menjadi warna merah di tanggal itu, aku memutuskan untuk membeli soto ayam depan gang dosen.
            Aku bukan termasuk orang-orang yang gemar makan mi instan. Aku tahu akan bahayanya. Oleh karena itu, aku sebisa mungkin menghindarinya. Jika ada yang lebih enak dan lebih sehat, mengapa tidak?
            Setelah selesai membeli soto ayam, kami melanjutkan pejalan ke asrama. Sambil bercerita. Sesampainya kami di asrama, kami tak langsung pulang ke kamar masing-masing seperti biasanya. Kami berbincang-bincang ringan di tempat parkir. Rencananya sih hanya ingin menghabiskan terang bulannya Zahra, eh keterusan cerita sana sini sama Rafikah, Bila, Naima, Dinda, Rina.
Mengobrol seperti ini membuat ku ingat ketika di pondok dulu. Jika sedang tidak ada kegiatan, ataupun yang harus dikerjakan, kami biasanya membuat suatu forum cerita. Pesertanya tidak diundang, datang sendiri. Hehe. Biasanya yang dibahas di forum kecil itu bukan hal-hal berat. Kami membicarakan hal-hal berat hanya dalam rapat. Cerita yang dibagi di forum kecil ini biasanya kejadian-kejadian di tiap-tiap kelas. Selalu saja ada hal lucu di setiap harinya.
Saking asiknya cerita di parkiran, kami tak sadar bahwa malam ini adalah malam jum’at. Dan pasti ada saja kegiatan asrama pada malam jum’at seperti diba’iyah, istigosah, dan tahlil. Kegiatan itu di rolling setiap minggunya. Jika Minggu lalu diba’iyah, maka minggu ini adalah istigosah, dan Minggu depan tahlil. Untuk istigosah dan tahlil, biasanya diadakan per lantai. Sedangkan untuk diba’iyah diadakan bersama (semua lantai) namun untuk giliran tampil untuk membaca diba’ itu per lantai.
Langsung aku menuju kamar mandi untuk berwudhu dan kemudian salat bersama Dinda. Padahal kami sudah diteriaki oleh mbak Fitri dan mbak Sisil. Walhasil,kami terlambat sedikit. Untung baru mulai sebentar. Untuk istigosah dan tahlil lantai dua,bertempat di ruang televisi lantai dua. Sedangkan untuk diba’iyah bertempat di perpustakaan.
Diba’iyah malam ini dipimpin langsung oleh ustadzah Vivi dari Probolinggo. Jadi, dialek Madura masih sangat kental dan melekat dalam diri beliau. Beliau bisa ku katakan bahwa ustadzah yang paling baik di asrama ini. mungkin ini juga karena aku adalah anaknya beliau atau mungkin aku juga tidak terlalu mengenl dan dekat dengan ustadzah lain.
Selesai diba’iyah mbak Riska langsung mengajakku untuk salat isya bersama. Alhamdulillah wudhu ku belum batal. Langsung ku terima ajakan itu. Selesai salat aku langsung mengisi perut. Karena khawatir jika nanti baru akan ku isi, perut ku akan ngambek. Selain karena itu, adalah karena aku akan melanjutkan kegiatan menulis ku yang 30 halaman dengan deadline hari senin ini.
Entah berapa jam mata ku ini menahan lelahnya. Lagi-lagi karena aku tak ingin mendzolimi diri sendiri, maka aku putuskan untuk beristirahat. Dengan harapan besok tulisan ku akan selesai, dan hari Sabtu dan Minggu untuk belajar tafsir.
Jumat, 01 Mei 2015
            Pagi ini aku terbangun jam setengah lima. Langsung ku sibakkan selimut ku dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Lalu salat berjamaah dengan mbak Riska. Sepertinya mbak Riska akan pergi pagi ini. dan ternyata benar. Selesai salat, ia pamit bahwa ia akan pergi ke rumah temannya yang berada di Blitar.
            Saat salat tadi aku masih merasakan kepala ku berputar. Mungkin karena itu aku tertidur lagi sampai jam 6. Aku tahu bahwa jika aku tak segera mencuci dan mandi, aku hanya akan bermalas-malasan saja. Ku langkahkan kaki ku untuk ke kamar mandi dan mencuci, sekalian mandi.
            Setelah selesai semuanya, aku salat dhuha, lalu melanjutkan tugas menulis  lagi. Ditemani oleh lagu yang dinyanyikan oleh Maidany dengan judul “Kaca yang Berdebu”.
Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah, nanti ia mudah keruh dan ternoda
Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran
Lemah lembutlah kepadanya, namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia bersalah, namun janganlah lukai hatinya
Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya bercahayakan iman
Syair yang bagus, suara yang merdu dipadu dengan alunan musik yang indah. Aku sangat suka dengan lagu ini. Aku menikmatinya, aku menghayatinya. Lagu ini ku dapat dari teman yang satu konsulat dengan ku, Munir.
Ku akui saja aku sangat senang bernyanyi. Apa saja yang dapat ku nyanyikan, pasti ku nyanyika. Tak peduli suara ku bagus atau tidak, merdu atau malahan fals. Aku menyukai semua lagu lagu apa saja yang aku tahu, pasti akan aku coba cari liriknya jika itu lagu bahas asing. Lagu Inggris? Aku juga menyukainya. Sangat suka. Entah sejak kapan aku suka mengumpulkan lirik-lirik lagu tersebut. Yang aku ingat, sejak sekolah dasar aku memiliki sebuah buku yang isinya lagu semua. Hobi itu berlanjut hingga aliah. Setidaknya aku memiliki satu buku lagu setiap tahunnya. Isi bukunya terdiri dari berbagai macam lagu. Dan biasanya, buku lagu itu sangat laku dipinjam ketika jam kosong atau guru yang akan mengajar tak bisa masuk, dan tak ada guru pengganti. Kami bernyanyi bersama, apa saja, lagu pop, dangdut, hingga solawat. Begitulah kami, hal itu yang sukses membuat ku rindu masa-masa sekolah.
Sejujurnya saja aku ingin, sangat ingin sekali bisa bergabung di kelas musik. Entah olah vokal, atau memainkan alat musik. Tapi sepertinya butuh biaya banyak untuk itu. Aku bukan termasuk tipe orang yang suka memaksa. Aku sadar diri untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi. Oleh karena itu, aku mencoba untuk menggabungkan diri di UKM paduan suara ini. dan Alhamdulillah kesampaian.
Saat setelah diterima, kami harus menjalani Trapara (Training Paduan Suara). Trapara sendiri dibagimenjadi dua bagian yaitu Trapara alam dan Trapara ruang. Untuk Trapara alam, panitia membawa kami ke Kebun Raya Purwodadi. Diana kami dikenalkan dan diajarkan dasar-dasar bernyanyi. Seperti teknik pernafasan, solfigio, artikulasi, dan lain sebagainya. Tak hanya bernyanyi, kami juga diajrkan bagaimana memberi kodak yang baik dan benar. Itu asi dasar. Setelah masuk nanti, kami akan diajarkan secara lebih mendalam bagaimana membaca notasi, mengaransemen suara, memainkan alat musik seperti keyboard, gendang, dan rebana.
Kami juga sering tampil di berbagai event pemerintahan. Jadi kami tampil tak hanya dalam kampus. Kami sering diundang untuk tampil di beberapa acara besar, seperti harlah PMII di mesjid al-Akbar, dan tampil di acara kongres PSSI di hotel JW. Marriott Surabaya.
Setiap akan tampil, pasti kami harus latihan dahulu. Latihannya memang biasanya seminggu sebelum acara, tapi itu tergantung kepada pembina dan acara yang akan kami hadiri. Latihannya memang hanya seminggu, tapi dalam sehari, kami latihan dari sore, ba’da Ashar hingga jam 10. Malahan terkadang sampai jam 12 malam. Tapi aku dan teman-teman asrama lebih sering untuk meminta izin pulang  duluan karena peraturan asrama yang juga mengikat kami.
Mengingat penampilan, aku jadi ingin menuliskan pengalaman latihan dan penampilan ku di harlah PMII dan kongres PSSI kemarin.
Selasa, 7 April 2015
Minggu ini bisa ku katakan sebagai Minggu sibuk ku. Kenapa begitu. Karena Minggu ini tepatnya pada hari kamis, adalah puncak dari acara des Natalies organisasi yang menaungi anak-anak seperti kami, yaitu CSS MoRA. Selain itu hari amis malam, ada acara penampilan PWNU di masjid Al-Akbar Surabaya.
Oleh karena itu, dengan keinginan dan kesadaran yang luar biasa membakar dalam diri ini, Minggu-minggu ini aku sangat bersemangat sekali untuk pergi latihan. Aku menyadarinya karena jujur saja aku menyesal karena tidak ikut penampilan di acara wisuda kakak-kakak yang telah menyelesaikan studinya di UIN Sunan Ampel Surabaya. Yang membuat aku sangat ingin hadir di wisuda ini adalah kakak yang di wisuda ini, mereka lulus sarjana 7 semester. Ini adalah impian yang sangat aku impikan.
Namun harapan untuk hadir itu sangat jauh dari ku. Aku banyak absen di latihan. Entah karena sakit atau alasan lain yang benar-benar membuat ku melangkahkan kaki ke tempat latihan.
Pengalaman pahit itu yang membuatku termotivasi untuk latihan dengan serius. Hari-hari ku dihabiskan untuk latihan setiap sore hingga malamnya. Lelah itu pasti. Tapi entah kenapa, aku sangat yakin pada diriku bahwa aku akan ikut.
Puncak lelah itu datang hari selasa. Kuliah yang padat hingga intensif pada sore hari dan dilanjutkan ke Rumah sakit (karena pada saat itu ada dua orang kakak kelas kami yang sedang sakit). Setelah intensif, aku dan teman-teman memutuskan untuk menenguk mereka. Padahal malam harinya, kami ada gladi bersih. Dan aku masih ingin menyempatkan diri untuk latihan di ushuluddin. Hasilnya, aku harus bolak-balik. Lelah memang. Tapi semakin luas lelah itu menggerogoti tubuhku, seluas itu pula keyakinan ku semakin melekat. Aku yakin, keyakinan ini berasal dari Tuhan ku yang sangat sayang kepada ku dan sangat menyayangi ku dan akan selalu memberikan yang terbaik untukku.
Rabu malam aku positif gak bisa ikut latihan paduan suara di ushuluddin. Di sini, keyakinan ku untuk ikut perlahan  meruntuh. Tapi aku ikhlaskan dan pasrahkan saja semuanya kepada Tuhan. Untuk kali ini aku merasakan bahwa diriku lebih ikhlas dan lebih pasrah.
Tuhan memang Maha Baik, jum’at pagi aku mendapatkan smes dari koordinator suara sopran yaitu mbak Reni, yang isinya siang nanti setelah solat jum’at, kami latihan untuk penampilan di masjid Al-Akbar lagi dan di PSSI. Aku baru menyadari bahwa umat malam adalah malam puncaknya. Bahkan acara puncak tersebut akan dihadiri akan dihadiri oleh presiden Republik Indonesia yaitu Pak Joko Widodo. 
Tuhan ku, aku tahu bahwa engkau telah merencanakan yang lebih indah untukku. Terima kasih Tuhan. Ribuan kata syukur ku pun mungkin belum cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasih ku untuk Mu.
Setelah latihan sampek jam 5, kami langsung berangkat ke TKP (tanpa mandi terlebih dahulu). Ba’da magrib kami sampai di masjid, dan kami langsung duduk di tempat yang telah disediakan. Aku pribadi sempat kaget karena seragam kami yang berbeda dengan lainnya. Karena kami menghadiri acara PMII, mayoritas yang hadir memakai pakaian putih-putih dengan dominasi biru dan kuning.
Akhirnya kami pun dipersilakan untuk duduk. Tak lama waktu berselang, acara pun dimulai setelah solat isya berjamaah. Acara dibuka oleh penampilan banjari oleh mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Kemudian sambutan-sambutan dari pengurus, pimpinan, dan rambutan-sambutan lain. Di tengah-tengah acara, ada seorang panitia mendatangi kami dan memberitahu bahwa paduan suara tidak jadi tampil. Aku sempat kaget. Loh kok itu ya.
Mbak Lia meminta panitia tersebut untuk langsung mendatangi mas Hilmy. Karena mas Hilmy adalah ketua kami. Kami memang sempat di gantungkan di sana. Rundown acaranya saja tak kami dapatkan. Kami tak tahu tampil ke berapa, dan setelah siapa, pada jam berapa.
Tak lama kemudian pembina kami, Pak Amin meminta kami untuk keluar dan meluruskan apa yang telah terjadi. Di luar, kami diberi minum lalu kemudian pak Amin memberi penjelasan tentang penampilan kami nanti, dan agenda kami selanjutnya.
Karena suara di sekitar kami yang lumayan ramai (maklum karena sebentar lagi pak Jokowi akan segera sampai di mesjid ini), yang bisa aku tangkap dari pembicaraan pak Amin tadi adalah setelah ini kami akan menuju hotel tempat kami tampil besok untuk gladi bersih. Panitia yang datang kepada kami dan meminta kami untuk pergi ke sana setelah acara harlah PMII ini.
Akhirnya kami pun tampil juga. Kami tampil setelah sambutan dari pak Jokowi. Di acara puncak ini, kami hanya membawakan satu lagu. Yaitu Hubbul Wathon.
Yalal Wathon yalal wathon yalal wathon
Hubbul wathon minal iman
Wa laa takun minal hirman
In haduu ‘alal wathon
Setelah tampil, kami pun bergegas untuk pergi ke hotel. Tetapi, atas permintaan teman-teman dan atas kesepakatan bersama, kami kembali dulu ke kampus untuk mengambil tas teman-teman yang sengaja di tinggal di sana. Karena sebelumnya kami berpikir bahwa kami akan pulang. tetapi, rencana berbelok dari rencana awal.
Dalam perjalanan ke kampus ada beberapa dari kami yang memanfaatkan waktu untuk mengistirahatkan diri. Menyempatkan diri untuk istirahat. Tetapi aku tidak. Aku menikmati perjalanan malam ini. karena aku sendiri sangat senang dengan pemandangan malam hari, kelap kerlip lampu yang terangkai indah sepanjang jalan, udara yang bertiup lembut, jalan raya yang tak begitu ramai seperti pada siang hari, ah menenangkan sekali malam itu.
Sesampainya di kampus, teman-teman yang memiliki keperluan, langsung mengambil barang-barang apa saja yang diperlukan. Setelah semuanya selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel JW. Marriott. Letaknya lumayan jauh dari kampus. Aku tak dapat memperkirakannya karena aku sendiri tertidur saat itu karena didongengi oleh mas Riski. Ya, mas Riski ikut dengan rombongan kami. Mas Riski adalah asisten dari pak Amin. Selain memiliki suara yang indah, ia pandai memainkan keyboard.
Yang aku ingat sebelum aku tertidur dan saat kami melewati RSI, Rumah Sakit Islam Surabaya, mas Riski bercerita bahwa ia dilahirkan di rumah sakit ini. RSI, sesuai dengan namanya Riski Septian Indayana. Sepertinya itu nama lengkapnya. Aku lupa-lupa ingat. Lalu kami melewati KBS (Kebun Binatang Surabaya) dan ikon kota Surabaya yang tepat berada di depan KBS. Lalu tak jauh dari sana, aku tertidur.
Bangun-bangun, angkot yang aku tumpangi sudah berada tepat di depan hotel JW. Marriott. Kami pun turun satu persatu. Dan menuju meeting hall untuk gladi. Sesampainya kami di sana, kami melihat para pekerja masih merampungkan tugasnya untuk menata panggung. Ada yang memotong tripleks, membuat tangga, memasang sound system, memasang televisi, dan lain sebagainya.  Tak lama kemudian ada tiga orang dari pihak panitia yang mendatangi kami. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan berjilbab, cantik, dan agak berisi.
Kedatangan mereka ingin mendengar dan melihat apa saja yang akan kami tampilkan pada saat pembukaan kongres nanti. Kami punemnyanyika lagu Indonesia Ray, Mengheningkan Cipta, dan Mars PSSI. Mars PSSI? Ya, jadi setiap akan tampil di instansi baru yang mengundang kami, pasti kami diberi lagu baru, dan harus menghafalnya.
PSSI berdiri sebagai alat perjuangan rakyat dan bangsa
Di kancah dunia jadi pengibar merah putih dan lambang negara
Teruslah tingkatkan mutu dan sehat, di dalam persaudaraan
Jagalah selalu panji-panjimu,sebagai kebanggaan bangsa mu
Setelah gladi kurang lebih sampai jam setengah dua malam, pak Amin pun belum busa memberi kabar pasti bahwa kami akan tidur di mana. Karena pihak panitia masih mencoba mencarikan kamar di hotel-hotel terdekat. Mengapa tak di JW. Marriott saja? Di JW. Marriott sendiri sudah penuh. Oleh karena itu panitia mencoba mencrikan hotel untuk kami. Saking lelahnya teman-teman sudah pada tidur di kursi. Sebagian mereka tidur, tetapi aku masih bangun untuk menghafalkan lagu-lagu yang belum aku hafal. Aku belum bisa tidur sepertinya. Hingga mas Pampam beberapa kali menyuruh ku tidur, tetapi mata ku belum mengantuk. Algi juga belum tidur. Mas Hilmy, pak Amin juga belum tidur. Dari kaum hawa, aku dan mbak Ika yang belum tidur. Ia disibukkan oleh tugasnya.
Setengah jam kemudian, kami mendapat kabar bahwa tak ada hotel yang bisa ditempati oleh kami.
“begini saja mas, yang penting itu ada ruangan untuk anak-anak istirahat, biar untuk meluruskan kaki saja tik apa-apa”
“Oh, nggeh pak. Wonten tapi mboten Nopo-nopo nggeh. niki ruangan alit mawon in shaaa Allah cukup kok untuk temen-temen” (Oh ada pak, tapi gak papa ya pak ini ruangan kecil aja, in shaaa Allah cukup kok untuk temen-temen)
            Akhirnya kami pun diantar ke sebuah ruangan yang berada di lantai tiga. Luas ruangan itu sekitar 15x15 meter2. Cukup bagi kami untuk meluruskan kaki. Aku sendiri sudah terbiasa tidur di lantai beram-sama seperti ini. sesampainya aku di ruangan, rasa kantuk ku belum datang juga, akhirnya aku pun memutuskan untuk ke kamar mandi, mebersihkan diri, cuci muka, lalu kemudian memaksakan diri untuk tidur. Saat itu sepertinya sudah memasuki pukul setengah empat pagi.
            Aku terbangun jam enam. Aku sedang tidak salat akhir-akhir ini. jadi aku santai saja. Tetapi aku harus tetap langsung bersiap-siap memakai kostum. Setelah sikat gigi dan cuci muka, aku kembali ke ruangan untuk mengambil kostum. Aku kebagian untuk memakai kostum yang dipakai oleh mbak-mbaknya ke Singapura tahun lalu.  Semoga saja aku bisa mengikuti jejak mereka nantinya. Aku sangat ingin sekali pergi ke luar negeri tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Siapa yang tak ingin?. Semoga saja bisa terkabul. Amin.
Susah sekali untuk mencari kostum yang ukurannya pas demam ku. Jika tidak terlalu pendek, lingkar pinggangnya yang terlalu kecil. Akhirnya aku pun mendapat satu baju yang pas untuk ku setelah beberapa kali percobaan. Karena bajunya kusut, aku pun menyetrikanya agar lebih rapi.
            Sambil menunggu antrian menyetrika, pak Amin mempersilahkan kami untuk sarapan. Aku melihat sebuah kardus KFC (Kentucky Friend Chicken) di atas meja.
“Silahkan diambil dek. Sarapan dulu. ayo” ajak pak Amin kepadaku
Nggeh pak” jawabku dengan bahasa Jawa yang aku bisa.
 Aku dan Murni pun memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
“Ayamnya enak ya mbak Nisa. Kayak yang di tip-tipi” celoteh Murni di tengah makannya.
“Iya mbak Murni. Mbak Murni baru kali ini makan ini?” tanya ku. Karena aku tahu sendiri, Murni tinggal di wilayah timur Indonesia. Pertanyaan ku ini hanya bercanda saja.
“iya mbak Nisa” jawabnya
“Loh memangnya di sana nggak ada ta?” tanya ku lagi penasaran
“Ada mbak Nisa, tapi itupun Cuma ada di daerahnya Bu Ragwan, mana harganya mahal banget lagi” jawabnya dengan muka polosnya. Ia terlihat sekali bahwa ia sangat menikmati sarapan pagi itu.
Ya Allah Nisa merasa bersyukur banget bisa ngerasain kfc kalo Nisa lagi pengen. Walaupun kalau keseringan itu nggak bagus dampaknya. Nisa tetap bersyukur.
            Setelah mendapat giliran menyetrika, dan kebetulan sarapan ku juga sudah habis, aku pun pergi menyetrika. Untuk menghemat waktu, maka seluruh anggota yang ingin menyetrika, diharuskan untuk menyetrika bagian depannya saja, toh nanti yang bagian belakang tak terlalu kelihatan. Tetapi aku malah menyetrika bagian belakangnya dahulu. Aku tak melihatnya tadi. Langsung ku balik baju yang ada di taman ku lalu aku berusaha untuk menyetrikanya secepat kilat. Karena teman-teman, mbak-mbak, dan mas-mas yang lain sudah pada siap.
Setelah memakai baju, seperti teman-teman lainnya, aku berdandan. Sebenarnya ku bisa saja berdandan jika hanya memakai lipstik dan memakai maskara atau eyeliner, karena itu hanya dasar. Tapi teman-teman dan mbak-mbak yang lain menambahkannya dengan eyeshadow dan blush on. Untuk saat ini, aku menghindari dulu pemakaian itu semua karena aku sedang dalam pengobatan. Jadi aku hanya memakai eyeliner dan lipstikSetelah berdandan, aku bingung demam jilbab ku. Karena jilbab yang dipakai kali ini tak seperti penampilan kami biasanya. Jadi aku sibuk mencari bantuan. Kali ini pakai turban. Aku sendiri tidak ahli dam ijab-hijab seperti ini. Akhirnya Yune pun bersedia untuk membantu.
            Setelah siap, kami turun ke lantai dua menuju meeting hall. Peserta kongres sudah ramai memenuhi stand-stand yang berada di depan meeting hall. Saat sudah sampai di depan meeting hall, kami belum diperbolehkan masuk karena masih ada sterilisasi dari pihak berwenang. Setelah menunggu beberapa menit, kami pun masuk dan langsung menuju belakang panggung. Kami menyiapkan lagu yang akan kami tampilkan di atas panggung nanti. 
            Tak lama kemudian, acara pun di mulai. Pembawa acara yang berada di belakang panggung seperti kami pun mulai membuka acara. Aku heran mengapa pembawa acaranya ada di belakang panggung ya? Wanita bertubuh indah itu pun membuka acara. Sepertinya ia memang pembawa acara profesional. Baju yang ia kenakan pun sangat cocok. Tapi sayang sekali ia tak berjilbab. Ia tak sendiri, ia didampingi oleh panitia perempuan yang melihat gladi kami semalam.
            Kongres PSSI adalah acara besar, acara ini dihadiri oleh delegasi dari persatuan sepak bola Indonesia dari masing-masing daerah. Acara ini juga dihadiri oleh Agum Gumelar. Wah, ini adalah suatu kesempatan yang tak akan pernah ku lupakan dalam hidup. Tampil di depan orang-orang hebat di Indonesia.
Pembukaan berlangsung dengan khidmat. Setelah pembukaan selesai, kami pun kembali ke lantai tiga karena tugas kami sudah selesai. Aku pikir kami akan menyanyikan banyak lagu, tetapi ternyata tidak. Kami hanya membawakan tiga lagu saja. Lagi-lagi Allah menolong ku. Aku belum banyak hafal lagu hiburan seperti manuk dadali, Chaun mi yana, yamko rambe yamko, dan sebuah lagu dari Madura.
Seperti biasa, sebelum pulang, kami foto-foto terlebih dahulu sebagai kenang-kenangan. JW. Marriott adalah hotel besar dan bagus. Kalau tak bagus, tak mungkin akan digunakan sebagai tuan rumah kongres  PSSI. Kami berfoto bersama, selfie, dan aku sendiri menyempatkan diri untuk foto bersama dengan pak Amin, yang dengan ikhlas mendidik kami.
Setelah puas berfoto, aku memutuskan untuk kembali ke ruangan. Ruangan itu sudah sepi. Wah, sepertinya aku adalah orang terakhir yang mengembalikan baju. Aku langsung pergi ke kamar mandi. Dan ternyata mereka banyak juga yang masih beda di sana. Setelah selesai menganti pakian, aku mengembalikan semua inventaris yang ku pakai kepada pengurus.
Nah kan benar, aku menjadi orang terakhir. Tinggal aku sendiri wanita di sini. Pak Amin pun menyuruh ku ikut turun bersama beliau dengan menggunakan lift. Tak hanya aku berdua dengan pak Amin, dalam lift itu juga ada mas Alfan, mas Amron, mas Roni, mas Dana, mas Dicky, juga mas Hilmy.
Aku pun lebih cepat sampai dibandingkan teman-teman lain yang memilih untuk turun dengan menggunakan tangga. Kali ini kami pulang, tak lagi menggunakan angkot. Kami telah ditunggu oleh bis. Setelah menunggu sebentar, pak Amin masuk ke dalam bis. Bis pun berjalan keluar. Saat keluar dari gerbang, pak Amin menyuruh kami untuk melihat ke sebelah timur. Di sana kami melihat Bonek (Bocah Nekat, Suporter Persebaya) sedang melakukan aksi demo. Jumlah mereka tak  sedikit. Sangat banyak sekali. Seperti semut jika dilihat dari kejauhan. Mereka memakai kostum andalan mereka, yaitu baju hijau. Ya, Bone memang identik dengan warna hijau.
Di perjalanan pulang ini aku baru menyadari, betapa jauh jarak yang ku tempuh dari kampus menuju hotel JW. Marriott. Ada sekitar sepuluh kilometer. Kami menghabiskan waktu setengah jam untuk itu karena jalanan sedang padat. Lagi-lagi aku ketiduran di dalam bis. Mungkin ini karena efek tidur dua jam setengah tadi malam.
Sesampainya di kampus, kami langsung menuju tempat latihan seperti biasa, di fakultas Ushuluddin. Sambil menunggu konsumsi, kami melakukan evaluasi. Evaluasi penting bagi kami agar kesalahan-kesalahan yang terjadi hari ini tak terulang kembali di penampilan yang akan datang.
Setelah evaluasi, kami makan siang bersama. Kemudian anggota diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya aku di kamar, aku langsung belajar untuk ujian tafsir hari senin nanti.
Sore harinya aku berlatih pidato untuk lomba nanti malam di asrama putra. Ini pertama kali aku pegang teks. Padahal lomba sudah diberitahukan dari dua minggu sebelumnya. Setelah latihan, aku pun menghafal teks, lalu salat magrib dan setelah itu pergi ke asrama putra untuk mengikuti lomba. Aku baru hafalan bukan karena aku merasa aku pintar dan meremehkan lomba ini. aku hanya mencoba mencari waktu yang luang, namun belum ku temukan waktu luang itu.
Aku mendapat giliran nomor enam. Setelah tiba giliran ku, aku sempat gemetaran. Tapi aku netralisir itu semua dengan senyum yang merekah di bibir ku. Alhamdulillah akhirnya  selesai juga. Hasilnya, aku serahkan semuanya kepada Tuhan.
Senin 04 Mei 2015
Saya ini lebih mencintai kamu dibanding bapak kamu” tepat pukul 11.20 prof. Ali Aziz mengatakan ini kepada teman ku, Rifa’i. Saat ia selesai membacakan sebuah ayat yang pernah kami bahas dalammata kuliah tafsir BKI ini.
Sabtu ini, kami akan ujian tahfidz.
“Oke besok Sabtu jam setengah delapan” kata ustad Ainul Yaqien pagi ini
“Lah, kuliahnya di mana toh?” tanya prof. Ali
“di mesjid ustad” jawab kami serempak
“Sekali-sekali ke rumahnya ustadnya gak apa-apa toh. Boleh kan ustad?” tanya prof. Ali kepada ustad Ainul Yaqien kemudian
“Gak apa-apa ustad” jawab ustad Ainul Yaqien
 “Gak papa donk. wong kamu timbanya ustadnya sumurnya. Masa sumur yang datangi timba. Malahan nanti di sana dapat  teh hangat” lanjut prof. Ali kemudian yang disambut dengan tawa penduduk kelas pagi ini.
Sabtu, 09 Mei 2015
            Ku Persia kan matang-matang untuk ujian kali ini. walaupun suara ku bukan tipe-tipe suara qiraah, aku berusaha semaksimal mungkin dalam tahfidz. Telah ku coba untuk meniru lagu-lagu dari beberapa teman yang aku dengar, namun tetap saja aku telah terbiasa dengan lagu ciptaan ku sendiri.
            Selepas salat subuh, aku langsung memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, aku kembali me-murajaah hafalan ku untuk ujian hari ini. Tepat pukul 07.00 pagi aku dan teman-teman berkumpul di mesjid untuk pergi ke rumah ustad Ainul Yaqien bersama. Tak lama menunggu, angkot yang akan kami tumpangi pun datang. Satu angkot untuk putra dan satu angkot lagi untuk putri.






Senin, 18 Mei 2015
            Layaknya secangkir kopi, kehidupan selalu memiliki dua sisi. Baik dan buruk, manis dan pahit, di atas dan di bawah, dan dua sisi lain yang saling berkaitan. Kehidupan juga hanya memberikan dua pilihan. Ya atau tidak. Itu semua kembali kepada diri sendiri mau mengambil kesempatan itu atau tidak.
            Hari ini aku sangat sangat menyesal. Ingin ku menangis tujuh hari tujuh malam rasanya. Tapi aku sadar, bahwa itu adalah kesalahan ku sendiri. Aku tak mengambil kesempatan emas itu. Karena apa? Minder? Ya Tuhan. Jujur saja aku selalu berhasil menitikkan air mata setia mata kuliah prof. Ali ini. entah karena terharu atau menyesal. Hidayah Tuhan sepertinya memang diturunkan lewat profesor hebat yang satu ini.
            Aku selalu berusaha menguatkan diri bahwa aku bisa. Tapi aku masih belum tahu bagaimana cara mengembangkannya. Sepertinya aku butuh pembimbing. Bagaimana cara untuk menjadi istimewa? Aku tahu Tuhan tak diam. Aku percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan dan merencanakan yang terbaik untukku.
            Ya tuhan, Aku menyesal penyesalan yang dalam. Tapi aku tak tahu mengapa aku tak semenyesal ini ketika aku sadar bahwa aku telah berbuat maksiat. Ampuni aku Tuhan. Sungguh aku ingin selalu menghadirkan-Mu dalam hati dan diri ini. Maaf Tuhan aku terlalu egois. Aku lebih mementingkan keinginan ku ketimbang apa yang aku berikan kepada-Mu.
            Kembali aku tersadar bahwa menyesal saja tidaklah cukup. Aku tahu aku harus bangkit. Banyaknya kekurangan dalam diri ini, harus bisa  tertutupi oleh kelebihan yang aku punya. Aku malu pada mereka yang usaha dan hasilnya lebih besar daripada yang aku hasilkan.
            Lagi-lagi permasalahan muncul dalam retorika. Kisah yang sederhana jika dikemas dalam retorika yang indah akan menjadi kisah yang istimewa. Ku akui, kisah yang diceritakan Nadia pada pagi hari ini memiliki retorika dan gaya bahasa yang cukup indah. Aku juga sadar bahwa keindahan Tuhan yang diturunkan lewat Nadia ini adalah karena jam terbang yang ia miliki cukup  banyak. Gadis cantik yang berasal dari Garut ini memang suka menulis. Ia sudah beberapa kali menulis cerpen yang kemudian dimuat dalam buletin bulanan yang diterbitkan oleh organisasi CSSMORA.
            Tips menghilangkan ngantuk ala Nisa:
1.      Membiasakan diri untuk istirahat secukupnya
2.      Bikin kopi
3.      Jika dirasa rasa kantuk menghampiri, tinggalkan sejenak pekerjaan, lalu berjalan-jalan sejenak untuk menghilangkan kejenuhan
4.      Melanjutkan aktivitas dengan kembali membaca basmalah
5.      Selamat mencoba
Indahnya terima kasih
Sering kali kita menyepelekan dua kata sederhana ini. Padahal makna terima kasih ini sangatlah dalam. Mungkin bagi sebagian orang biasa saja. Tapi untuk saya sendiri, saya lebih menghormati dan menyayangi orang yang sering berterima kasih. Jika kepada manusia saja ia malas untuk berterima kasih, bagaimana  ia berterima kasih kepada tuhannya.
Dengan terima kasih juga, kita bisa melihat kepribadian seseorang. Kita bisa melihat seseorang dengan cara bagaimana sikapnya ketika diberi sesuatu. Apakah ia cuek saja, atau malah mengapresiasi. Dengan terima kasih juga, kita bisa mengetahui bagaimana seseorang menghargai sesuatu.
Mirisnya, masih banyak penceramah yang tidak mengucapkan terima kasih kepada panitia. Malahan sering kali panitia yang mengucapkan terima kasih. Padahal, jika penceramah tidak diundang oleh panitia, maka penceramah belum tentu bisa seterkenal itu. Dengan undangan panitia juga, penceramah bisa membagi ilmu yang ia punya kepada . Bukankah ilmu akan sempurna jika dipelajari, dipahami, diamalkan, dan dibagikan? 
Jadi, berterima kasih itu penting. Selain itu bisa mencerminkan kepribadian, berterima kasih juga bisa menjadikan orang lain senang. Senang kenapa? Senang karena merasa bahwa ia dihargai. Tak ada susahnya mengucapkan atau menuliskan  dua kata itu. Oleh karena itu, mari membiasakan diri berterima kasih.
Selasa, 19 Mei 2015
            Entah mengapa pagi ini aku merasa lebih bersemangat dari biasanya. Dresscode hari ini adalah hijau tosca. Aku memiliki janji dengan Dinda bahwa kami akan memakai baju yang sama untuk hari ini.
            Aku memang terbiasa untuk jalan cepat. Entah keahlian turunan dari siapa ini. Aku memang memiliki tinggi lebih dari mbak, mama, dan abah ku. Aku adalah wanita tertinggi di rumah. Tertinggi di sisi, bukan berarti pemilik kekuasaan tertinggi. Pemegang kekuasaan tertinggi tetaplah abah dan mama ku.
            Aku memiliki tinggi yang hampir sama dengan kedua mas kembar ku. Bahkan tinggi kami melebihi tinggi baja dan mama ku. Gen yang diturunkan kepada kami ini sepertinya adalah gen dari orang tua abah atau mama kami.
            Sesampainya aku dan Rafikah di fakultas, jam dinding yang tergantung di depan pintu telah menunjukkan pukul 06:30. Selalu seperti itu. Hanya satu kali kami datang tepat waktu, jam 6 pagi. Yaitu pada saat akan Ujian Tengah Semester mata kuliah intensif bahasa Arab. Kami berangkat pagi-pagi karena khawatir akan tertinggal ujian Al-Istima’ yang tak akan diputar dua kali dalam satu ujian.
“Nah kan fik, jam segini lagi kita datangnya”
“Iya ya sa. Waktu UTS itu aja kita gak telat”
“Malu fik, tapi ini aja udah dicepetinapa-apanya dari sana”
“Iya sih sa. Kapan ya kita gak telat lagi”
“Ya gak boleh telat lagi fik pokoknya. Hehhe ”
Intensif pada pagi itu juga terasa lebih menyenangkan daripada hari-hari sebelumnya. Pagi ini aku mampu mengartikan pertanyaan yang ditujukan kepada ku. Jujur saja, biasanya aku masih dibantu oleh Rafikah untuk mengartikan beberapa kata yang masih asing di telinga ku.
Sepulang dari intensif, Mizan mengingatkan ku akan pembagian majalah Naturalist kami yang telah terbit. Aku kebagian untuk membagikan majalah ke fakultas Ushuluddin dan UKM Pramuka. Sebenarnya aku membagikannya dengan Febi. Namun karena Febi sedang sakit pagi ini, dengan senang hati Dinda membantuku untuk membagikan majalah ke fakultas Ushuluddin. Setiap fakultas mendapat jatah 10 majalah. Satu buah untuk dekan, tiga buah untuk ruang dosen, dan sisanya untuk mahasiswa yang kami temui.
Pagi ini aku belum menemui dekan. Wakil dekan pun sedang tidak berada di ruangan saat kami ke sana. Entah kami yang terlalu pagi, atau jadwal dekan dan wakilnya yang sangat sibuk atau apa. Sebelum masuk ke kelas selanjutnya, aku aku mencoba untuk pergi ke sana lagi, tapi hasilnya tetap sama. Sang dekan sedang tidak berada di ruangan. Aku pun memutuskan untuk mencoba lagi esok hari. Karena siang ini aku harus menghadiri rapat kerja ke-tiga pengurus CSSMORA 2015-2016 di Delta Fishing, Sidoarjo.
Sebenarnya aku dan teman-teman putri sendiri masih belum mendapatkan kabar yang jelas mengenai raker ke-tiga ini. Hal ini dikarenakan kami yang harus pulang duluan pada saat raker ke-dua tadi malam karena peraturan yang telah ditetapkan oleh asrama, yaitu para mahasantri harus kembali ke asrama sebelum jam 9 malam.
Sepulang kuliah siang itu pun kami memutuskan untuk salat zuhur terlebih dahulu sebelum berangkat, karena kami mengira bahwa kami akan berangkat setelah zuhur. Ternyata rencana kakak-kakak pengurus yang lain, kami akan salat berjamaah di tempat tujuan. Walhasil, kami menjadi terlambat dan membuat kakak-kakak pengurus yang lain harus menunggu kami. Di situ kadang saya merasa sangat tidak enak.
Di dalam kendaraan pun aku terus menciba untuk mencairkan suasana. Aku bukan termasuk tipe-tipe wajah tanpa dosa, aku hanya ingin keadaan kembali seperti semula. Kebetulan aku satu angkutan dengan kakak-kakak yang mayoritas laki-laki, ini pun karena keterlambatan kami tadi, ya biasanya kalau laki-laki tidak terlalu emosi. Karena tak mungkin juga mereka tega menampakkan rasa amarahnya kepada kami yang perempuan. Kami Sara diri kok, kami khilaf, dan tak ingin mengulanginya lagi.
Setelah setengah jam berada di dalam angkot dan dengan kondisi lalu lintas yang adat-lancar, Alhamdulillah akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan yaitu Delta Fishing. Kakak-kakak pengurus yang beku menunaikan salat zuhur tadi pun langsung menunaikan kewajibannya. Setelah itu pun kami berjalan menuju aula tempat wisata tersebut. Selain tempat wisata, tempat ini pun juga dapat digunakan sebagai tempat wisuda anak taman kanak-kanak. Buktinya saja pada saat kami datang, background yang ada dalam ruangan tersebut bertuliskan “Perpisahan dan pelepasan siswa-siswi PPT Anggrek tahun 2014-2015”. Dan sayangnya lagi, kami tak membawa banner. Hasilnya, kami pun rapat kerja terakhir dengan suasana TK seperti ini.

Walaupun dengan suasana seperti itu, kami harus tetap mengkondisikan diri dan suasana agar raker berjalan dengan khidmat dan lancar. Udara di sini sangat sejuk, walaupun berada di tengah kota, tempat ini mampu mengarahkan angin sejuk bertiup ke arah kami. Karena di setiap sudut di ruangan ini telah tersedia kurang lebih enam kipas angin besar. Hehe.
Rapat kerja ke-tiga ini kurang lebih berlangsung selama 3 Jam 30 menit. Rapat ke-tiga ini berfungsi sebagai pengesahan seluruh program-program kerja yang telah dibuat dan dirapatkan oleh masing-masing departemen. Untuk CSSMORA UIN Sunan Ampel sendiri, memiliki 35 program kerja.
Setelah semua program kerja disahkan, kami pun makan siang bersama. Para pegawai Delta Fishing sudah mulai mondar-mandir membawa makan siang dan menaruhnya diatas meja. Pemandangan ini jelas mengganggu dan membuyarkan konsentrasi kami. Namun tak lama setelah itu, rapat pun selesai.
Karena ini adalah wisata pemancingan, maka menu utamanya adalah ikan bakar. Alhamdulillah sekali untuk hari ini. Jujur saja, aku sudah lama menginginkan makan ikan bakar, dan Alhamdulillah hari ini kesampaian. Terima kasih Tuhan. Lelah rapat akhir-akhir ini terbayarkan.
Setelah makan siang bersama, kami pun membubarkan forum. Ketua pengurus memberikan waktu sampai jam 16.30 untuk jalan-jalan dan hunting di sekitar pemancingan. Aku yang notaben selalu tak ingin kehilangan momen, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku dan teman-teman angkatan 2014 yang terpilih menjadi pengurus pun mencari tempat yang bagus untuk foto bersama. Setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tak terasa jam telah menunjukkan pukul 16.30. Tak lama kemudian terdengan pengumuman “Pengunjung Delta Fishing yang berbahagia, jam telah menunjukkan pukul 16.30. Dengan tempat wisata pun akan segera tutup. Bagi pengunjung yang masih berada di dalam kawasan wisata, diharapkan untuk segera meninggalkan tempat. Terima kasih”.
Kami pun segera meninggalkan tempat dan menuju mushola yang berada di luar tempat wisata dan menunaikan salat asar di sana. Beberapa orang putri memilih untuk mampir ke beberapa toko di sekitar tempat wisata yang menjual aneka cemilan dengan harga terjangkau. Dengan sepuluh ribu rupiah, pembeli boleh memilih empat camilan yang diinginkan.

            Rabu, 27 Mei 2015
            Hari ini penutupan festival Paduan Suara dan Qasidah yang diselenggarakan oleh UKM Paduan Suara Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Acara ini diketuai langsung oleh mas Amron Nuskhi dalam bidang kepanitiaan. Kepanitiaan ini sendiri dibentuk kurang lebih tiga bulan sebelum hari H. Padahal untuk acara festival yang ruang lingkupnya cukup luas, yaitu se-Jawa Timur, harusnya kepanitiaan telah terbentuk minimal lima bulan sebelum hari H.
            Sebenarnya kami sadar, akan tetapi bagaimanapun festival ini harus tetap dilaksanakan. Tahun lalu festival ini tidak dapat terlaksana karena paduan suara sendiri sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengikuti lomba di Singapura. Oleh karena hal itu, maka festival untuk tahun ini benar-benar harus dilaksanakan. Walaupun dengan waktu yang relatif singkat ini, acara festival tahun ini harus sukses.
            Hal itulah yang membuat kami, panitia sangat bersemangat untuk menyukseskan festival ini. Dalam seminggu kami bisa rapat dua kali dengan waktu dari ba’da magrib sampai paling cepat jam setengah sepuluh malam. Dan setiap hari rabu malam, kami mengadakan istigatsah bersama untuk memohon Ridha Allah serta memohon kelancaran acara besar kami kali ini.
            Lomba festival ini berlangsung selama dua hari yaitu pada tanggal 26-27 Mei 2015 yang bertempat di gedung Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya. Tanggal 26 untuk lomba kasidah dan tanggal 27 untuk lomba paduan suara sekaligus pengumuman pemenang. Untuk kasidah sendiri memiliki dua kategori yaitu remaja dan ibu-ibu. Sedangkan untuk paduan suara, hanya untuk kategori SMA/MA sederajat.
            Jujur saja aku terpesona oleh peserta paduan suara dari SMK PGRI Malang. Dengan dress code biru dan ungu, mereka terlihat sangat elegan. Penampilan mereka juga sangat patut diacungi jempol. Aku sendiri akan memberi 10 jempol jika aku memiliki semua jempol itu, sayangnya aku hanya punya dua dan aku bersyukur akan hal itu.
            No body perfect, itu pasti. Setiap grup pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Tuhan pasti akan menutup kekurangan dengan kelebihan. Koreografi dan kostum yang rapi, cukup untuk menutupi suara mereka yang ku rasa belum mencapai tingkat halus. Untuk aku yang masih awam tentang dunia musik ini, hanya memiliki penilaian seperti itu. Tak seperti juri yang sudah kompeten di bidang ini,mereka menjelaskan secara detail apa saja yang masih kurang dari penampilan mereka.
            Untuk hari ini sendiri, Alhamdulillah aku bisa stay di auditorium sejak acara dimulai sampai acara selesai dan evaluasi. Jujur saja, kemarin aku hanya mampir sebentar dan tidak mengikuti acara sampai selesai dan tidak pula menghadiri evaluasi yang tak pernah absen dari setiap agenda dan acara yang kita lalui.
            Dalam evaluasi kali ini, aku sangat sadar bahwa aku hanya mampu melakukan pekerjaan dan membantu semampu dan setahu ku saja. Aku sangat sadar sekali sebelum mas Dana menyampaikan evaluasinya. Jujur saja, dalam divisi DPA sendiri, komunikasi internal tidak begitu terjalin. Jadi terkesan bahwa hanya mas Dana saja yang bekerja. Aku sendiri  sebagai junior belum terlalu paham akan job discription divisi ku. Ini adalah pertama kalinya aku dimasukkan ke dalam divisi DPA dalam kepanitiaan.
            Tapi aku tak menyesal atau marah. Justru aku harus banyak bersyukur karena banyak ilmu dan pelajaran yang dapat aku ambil di  sini. Aku harus bersyukur kepada Tuhan bahwa aku telah diberikan kesempatan ini, yang orang lain belum tentu bisa mendapatkan dan merasakannya. Hal itu yang lalu aku jadikan motivasi untuk mendongkrak semangat ku. Kesempatan hanya akan datang pada orang-orang tertentu dan tidak akan datang dua kali.
            Di sini juga aku belajar untuk mengemban amanah dengan baik. Aku percaya bahwa Tuhan memberikan ini karena Tuhan tahu aku mampu. Aku jadi teringat kejadian tadi siang. Tadi siang koma ku, Faisal mengumumkan pembentukan panitia untuk acara rodi BKI tanggal satu bulan Juni ini. Dan aku diberi amanah lagi untuk menjadi ketua panitia. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? Aku sendiri tak tahu atas dasar apa mereka memilih ku untuk menjadi ketua panitia. Kuatkan aku Tuhan, aku tahu Engkau selalu pasti memiliki maksud atas semua ini. Mampukan aku Tuhan.
“Tak hanya latihan, tampil, latihan, tampil. Dengan event-event seperti ini kita semua bisa tahu bagaimana bisa hidup dengan orang banyak. Dan tak dapat dipungkiri bahwa sebagai makhluk sosial, manusia pasti membutuhkan manusia untuk tetap hidup. ” Itulahyang dikatakan mas Hilmy, ketua UKM Paduan Suara Mahasiswa pada evaluasi malam hari ini. Tepat setelah magrib, auditorium yang kami gunakan telah kembali bersih seperti sedia kala.
            Pada saat bersih-bersih seperti ini, aku jadi teringat rumah. Sebagai seorang perempuan, aku memang harus banyak belajar untuk hal-hal seperti ini sebagaibekal aku berumah tangga nanti. Lagi-lagi aku harus berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan. Aku berharap lelah yang ku rasakan tak hanya sekedar lelah. Aku harap lelah ku lelah yang berkah dan bermanfaat.
Sembari menunggu panitia yang lain berkumpul, teman ku yang ganteng dari Pontianak, Alghifary menjadi korban bully sepertinya sore ini. Mbak Erlin, senior kami terus menggoda Alghi. Tak lama kemudian mbak-mbak senior seperti mbak Didin dan mbak Lia turut menggoda Alghi. Godaan itu selalu saja mengundang tawa panitia yang lain. Bahkan mas Hilmy, ketua paduan suara kami pun turut tertawa. Bonusnya, mbak-mbak yang godain Alghi tadi kebanyakan berasal dari suara sopran.
“Kamu sopran dek?” tanya seseorang yang duduk di belakang ku, yang ternyata mas Agung
“Iya mas” jawab ku
“Ntar jangan kayak itu juga ya dek” candanya kepada ku lantas kami tertawa bersama
“Hahaha nggak mas. Kami udah kebal. Kami Bush punya penyangkal. Udah bosen sama Alghi” balas ku
“Hahaha onok-onok ae deeek dek” katanya kemudian
Evaluasi pun akhirnya dimulai tepat pukul 19.00 dan berakhir pukul 21.15 Waktu Indonesia Barat. Tanpa basa-basi dan menunggu waktu waktu lagi, aku dan teman-teman yang tinggal di pesmi lainnya langsung pamit mohon izin kepada pak Amin Lubis selaku pembina paduan suara ini.
Dengan setengah berlari, akhirnya kami pun sampai juga di depan banguunan setinggi lima lantai itu. Pintu depan telah tertutup dan dikunci. Padahal jam 21.00 tadi aku telah mengirim sms permohonan izin pulang agak terlambat, untuk pengurus bagian keamanan.
Tak lama kemudian mbak Sisil, pengurus bagian keamanan pun turun untuk untuk membukakan kami pintu. Aku tak sendiri. Dari teman-teman paduan suara aku bersama Umi Kalsum dan Sawitri, kemudian kami bertemu dengan Rizki, mbak Zakiyah dan Devi di depan pintu pesmi. Mereka baru pulang dari rapat organisasi yang menaungi mereka.
Bukan pertama kalinya aku seperti ini. Latihan yang terkadang hampir sampai larut malam membuat kami pulang terlambat. Sebenarnya kami merasa tak enak kepada pengurus. Tapi ya bagaimana lagi.  Kami berada di posisi yang terjepit. Tak hanya karena latihan, terkadang ada rapat organisasi yang selesainya lewat dari jam 9 malam.
Aku pun langsung menuju kamar ku. Niatnya sih hanya ingin merebahkan diri dan merenggangkan otot yang lelah dituntut bekerja satu hari penuh. Lagi pula aku belum menunaikan kewajiba salat isya’ ku hari ini. Tapi, aku malah tertidur dan Tuhan memang Maha Baik, Tuhan membangunkan ku tepat pukul 12 malam. Aku memutuskan untuk mandi kemudian menunaikan salat isya’.
“Krucuk krucuk” perut ku meminta haknya. Aku teringat bahwa aku belum ada makan hari ini. Selepas salat isya’ aku memenuhi hak perut ku. Sangat janggal sekali rasanya makan sendiri di tengah malam saat orang lain tertidur pulas.
Setelah makan, aku tak merasakan kantuk sedikit pun. Aku memutuskan untuk melanjutkan tugas menulis ku dari Prof. Ali Aziz yang mengharuskan setiap mahasiswa di kelas ku untuk menulis 50 halaman. Tulisan ku sendiri masih kurang 12 halaman dengan deadline akhir Mei. Aku yakin yakin yakin aku pasti bisa bisa bisa.
Dengan ditemani lagu-lagu kesukaan ku, lincah sekali jari-jari ku malam ini. Sebenarnya banyak hal yang ingin aku tuang dalam tulisan ini, tapi ada saja halangan untuk menulis. Entah kegiatan ini itu, kewajiban ini itu. Tapi di sinilah letak tantangannya. Semakin tua harusnya aku semakin bisa membagi dan menggunakan waktu dengan setumpuk kegiatan yang aku punya.
Tepat pukul 02.30 alarm teman sekamar ku berbunyi. Pemiliknya pun sempat terbangun dan mematikan alarm. Dari gerak tubuh dan cara ia mematikan alarm, sepertinya ia memutuskan untuk tidur lagi. Dugaan ku benar. Tak lebih dari lima menit setelah ku palingkan pandangan ku dari laptop, telah ku lihat ia kembali tertidur pulas.
“Kriiing Kriiiing Kriiing Kriiiing” yang ini suara alarm ku. Aku memang selalu memasang alarm jam 03.00. sebenarnya ingin sekali aku melanjutkan tulisan ini. Tapi kepala ku sepertinya tak bisa diajak kompromi pagi ini. Mungkin ia lelah. Padahal nanggung sekali sebentar lagi subuh akan tiba. Aku pun mengambil langkah memasang alarm jam 04.00. kemudian aku pun mengistirahatkan tubuh ku lagi.
Kamis, 28 Mei 2015
05.10
Aku dikejutkan oleh semburat oranye yang dengan gagahnya menyinari langit pagi hari ini. aku berlari menuju kamar mandi untuk berwudu. Ku kejar subuh ku yang semoga masih diterima Allah pagi ini. Ya Tuhan, sungguh bukan aku yang menginginkannya. Terlalu banyak setan yang menggoda dan merasuki mimpi ku pagi ini. Aku tak ingin mengulanginya lagi Tuhan.
            Setelah salat subuh, aku langsung bersiap-siap untuk pergi intensif. Mandi? Itu sudah pasti. Masa iya cewek gak mandi. Dengan berbekal roti yang diberikan tadi malam, aku mengganjal hak perut ku pagi itu. Tak lama kemudian Rapikah datang ke kamar menjemput ku untuk berangkat bersama.
            Di tengah perjalanan menuju fakultas, aku teringat akan tugas menulis sinopsis film yang kemarin diputar oleh dosen intensif ku. Sebenarnya tugas itu telah ku kerjakan sewaktu evaluasi tadi malam, tapi aku tetap berharap bahwa tugas itu tidak dikumpulkan. Bukan karena aku tidak percaya diri akan tiga ku, tetapi sepertinya lebih baik jika pagi ini diisi dengan tips-tips mengerjakan TOEFL seperti hari-hari biasanya.
            Seperti yang kita ketahui bersama, mengerjakan TOEFL bukan Lay hal yang mudah. Mungkin akan terasa biasa saja bagi sebagian orang yang menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Dengan waktu yang relatif singkat dengan pertanyaan lebih dari 100. Siapa yang tidak mblenger? Padahal sejak sekolah dasar sampai aliah, aku sangat menyukai pelajaran ini. tetapi, entah mengapa saat aku dipertemukan oleh kelas TOEFL, aku selalu merasakan gelisah. Apakah ini cinta? Bukan. Bukan cinta. Aku baru akan mencoba untuk mencintai kelas ini. 
Aku makin cinta jurusan ku
Jum’at 29 Mei 2015
            Lagi-lagi insomnia ku kambuh. Aku terjaga sampai jam 01.00 dini hari tanpa tidur sebelumnya. Entah apa yang aku kerjakan. Alarm ku yang ku setel jam 03.00 pun tak mampu membantu membangunkan ku. Ku lihat jam di layar smartphone ku menunjukkan pukul 04.45. lalu ku Lahat mbak Riska masih bersiap untuk mendirikan salat subuh.
“belum salat mbak Ris?”
“Blm mbak” jawabnya kemudian
“Tunggu bentar ya” balas ku
            Aku pun mengambil air wudhu lalu mendirikan salat berjamaah dengan mbak Riska. Pada rakaat pertama ia membaca surah Asy-Syams, surah favorit yang biasa ku baca pada saat salat subuh. Dan di rakaat kedua biasanya aku membaca surah Ad-Dhuha
            Setelah salat, aku berencana untuk mencuci semua pakan kotor ku. Akan tetapi, niat  hati hanya ingin merenggangkan otot di kasur kesayangan, eh malah ketiduran. Pada saat terbangun lagi pukul setengah 6 pagi, aku langsung melawan rasa malas dan kantuk ku dengan mengambil handuk, peralatan mandi, dan pakaian yang ingin dicuci lalu pergi ke kamar mandi.
            Dua jam lamanya aku bertahan di kamar mandi. Pakaian kotor ku memang lebih banyak dari biasanya minggu ini. Mungkin ini dua kali lipatnya. Untuk masalah baju, dalam sehari aku bisa dua sampai tiga kali ganti baju. Tak betah rasanya jika memakai baju yang sama seharian. Apalagi minggu ini aku sedang padat-padatnya kegiatan. Mulai dari festival, sampai persiapan konseling spiritual.
            Selesai mencuci, pasti aku langsung mandi. Setelah mandi dan menjemur pakaian, aku sarapan dengan Dinda. Kami sarapan bersama di kamar ku yang luasnya sekitar 6x6 m2. Setelah itu, kami pun berpakaian untuk kuliah pagi ini.
            Kuliah pagi ini akan diisi oleh pak Agus Santoso, selain menjadi kepala jurusan, pak Agus juga pengelola PBSB untuk fakultas Dakwah. Tak seperti biasanya, setelah presentasi kali ini, peserta diskusi tak diperkenankan untuk bertanya. Malahan kami yang ditanya oleh pak Agus. Beliau memberikan sepuluh pertanyaan yang cukup dijawab benar atau salah.
            Pembahasan pagi ini adalah terapi Realitas. Setelah presentasi dan kuis, pak Agus ingin penutupnyakami tak hanya paham teorinya saja. Oleh karena itu, kami langsung praktek untuk teori realitas ini. mulai dari attending sampai penutup.
            Kursi-kursi kuliah yang ada  di dalam kelas pun sudah dikondisikan menjadi berhadap-hadapan. Seluruhnya berjumlah 3 baris berpasangan konselor dan klien, jadi semuanya menjadi 6 baris. Di sesi pertama, aku berhadapan dengan Nadia. Di sini, aku menempati posisi sebagai konselor. Sempat janggal rasanya jika pada saat seperti ini aku yang menjadi konselor. Karena jujur saja, saat ini justru aku yang sangat membutuhkan konselor. Akhir-akhir ini aku merasakan perubahan yang ada pada diriku. Teman ku pun sempat heran dengan ku akan perubahan ini. Untung saja sesi pertama ini hanya praktek attending.
            Setelah itu posisi klien bergeser ke kanan, dan kali ini pasangan ku adalah Fiska. Pada sesi ini, aku yang menjadi kliennya. Lagi-lagi harus ku katakan bahwa Tuhan memang Maha Baik. Ia tak ingin aku mengekspolarisikan diri ku kepada orang yang salah. Mengapa ku katakan begitu? Bisa ku katakan bahwa Fiska adalah teman dekat. Kedekatan kami berawal saat matrikulasi. Setelah itu, kami sering pergi bersama. Entah untuk makan, membeli sesuatu, atau untuk menyegarkan otak. Kami menceritakan apapun. Bahkan untuk masalah hati, ia tak canggung untuk menceritakannya pada ku. Terkadang Fiska seperti menjadi mbak ku saja. Aku menanyakan apa-apa ke dia. Dari hal berpakaian hingga memutuskan sesuatu misalnya saja saat aku ingin membeli barang atau apa dan apakah kegiatan ini aku ikuti atau tidak.
            Dengan lancarnya aku mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiran ku akhir-akhir ini. Hingga aku tak segan ataupun malu menitikkan air mata di hadapannya. Sebenarnya aku sendiri tak mengerti apa yang ku rasakan hingga menangis seperti itu. Sedih tidak, senang pun tidak. Entah syndrom apa ini.
            Saat berada di depan teman-teman, aku seperti tak merasakan apa-apa. Malahan aku yang sering berusaha keras untuk membuat mereka tersenyum bahkan tertawa. Ini bukan paksaan. Aku tak merasakan bahwa ini adalah paksaan agar aku melupakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Semua ini mengalir begitu saja. Keadaan ini sangat berbanding terbalik saat aku sendirian, merenung, melamun, dan berpikir. Sampai-sampai aku menangis sendiri. Dan tak seorang pun dari teman ku yang mengetahui hal itu.
            Setelah panjang lebar pak Agus menjelaskan lebih lanjut tentang hal ini, aku pun dikejutkan oleh pertanyaan beliau
“Kamu. Kenapa kamu bisa sampai menangis di hadapan dia?” tanyanya lalu menunjuk Fiska
“Karena saya percaya dia ustadz” jawab ku kemudian
Jawaban dari mana itu? Dari hati mungkin iya. Jujur saja, mungkin jika tadi aku dipasangkan dengan yang lain aku tak akan selepas ini. Walaupun hubungan ku dengan Fiska tak sedekat dulu lagi, aku masih berusaha memegang tali pertemanan ini dengan sebaik-baiknya. Aku selalu berusaha untuk mempertahankannya.
Teknik, cara, dan model pembelajaran yang ada dalam jurusan ini semakin membuatku jatuh cinta pada Bimbingan dan Konseling Islam ini. Selain itu, jurusan ini juga sangat membantu seseorang untuk mengendalikan diri bahkan membantu orang lain dalam hal membantu menyelesaikan masalah, memahami diri, juga mengendalikan emosi.
            Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.26 siang pertanda bahwa perkuliahan harus diakhiri karena kaum Adam akan melaksanakan salat jumat. Materi hari itu pun ditutup dengan membaca do’a dan kafaratul majelis.
سبحانك اللهم و بحمدك أشهد ان الا اله انت استغفرك و اتوب اليك
Maha suci engkau ya Allah. Segala puji bagi-Mu. Tiada tuhan selain engkau. Aku mohon ampun dan aku bertaubat kepada-Mu
            Aku sendiri tak langsung pulang ke asrama siang itu. Aku akan membicarakan tentang acara yang akan diselenggarakan oleh jurusan untuk hari senin, 01 Juni nanti. Dan kemarin, aku ditunjuk untuk menjadi ketua panitia. Amanah sepertinya tak akan pernah lepas dari diri ku. Selalu ada saja hal yang harus aku pertanggung jawabkan. Tuntun, kuatkan, dan sabarkan aku ya Rabb. Aku yakin yakin yakin akan menjalankan tugas dan amanah ini dengan sangat baik. Aku yakin karena aku memiliki Engkau Tuhan ku.
            Aku diingatkan Faisal bahwa nanti siang masih ada mata kuliah Dinamika Kelompok yang dibimbing oleh Pak Basyid jam satu siang. Aku memutuskan untuk tidak pulang ke asrama dan salat serta makan siang di gang dosen. Makan siang hari ini aku ditemani dinda.
            Selesai makan siang dan sembari menunggu teman-teman yang lain datang, aku dan Dinda mendatangi Bu Umi untuk membicarakan masalah konsumsi untuk hari senin nanti. Namun Bu Umi masih berada di luar untuk menjemput anaknya. Teman-teman belum tampak, kami memanfaatkan waktu untuk menggunakan komputer-komputer yang ada di lorong fakultas untuk mengecek blog kami. Tak lama setelah itu, batang hidung teman-teman mulai tampak.
            Namun, seiring teman-teman berdatangan dan kami akan masuk kelas, aku melihat Bu Umi keluar dari laboratorium BKI. Aku dan Dinda pun mohon izin ke Faisal sebagai koma untuk menemui Bu Umi terlebih dahulu. Lagi pula diskusi ini juga tak dihadiri oleh Pak Basyid. Bukan kami meremehkan. Kami khawatir jika tak dapat menemui Bu Umi setelah diskusi takut Bu Umi akan pulang ke rumah.
            Setelah berada di ruang dosen cukup lama dan kebetulan di sana juga ada Pak Agus, langsung saja ku tanyakan konsep acaranya  kepada beliau. Setelah ku rasa cukup jelas, pak Agus menyuruh Kurniawan untuk meminta kunci ruang sidang kepada pak Salim. Setelah itu kami disuruh untuk memasang banner dan membersihkan ruangan. Karena pada saat itu pak Agus juga tahu bahwa diskusi kami siang itu tak dihadiri oleh pak Basyid.
            Pekerjaan itu pun selesai tak lama setelah azan asar. Kami pun mohon izin untuk salat dan istirahat. Rencananya jam setengah empat akan kembali. Tapi sepertinya teman-teman putra banyak yang sedang berada di luar. Ku jelaskan hal itu pada pak Agus. Dan beliau memutuskan untuk melanjutkan persiapan pada ahad pagi.
19.00 WIB
            Waktu yang rencananya akan ku gunakan untuk melipat cucian ku, malah menjadi waktu rapat untuk pembagian tugas dari Bu Yusria pada mata kuliah Pemahaman Individu. Yang ku lihat dari kaum Adam hanya Fikry, Kurniawan, dan Mizan. Teman-teman putri sebagian besar sudah datang semua. “Yang lain pada ke mana ya?” tanya ku dalam hati.
            Beberapa pesan dari grup kami di aplikasi Whats App meramaikan ponsel ku. Seperti biasa, aku langsung membukanya. Dari situ aku dikejutkan bahwa teman-teman putra pas terkunci di fakultas. Pantas saja tadi aku sempat melihat foto yang dikirim oleh Rahmat Hidayat, teman ku yang berasal dari Pangkep duduk di depan banner dan lantai sudah Dalai oleh karpet. Padahal waktu aku tinggal tadi masih belum diberi karpet.
            Aku langsung menghubungi Kurniawan untuk menelpon pak Salim agar pintu fakultas bisa dibuka. Kurni memang sering berhubungan dengan pak Salim karena ia sering menjadi panitia bagian perlengkapan yang secara tidak langsung tugas-tugas itulah yang membuatnya menjadi agak dekat dengan pak Salim.
            Ada 10menit kami menunggu. Tak lama kemudian, teman-teman putra yang  terkunci mulai terlihat berjalan mendekati masjid. Aku dikejutkan oleh pria bertubuh tinggi besar yang kelihatannya sudah tidak asing di mata ku. Dalam keremangan jalan menuju masjid aku terus bermain tebak-tebakan dengan otak ku. Siapa itu siapa itu??
            Sosok itu pun semakin mendekati masjid dan dalam radius 7 meter aku sudah bisa mengenali sosok yang ku maksud. Dia adalah Rafi Fauzan Al-Baqi. Senior ku angkatan 2012. Pintar dalam bidang akademik, tak sombong dan ku akui saja bahwa ia juga memiliki paras yang tampan. Wajahnya sundanya sangat terlihat. Ia memang berasal dari Bandung.
            Aku heran mengapa dia juga ada di sini. Oh iya, kemarin Faisal sempat mendatangi kak Rafi untuk menanyakan tugas yang telah diberikan oleh Bu Yusria. Dan malam ini, mumpung ada kak Rafi di sini, ia akan menjelaskan langsung kepada kami. Dari gaya bicaranya, terlihat jelas sekali bahwa ia adalah orang yang intelek. Pria yang ngefans berat sama Manchester United ini memiliki koleksi buku yang tak terhitung nilainya. Jika referensi yang kami cari tidak ada di perpustakaan, biasanya kami meminjam kepadanya jika ada.
            Jam digital yang tertera di sebelah barat masjid telah menunjukkan pukul 20.53, tandanya kami harus bersiap-siap pulang ke asrama. Sebelum forum dibubarkan, kami harus memanjatkan doa terlebih dahulu agar perkumpulan kami berkah dan bermanfaat.
Mengenang mu
Judulnya saja mengenang mu, aku menjadi teringat tulisan ku pada
Thursday, 2nd of April 2015
I start today with the sickness on my head. I don’t know why. I feel it since last night. This morning, I don’t have anything to eat. Than I force my self to go to campus.
Today we talk about many tips in toefl. Ya, because our final test maybe is toefl test. After finishing intensive class, I have hadits BKI class. Unfortunately I forget to write the hadits. TheI write and searching many explanation about the hadits. And the fortunately one is I finished it before Mrs. Ragwan enter the class.
Then we discuss like the usual. Today I am in 5th club. Last week I amin 4th club. And last week I am being presenter. In talking hadits about iman, islam, and ihsan. I feel very nervous. Because all of presenter before me has good presenting. Jadul and Munir advice me to stay in presenting. They believe that I can. Other believe, why not so do I? Then, my opportunity to present my presenting. I speak fluently Alhamdulillah. After my presentation, one of my friend said that my presentation is very good. I am very grateful for it.
After finishing Hadits BKI lesson, I go back to dormitory. But when I am on the way, I meet sister Fariha calls me and asks me to go to “graha pena” because there futsal competition was held. Ya Allah, I am forget that I am the commite of that competition. Then I go to my dormitory, then I pray. After that I go to “graha pena” without lunch. In fact I don’t have any food since morning.
I feel better than before. Because of that I make my self stronger than before to go there. When I reach GP, I meet my senior in committe. Than I ask for job, what can I do there. Finally, I am not stay too long there because when I come, it’s the last of the competition. And the final is in next meeting. After preparing all of the tools, I go home. Then I get my lunch, after that I let my self to get it’s part (read: take rest). Before that, I go to Fiska’s room. She said that she is after download some films. I try them one by one, and no one of them is perfectly downloaded. Oh My God. What a silly thing.
At 4 o’clock Fiqah, my friend comes to my room and wake me up to join study religion. I ask her to wait me because I have not pray ashar. Then I prepare my self. When I reach my class, my lecture doesn’t come. Then an announcer comes to my class to announce that chief of class meting after finishing the lesson this evening. And after that, Mr. Agus Santoso asks us to join his class. When we reach his class, no chair for us. It means we will sit on the floor. We can say this is discrimination. But it’s okay. We enjoy the class. This evening we talk about Wudhu. From the meaning of it, benefit of wudhu, and some stories that make us more understand about the benefit of keeping our wudhu.
I don’t know why I feel more spirit this evening. Not look like usually. Alhamdulillah. I am very grateful for this spirit.
Tapi entah kenapa malamini tiba-tiba aku rindu pada seseorang yang tak pernah putus untuk memberi ku semangat. Ia bukan hanya seorang kakak angkat. Ia sudah aku anggap menjadi bagian dalam keluarga ku sendiri. Bukan karena ia memiliki rasa pada ku. Bukan karena ia akan menikahiku jika ia tak dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Aku melihat sebuah ketulusan dari dirinya. Sebuah ketulusan untuk “never judge a book from it’s cover”. Sebuah ketulusan untuk menikmati, menghargai, dan memaknai sebuah kehidupan. Ahh, bercerita tentangnya saja sudah lebih dari cukup untuk membuat ku senang. Apalagi jika aku benar-benar bersamanya. Tapi apalah daya seorang manusia yang sangat kecil dan tak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah takdir Tuhan-Nya. Yang kini dapat aku lakukan hanyalah mendoakan, mengikhlaskan, serta mencoba untuk tidak menutup diri.
Ku biarkan jemari ku bertahan untuk mengetik hingga selarut ini. aku tak ingin apa yang ada dalam pikiran ku lenyap begitu saja. Karena cara untuk mengabadikan pikiran adalah dengan cara menuliskannya. Ya aku ingin membuat perjanjian dengan diri ku sendiri bahwa aku akan menulis di setiap harinya, di setiap waktu luang, di setiap kesempatan, dan di setiap tempat dimana aku bisa menulis. Karena aku tahu betapa sulitnya mencari dan mengabadikan sebuah atau bahkan beberapa ide jika hanya mengandalkan otak saja. Bukan aku meremehkan cara kerja otak. Tapi seperti yang kita ketahui bahwa otak pun butuh sarana pendukung untuk membantunya.
            Dia adalah Muhammad Aldy El-Banjary. Aku mengenalnya tepat dua tahun lalu. Tepat pada bulan Ramadhan. Kejadinnya sungguh sangat tidak disengaja. Pagi itu sekitar jam 10 aku membuka percakapan ku dengan adikku yang bernama Rizki melalui aplikasi BBM (Black Berry Mesenger).
“Dink. Di mana?” buka ku
“Maaf, ini bukan  Rizki. Rizkinya keluar” balas seseorang di seberang sana
“Ini siapa ya?” tanya ku kemudian
“Ini Aldy kakaknya Rizki. Ini Nisa kakaknya Rizki di pondok ya?”
“Iya. Loh kok tau?” heran ku
“Ya tau lah. Rizki kan sering cerita” jawabnya lagi
“Cerita apa aja?”
“Ya banyak”
Kami pun mengobrol ke sana ke sini. Obrolan itu pun berlanjut ke hari-hari selanjutnya. Hingga dia menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyukai ku. Hal itu ku ketahui dari Rizki, adikku. Aku menyayanginya sebagai kakak ku. Rasa sayang itu lahir dan tumbuh begitu saja. Tanpa dipaksa.
Rasa sayang ku padanya membuatku menganggapnya seperti kakak ku sendiri. Ini  juga dikarenakan semua saudara kandung ku telah menikah dan hanya aku saja yang belum menikah. Otomatis perhatian dan kasih sayang mereka telah terbagi.
Dissappoint
Bismillahirrohmanirrohim
Surabaya, 4 April 2015
Ku terbangun tepat pukul 2 dini hari.
Aku ingat jika aku belum menunaikan kewajiban ku. Aku belum salat isya’. Ku seret langkah kaki ku menuju kamar mandi untuk berwudu. Kesan pertama yang aku ingat dari Surabaya ini adalah ukuran nyamuknya yang super jumbo. Berbeda sekali dengan nyamuk yang ada di Balikpapan. Mungkin Tuhan membangunkan ku melalui perantara nyamuk itu. Alhamdulillah.
Jika terbangun dini hari seperti ini, aku jadi teringat rumah ku di Balikpapan. Abah ku tak pernah absen untuk qiyamullail. Yang aku heran dan bingungkan adalah, abahku (dapat dikatakan tak pernah) membangunkan kami untuk turut mengikuti jejaknya. Abah hanya membangunkan kami jika azan subuh telah berkumandang.
            Aku ingin menuliskan apa yang ada dalam pikiran seperti apa yang dikatakan oleh Prof. Ali Aziz “Tulis apa saja yang ada dalam pikiran mu”. Sebenarnya dari dulu saya sangat suka menulis. Tapi, menulis buku harian. Aku tak pernah melewatkan sedetik pun untuk tidak menuliskan apa yang terjadi dan apa yang ku rasakan. Teman-teman ku di pondok sampai-sampai memberi ku julukan anak diary. Aku tidak merasa risih dengan julukan seperti itu. Karena aku tidak sendiri. Masih ada beberapa teman ku yang juga suka menulis diary. Tapi tetap, aku yang frekuensi menulisnya lebih besar dibanding teman ku yang lain.
Malam ini aku merasakan kekecewaan. Aku kecewa kepada teman ku, dan juga kepada diri ku sendiri. Aku kecewa pada teman ku karena mereka tidak ingin memberi tahu apa yang telah mereka ketahui. Begini ceritanya. Tadi pagi saya sempat membaca status salah seorang kakak kelas saya yang isinya adalah mengajak para mahasiswa atau siapa saja untuk bergaabung dalam sebuah kelompok bisnis. Nah siang harinya, teman saya yang bernama Fiska di kirimi pesan Black Berry Mesenger oleh kakak kelas yang saya baca statusnya tadi. Sebut saja dia R.  Singkat kata, isi dari pesan tersebut adalah si R mengajak kami (CSS angkatan 2014) untuk berkumpul di sebuah balai RW di daerah Wonocolo.
Saat Fiska menyebar pengumuman tersebut di grup BBM dan WA, saya memiliki firasat bahwa pengumuman ini masih memiliki sangkut paut dengan statusnya tadi pagi. Firasat ini ku simpan sendiri. Tak ku beri tahu pada teman ku lainnya. Nah, teman-teman putra rupanya telah mengetahui kedok MLM ini. Tapi mereka tak mau memberitahukannya kepada kami. Itu yang membuat saya kecewa. Mau ditolak, sudah terlanjur menerima tawaran itu. Kami menerima saja tawaran tersebut karena yang ada dalam benak kami saat itu adalah bahwa pengumuman itu masih dalam pembahasan mengenai organisasi kami yaitu CSS MoRA.
Nasi telah menjadi bubur. Tapi kami harus bisa menjadikan bubur tersebut bubur ayam yang sangat lezat disantap. Kami pun mengatakan kepada R bahwa kami tak memiliki waktu yang lama karena kami ada latihan paduan suara (kami tidak berbohong. Kami memang memiliki jadwal latihan malam ini). Walaupun pelatih kami menunda latihan malam ini, kami tetap meminta Iin untuk pulang. Hal ini kami lakukan gar tak terjerumus dalam hal-hal yang seperti itu. Walaupun dalam balai pertemuan tadi, aku melihat beberapa orang yang aku kenal.
Diantara kami yang pergi, hanya ada satu teman putra yang ikut. Di tempat itu, ia benar-benar seperti menjadi kakak bahkan bapak bagi kami semua. Al Ghifari memang tak seperti biasanya malam ini. ia memang yang selalu bisa membuat keadaan selalu tenang. Tak seperti aku yang gondok luar biasa pada siapa saja diruangan itu. Astaghfirullah.
            Dalam perjalanan kembali ke asrama, kami berpapasan dengan teman-teman putra. Hebatnya, tak seorang pun dari kami yang ingin menyapa ataupun disapa. Rasa  kecewa itu masih tersisa di hati kami. Entah karena kami yang tidak peka terhadap kode di dalam grup atau ah sudahlah.
Ingin rasanya menyegerakan tubuh dan hati yang lelah ini untuk beristirahat. Saking lelahnya, aku pun tidak segera sholat isya’ karena aku mendadak sakit kepala. Akhir-akhir ini aku memang merasakan sistem imun ku melemah. Tapi aku yakin  aku kuat karena aku memiliki Allah yang Maha Kuat.
يا مقلب القلوب ثبت قلبى على دينك
Alhamdulillah
03.03 a.m
Nasi Padang yang tertunda
Senin, 08 Juni 2015
            Hari ini adalah hari ujian bagi para peserta SBMPTN. Aku menjadi semakin bersyukur karena awal perkuliahan ku tak perlu menjalani ujian-ujian seperti ini. Walaupun beberapa dari teman ku pernah menjalaninya, tapi satu tahun lalu aku tak pernah memikirkan bangku perkuliahan. Karena aku merasa bahwa aku akan dipilih dan diri amanah untuk mengabdi di pondok.
            Walhasil, kampus ku harus disterilkan dari kegiatan perkuliahan pada pagi hari ini. Jadi pagi ini dosen bahasa Arab ku hanya menyuruh kami untuk mengisi absensi kehadiran. Setelah itu pada pukul 07.30 pagi dosen kesayangan kami, prof. Ali mengajak kami untuk bertemu di ruang sidang. Mungkin beliau kangenhehe.
            Aku melihat banyak buku dan majalah yang bertumpuk di depan beliau. Sepertinya buku-buku itu akan diberikan kepada teman-teman. Ini salah satu impian ku. Tapi kali ini aku belum bisa mendapatkannya. Sedih sekali rasanya. Ngapain aja aku selama ini? kemana aja?. Pertanyaan-pertanyaan itu yang menyadarkan ku. Menjadi orang-orang pilihan tak membuat hidup ku santai. Aku masih milik negara. Negara telah banyak memberi ku ini dan itu. Tapi apa yang telah ku berikan untuk negara.
            Aku cerdas tapi aku malas. Untuk apa punya otak cerdas tapi malas? Tak ada gunanya bukan? Apa saja yang telah ku perbuat pada otak cerdas ku ini?Wahai Allah, dengan pertolongan-Mu aku akan bisa melawan rasa malas ini. Jauhkan aku dari rasa malas yang bisa saja ia membunuh ku Ya Allah. Matikan aku dalam keadaan ibadah ku yang cukup untuk menghadap Mu dan dalam keadaan kebahagiaan orang tua ku karena prestasi-prestasi yang telah ku hasilkan. Aamiin
Live is give and give, not give and take.Hidup tak perlu menunggu balasan dari orang lain. Beri saja apa yang bisa kita beri. Tak harus materi. Senyuman kecil pun akan membawa kebahagiaan bagi yang melihatnya. Jika dengan senyum saja kita bisa membuat orang lain bahagia, mengapa tak kita coba hal yang lebih besar?
            Mendengarkan teman kita misalnya dan memberinya solusi jika ia perlu dan kita mampu. “Sedekah anda melalui telinga sebenarnya untuk kemuliaan anda sendiri” begitulah kira-kira yang dikatakan prof. Ali Aziz pagi ini.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 komentar:

Posting Komentar

JOHN DOE
+123-456-789
Melbourne, Australia

SEND ME A MESSAGE

Labels

Popular Posts